Daur-II • 194

Allah Memelopori Tauhid

“Kata Mbah Sot, betapa Allah senantiasa nyawiji kepada hamba-hambaNya”, kata Pakde Brakodin, “Ia Maha Suci dan Maha Mandiri sehingga tak perlu nama, tapi Ia memperkenalkan diri-Nya dengan nama Allah untuk memudahkan komunikasi kita”.

“Ia Maha Sabar untuk ‘mengalah’ terhadap batas ilmu dan pengetahuan hamba-hambaNya. Dzatnya sangat jauh dan tak terjangkau oleh kemampuan jasadiyah maupun rohaniyah manusia, tetapi Ia mendekatkan Diri-Nya dan menggambarkan kedekatannya itu secara luar biasa”

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya”. [1] (Qaf: 16). Bagaimana memahami ungkapan ‘lebih dekat dari urat leher sendiri’? Dekat dari mana? Dekat dari titik-0 yang mana? Dekat diukur dari koordinat apa? Di mana sebenarnya titik pusat kemanusiaan pada manusia? Hatinya? Akalnya? Perutnya? Kelaminnya? Nafsunya?”

“Betapa nyawijinya sikap Allah kepada kita. Betapa Allah sendiri memelopori Tauhid. Memulai terlebih dulu pergerakan untuk menyatu. Mendekat sampai menjadi satu. Pada saat yang sama Allah bermurah hati tidak menuntut manusia untuk mendekat kepada-Nya pada konteks urat leher atau fisik apapun padanya. Allah tidak menagih ilmu manusia, pengetahuan manusia, kehebatan teknologi peradabannya, kemajuan sejarahnya, gilang-gemilang pembangunan dunia. Sebab itu semua sama sekali tidak sanggup menjadi jembatan yang mengantarkan manusia untuk mendekati Tuhannya”

“Yang Allah nantikan adalah cinta hamba-Nya. Kesungguhannya menempuh perjalanan rindu jumpa dengan-Nya. Ketekunannya untuk merawat rasa dan kesadaran bahwa Ia ada dalam hidup manusia. Kekhusyukannya, kesetiaannya, komitmennya, consern-nya, kepatuhannya kepada sapaan cinta-Nya”.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image ornamen-left ornamen-right ornamen-center iqra