Daur-II • 134

Fokus: Berhala

Tarmihim menyimpan banyak lembaran catatan-catatan Markesot. Apakah ada rencana akan dibubukan? Hahahaha. Siapa yang tak punya pekerjaan sehingga tersesat membaca buku Markesot? Siapa penduduk bumi ini yang tak ada kesibukan, sehingga mencari-cari perkara dengan membaca tulisan Markesot?

Markesot dan masyarakatnya hidup di Negeri yang fokus kehidupannya adalah menyembah berhala, meskipun mereka tidak memiliki pemahaman bahwa mereka sedang menyembah berhala. Pada saat yang sama, siang malam mereka dipenuhi oleh sangat banyak masalah yang bersumber dari berhala-berhala yang mereka sembah.

Markesot dan teman-temannya adalah warga dari sebuah Negara yang rakyatnya terpecah-pecah karena perebutan tak henti-hentinya untuk memiliki dan menyembah berhala. Bangsa yang semakin hari semakin terkeping-keping, berkat tak pernah usai memperebutkan berhala. Baik berhala yang berupa harta benda, kemewahan-kemewahan kasat mata, sampai berhala-berhala sesama manusia yang mereka angkat menjadi pemimpin secara membabi-buta.

Berhala-berhala yang mereka seru selain Allah, tidak dapat membuat sesuatu apapun, sedangkan berhala-berhala itu sendiri dibuat oleh manusia[1] (An-Nahl: 20). “Berhala-berhala itu tidak dapat menolong mereka, padahal berhala-berhala itu mereka siapkan untuk menjadi tentara yang menjaga mereka”. [2] (Yasin: 75). Bahkan ketika dipertanyakan, “Mereka menjawab: ‘Kami menyembah berhala-berhala dan kami senantiasa tekun menyembahnya’[3] (As-Syu’ara: 71).

Pemimpin-pemimpin mereka menipu ummatnya dengan mempersempit pengertian berhala hanya pada patung, batu yang diukir menjadi bentuk menyerupai manusia. Manusia abad 21 memahami berhala dengan pikiran abad ke-6 atau bahkan jauh sebelumnya.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image ornamen-left ornamen-right ornamen-center iqra