Daur-II • 122

Dakwah Kera

Ndusin menangkap pemahaman bahwa titik berat anjuran atau perintah Allah di An-Nahl 125 itu justru terletak pada kalimat terakhir yang tidak termasuk di dalam rentang anjurannya, bahkan seolah-olah sekedar pelengkap penderita: “Allah yang lebih mengetahui siapa yang tersesat”.

“Itu justru landasan utama untuk mempertimbangkan segala sesuatunya sebelum melaksanakan panggilan ke jalan Allah kepada orang lain”, katanya, “terutama agar pemanggil atau juru dakwah tepat meletakkan dirinya dan meletakkan orang-orang yang dihadapinya. Kita harus menghindari persangkaan bahwa kita pasti sudah berada di jalan yang benar, sambil menuduh bahwa orang-orang lain masih berada di jalan sesat”

“Kenapa demikian, Sin?”, Markesot bertanya.

“Salah satu kemungkinan yang ditimbulkan oleh prasangka semacam itu adalah kita merasa lebih baik dari orang, merasa lebih mengerti Agama dibanding kebanyakan orang, merasa lebih saleh, lebih dekat kepada Allah dibanding masyarakat. Itu membuat kita berkata dengan dada tengadah, kepala mendongak, nada suara yang terlalu mantap. Artinya, kita menyebarkan anjuran Agama dengan bekal kesombongan di dalam diri kita”

“Ndusin benar”, Tarmihim menyela, “kalau di antara publik ada orang yang mengerti psikologi komunikasi, mengerti teater dan hal-hal yang berkaitan dengan ekspresi narasi dan ilmu pidato – akan sangat terasa seorang penyampai kebenaran Allah itu tampil dengan kerendah-hatian atau dengan kesombongan”

“Mungkin tidak ada larangan eksplisit untuk tidak menjadi penganjur yang seperti itu”, Ndusin melanjutkan, “tapi kalau kita berlaku demikian, Allah menyebut kita adalah kera atau monyet” [1] (Al-A’raf: 166).

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image ornamen-left ornamen-right ornamen-center iqra