Daur-II • 124

99 Pintu, 99 Tangan

Markesot sebenarnya diam-diam merasa bangga setiap kali mendengarkan teman-temannya berbicara. Terus terang, meskipun mungkin kadarnya rendah dan tipis, tapi terasa ada “bau” Ulul Albab, Ulul Abshar atau Ulun-Nuha pada ekspresi mereka. [1] (An-Nur: 44). Mereka itu intelektual sekaligus manusia yang punya kehalusan budi dan kepekaan rasa. Mereka menjalani siang dan malam dengan rasa syukur, menikmati penghayatan atas nilai-nilai yang berseliweran di dalam dan di antara cahaya dan kegelapan.

Teman-teman Markesot tidak pernah menjadi siapa-siapa di masyarakat, sebagaimana Markesot sendiri juga bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa. Mereka hanya seseorang di tengah sejumlah seseorang di sekitarnya.

Bagi yang menemukan bahwa yang utama dari An-Nahl 125 adalah “ud’u” atau “panggillah”nya, tentu ada alasannya. Bagi yang melihat keutamaan itu pada “sabili Rabbika”, arah menuju Sang Maha Pengasuh, tentu ada argumentasinya. Bahkan bisa dikembarai padang-padang kemungkinan kenapa yang Allah pilih sebagai titik tuju panggilan atau dakwah itu bukan konteks “Ilah”, bukan karakter atau sifat-sifat lainnya, bahkan bukan Allah itu sendiri sehingga kalimatnya menjadi “Ud’u ila sabilillah”.

Brakodin nimbrung: “Menurut kesepakatan Ulama, Allah punya 99 nama atau sifat. Saya membayangkan di rumah Allah ada 99 pintu. Atau mungkin Allah menggunakan 99 tangan khusus untuk manusia. [2] (Al-Hasyr: 24). Ada pintu Maha Pengasih. Pintu Maha Penyayang. Maha Dermawan. Maha Menyesatkan. Maha Pemurah. Maha. Maha. Maha…99 pintu, 99 tangan, atau bisa 99 apa saja sesuai dengan konteks, sisi keterhubungan, konteks pertalian atau dimensi cinta antara Allah dengan hamba-hambaNya. Khusus untuk panggilan cinta itu, bukan Sabilillah tapi Sabili Rabbika”.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image ornamen-left ornamen-right ornamen-center iqra