Daur-II • 251

Ejek Mengejek di Dunia

Bahkan Ummat Islam menjadi bahan tertawaan, bahan ejekan, sasaran kebencian dan penghinaan sampai kadar yang sangat melampaui batas tradisi kebencian di antara manusia di sepanjang sejarahnya.

Tidak pernah ada suatu ajaran dari langit yang membuat sejumlah penduduk bumi mengusulkan agar dilarang dan dihapus, selain Islam. Tidak pernah terjadi ada Kitab Suci yang semua Kaum Muslimin meyakini bahwa itu adalah wahyu Allah, yang diusulkan untuk dibakar, disingkirkan, diusir, diundang-undangkan untuk dilarang, sampai kalau perlu dimusnahkan dari perikehidupan ummat manusia di bumi – selain Al-Qur`an.

Apabila usulan pelarangan dan penghapusan itu diyakini oleh Ummat Islam sebagai penghinaan, dan apabila kemarahan memang diperlukan dan diperbolehkan untuk itu – maka tentunya sasaran kemarahan Ummat Islam itu pertama-tama dan terutama adalah Ummat Islam itu sendiri.

Harus bisa diukur mana kadar tertinggi dari sebab musababnya: masyarakat dunia gagal paham kepada Islam, ataukah Ummat Islam gagal memahamkan masyarakat dunia tentang Islam.

Toling tiba-tiba tertawa. “Sebenarnya asyik kalau di muka bumi ini manusia saling ejek mengejek, antar ummat atau golongan. Asalkan dalam konteks kematangan budaya, kedewasaan mental, di mana masing-masing sudah istiqamah dengan kepercayaannya, tidak cengeng dan paranoid oleh lainnya”.

“Maksudmu, Ling?”, Pakde Tarmihim bertanya. Toling mencontohkan Nabi Nuh. “Dan mulailah Nuh membuat bahtera. Dan setiap kali pemimpin kaumnya berjalan meliwati Nuh, mereka mengejeknya. Berkatalah Nuh: “Jika kamu mengejek kami, maka sesungguhnya kamipun mengejekmu sebagaimana kamu sekalian mengejek kami”. [1] (Hud: 38). ***

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image ornamen-left ornamen-right ornamen-center iqra