Daur-II • 252

Persaingan ‘Agama-Agama’

“Nanti dulu”, Junit menyela, “Saya bisa memahami Toling. Tapi keperluan kita lebih luas dari itu”

Para Pakde Paklik dan teman-temannya mendengarkan dengan seksama. Junit meneruskan: “Kita perlu menghitung lebih berat mana bobot kecurangan, kebencian dan kelaliman dunia terhadap Al-Qur`an dan Islam, ataukah bobot kegagalan Ummat Islam sendiri dalam mengislamkan dirinya”.

“Benar Nit”, Jitul menyambung, “Lebih besar mana volume “rahmatan lil’alamin” pada ekspresi Ummat Islam, ataukah volume amarah dan kebrutalan mereka. Lebih menonjol mana “shiddiq amanah tabligh fathonah” Ummat Islam terhadap masyarakat dunia, dibanding sifat fasiq dan ahmaq mereka. Lebih dominan mana “makarimal akhlaq” Kaum Muslimin ataukah “su`ul khuluq” mereka”

“Kekalahan global Ummat Islam dalam peradaban yang kini sedang berlangsung di bidang politik, perekonomian, teknologi, militer, bahkan kebudayaan, tidaklah sampai mutlak memalukan jika tidak disempurnakan oleh kekalahan akhlaq juga”, sambil mencatat, Seger sendiri menambahkan.

“Sebentar, sebentar”, Jitul menotong, “Apakah hidup di dunia ini merupakan ajang persaingan untuk menang atau kalah antara Islam, Yahudi, Nasrani dan lain-lain? Kalau ya, apa kriteria kemenangannya? Apakah jumlah pemeluknya? Prosentase penguasaan peradabannya? Kebudayaannya? Politiknya? Ekonominya?”

Pakde Sundusin tertawa dan mengingatkan mereka pada firman: “Orang-orang Yahudi dan Nasrani yang telah Kami beri Kitab Taurat dan Injil mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian diantara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui”. [1] (Al-Baqarah: 146).

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image ornamen-left ornamen-right ornamen-center iqra