Daur-II • 227

Tajdid Bèbèk

“Jadi apa sebenarnya maksudmu dan maumu, Toling?”, tiba-tiba Pakde Brakodin terdengar suaranya.

Beliau-beliau para orang tua mendengarkan dengan seksama semua ungkapan para keponakannya. Wajah mereka terkadang tampak bangga. Di saat lain seperti cemas. Atau bertanya-tanya.

“Saya belum mengerti maksud pertanyaan Pakde…”, kata Toling.

“Mungkin maksud Toling begini, Pakde”, Seger mencoba membantu temannya, “Seluruh kehidupan di muka bumi ini yang kita kenal, sepanjang kita hidup, dari kecil hingga tua seperti Pakde Paklik ini, sepanjang wacana sejarah tentang pemikiran manusia yang pernah ada: isi utamanya adalah meniru. Membebek. Mengikuti apa yang sudah terlanjur ada tanpa pertahanan akal dan kemandirian sikap. Sampai peradaban yang katanya pasca-modern inipun sebenarnya mayoritas manusia adalah Muqallidin. Anut grubyug. Ubyang-ubyung. Banyak sesumbar tentang orisinalitas, otentisitas, kreativitas, inovasi, tajdid, pembaruan dan macam-macam lagi. Tapi fakta mainstream-nya para penghuni bumi peradaban modern ini juga hanyalah pembebek-pembebek…”

“Kami rajin datang ke rumah Pakde dan bertemu dengan para Sesepuh semua, karena kami tidak ingin menjadi edisi berikut dari sejarah Muqallidin dari zaman ke zaman, dari era ke era”, Jitul menambahkan.

Kemudian Junit mengutip mengutip kisah dari firman Allah: “Mereka berkata: ‘Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari apa yang kami dapati nenek moyang kami mengerjakannya, dan supaya kamu berdua mempunyai kekuasaan di muka bumi? Kami tidak akan mempercayai kamu berdua’. [1] (Yunus: 78). Di era modern ini semua merasa bukan pembebek nenek moyang. Tetapi faktanya sampai sekarang sebenarnya hanyalah perpindahan dari bebek lama ke bebek yang baru. Tetap bebek juga dari zaman ke zaman. Tajdid Bebek”.