Daur-II • 228

Terpeleset di Jalan Allah

“Memang begitulah aslinya sikap pikiran dan pilihan hidup hampir semua komunitas manusia. Ayat itu menggambarkan seolah-olah merupakan penolakan terhadap perubahan dan pembaruan. Lantas orang yang membaca firman itu merasa dirinya adalah pembaru, berjiwa luas dan berpikiran terbuka. Tetapi fakta di setiap kurun sejarah adalah sebagaimana yang diungkapkan oleh ayat itu”, Seger memberi garis bawah pada pernyataan Toling maupun Junit.

Jitul pun menambahkan, dengan agak tertawa: “Sejak kecil saya dididik di Surau dan Sekolah untuk tidak menjadi manusia penyembah Latta dan Uzza. Tapi semakin lama semakin saya rasakan ada dua gejala yang samar tapi semakin nyata dan terang bagi saya…”

“Apa itu”, Pakde Sundusin nimbrung.

Jitul menjawab. “Pertama, ketika Pak Ustadz atau Pak Guru menyampaikan larangan untuk menyembah berhala, ternyata sadar atau tak sadar dia membawa kepada saya Latta dan Uzza yang baru. Jangan sembah yang itu, sembah yang ini saja. Tapi kalau didalami, kedua-duanya bukan Allah. Dan kedua, sebenarnya Pak Ustadz dan Pak Guru itu tanpa sadar menghadirkan dirinya sebagai Latta dan Uzza”

Sesungguhnya apa yang kamu sembah selain Allah itu adalah berhala, dan kamu membuat dusta. Sesungguhnya yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rezeki kepadamu; maka mintalah rezeki itu di sisi Allah, dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nya-lah kamu akan dikembalikan”. [1] (Al-‘Ankabut: 17).

Jitul masih terus bicara dengan setengah tertawa. “Sebenarnya sudah lumayan orang menjalankan Agama, bertauhid, beribadah. Cuma banyak yang terpeleset di jalan Allah itu. Maksudnya menyembah Allah, terpeleset menyembah Agama, menyembah Islam, menyembah Al-Qur`an, menyembah shalat, menyembah pemahaman mereka sendiri. Itu semua berhala yang malah lebih berbahaya”.