Daur-II • 253

Diam-diam Mensyahadati Islam

“Sebenarnya seluruh penduduk dunia ini tahu Islam itu benar. Islam itu puncak proses kebenaran. Islam itu tahap pamungkas dari kesempurnaan kebenaran dari Allah yang dikhususkan untuk manusia anak turun Adam”, kata Pakde Sundusin melanjutkan.

“Jadi masalahnya bukan kompetisi antara mana yang benar dengan mana yang salah”, Pakde Brakodin menguatkan, “mereka mensyahadati Islam di dalam hati, bahkan di dalam pikiran mereka. Tetapi terbentur pada gengsi kelompok. Harga diri korps. Semacam primordialisme.

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk yang benar”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu”. [1] (Al-Baqarah: 120).

Junit dan anak-anak muda itu bukan belum pernah berhitung atas semua itu.

“Maka”, kata Junit, “golongan-golongan yang memimpin peradaban dunia selama ini memang menciptakan sistem dan atmosfer yang mendorong Ummat Islam semakin terpuruk, atau sekurang-kurangnya tidak punya banyak peluang untuk tidak menjadi suatu kaum yang dunia mengejeknya sebagai kurang berperadaban”.

Seger sudah juga sejak lama mencatat: “Tetapi tidak bisa disembunyikan juga bahwa sangat banyak faktor dari kehidupan internal Kaum Muslimin sendiri yang menjadi sebab kekurangberadaban Ummat Islam – meskipun hal itu bisa direlativisir bahwa parameter keberadaban yang berlaku di dunia tidaklah persis sama dengan ukuran-ukuran dalam Al-Qur`an dan Islam, yang berasal dari ketentuan Allah”.

Jitul menambahkan: “Mungkin  Kaum Muslimin secara individu maupun sebagai masyarakat perlu berpikir untuk melakukan semacam “hard reset”.