Daur-II • 226

Kebudayaan Yalid
Peradaban Yulad

Toling mengusulkan: “Yang sebaiknya menjadi fokus kita sekarang menurut saya bukan memahami dan menggambar dunia dan kehidupan dunia, melainkan menabung dan memaksimalkan silaturahmi kita dengan Al-Qur`an saja. Untuk persiapan pertanggungjawaban kita kepada Allah, juga syukur-syukur bermanfaat bagi anak-anak dan cucu-cucu kita kelak serta siapapun saja sekarang yang segelombang di sekitar kita…”

Seger menanggapi: “Seingat saya itu memang niat dan motivasi kita sejak awal kita sowan kepada Pakde Paklik”

“Tetapi di tengah proses kita selalu menemukan landasan-landasan baru kenapa pilihan itu kita ambil”, kata Jitul.

“Mungkin Toling punya landasan yang lebih baru lagi untuk itu”, Junit menyahut, “Silakan Ling”

Toling tertawa. “Sebenarnya tidak ada yang baru”, katanya, “tetapi mungkin cara saya merasakannya yang tidak seperti dulu. Atau saya mendapatkan rasa baru dari sesuatu yang tidak baru, yang sudah sejak dulu-dulu menjadi fakta utama dari kehidupan ummat manusia di dunia. Minimal sudah sekitar dua milenium selama ini manusia berada dalam keadaan yang memang tidak bisa diandalkan…”

“Belum jelas, Ling”, Seger menyela.

“Maksud saya, kebanyakan manusia di bumi ini sejak berabad-abad silam sampai sekarang memegang suatu jenis pemahaman ilmu yang lucu. Itu membuat iman mereka juga lucu, kepercayaan mereka juga lucu, kemudian seluruh aplikasi cara hidupnya, kebudayaannya, kehidupan bernegaranya dan apa saja juga lucu”

Toling merujuk ke firman: “Mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang hal itu, begitu pula nenek moyang mereka. Alangkah jeleknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka; mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali dusta.[1] (Al-Kahfi: 5)

Kemudian disebutnya juga Surat Al-Ikhlas: “Lam yalid wa lam yulad“.

“Apa yang bisa kita harapkan dari miliaran manusia di muka bumi yang bisa meyakini bahwa Tuhan itu bisa dilihat, bisa digambar, dipatungkan, bisa dibunuh, bisa mengalami apapun saja yang dialami oleh makhluk-makhluk”, Toling menjelaskan lebih lanjut, “apa manfaatnya kita menghabiskan waktu dan energi hidup untuk berdialektika dengan alam pikiran masyarakat manusia yang tidak memiliki ketetapan paham dan pengertian tentang beda antara makhluk dengan Khaliq. Kalau salah penempatan diri di tengah Kebudayaan Yalid dan Peradaban Yulad — masa depan kita mungkin adalah mati lucu dan ngenes…”.