Daur-II • 123

Rumus Kehinaan

“Jangan semberono, Sin”, Markesot memperingatkan, “setahu saya asal usul dan konteks ayat yang kamu maksud bukan seperti itu”

“Pasti tidak”, jawab Sundusin, “Al-Qur`an diturunkan tidak untuk robot-robot, yang setiap gerakannya sekecil apapun harus diprogram secara terperinci. Allah berfirman kepada manusia, yang terlebih dahulu dibekali akal untuk berpikir, berasosiasi, memproses kontekstualisasi, menemukan sambungan-sambungan dari segala sesuatu. Manusia jangan mencari ayat Allah yang menjelaskan apa beda antara menanam jagung dengan kedelai, bagaimana cara bebek berenang atau bagaimana teknik terbangnya burung”

Markesot tertawa. “Itu juga bisa terpeleset menjadi kesemberonoan lho, Sin”, ia menegur, “Allah menyatakan bahwa Al-Qur`an adalah Kitab yang disusun dengan rapi dan menjelaskan secara rinci”. [1] (Hud: 1).

“Nyuwun sewu Cak Sot”, Sundusin mencoba mempertahankan diri, “Itu pasti benar. Tetapi tidak berarti Al-Qur`an memuat rincian-rincian teknis tentang segala sesuatu. Kitab Allah itu bukan Buku Manual yang disertakan di kotak telpon genggam, kompor gas, atau komputer. Terperinci yang dimaksud adalah dalam dinamika kerjasama informasi ayat-ayat itu dengan daya olah akal pikiran manusia, dengan imajinasi dan kesanggupan elaborasinya”

“Kalau dikaitkan dengan kera yang kamu sebut tadi?”

Ndusin menjawab. “Maka tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang mereka dilarang mengerjakannya, Kami katakana kepadanya: jadilah kera yang hina. Itu kisah nyata. Tapi juga rumus tentang sebab akibat kemuliaan dan kehinaan. Siapa saja terlibat di dalam kemungkinan itu. Untuk menjadi kera, bisa cukup perilakunya, karakternya, sikap patuh atau ingkarnya kepada kebenaran Allah. Tidak harus jasadnya berubah jadi kera”.