Pahing Daging. Pahang Tulang.

Mukadimah Lingkar Daulat Malaya Desember 2017

Belakangan ini kita diramaikan oleh drama sakit yang dibintangi salah satu pejabat Indonesia yang ‘tertekan’. Sejujurnya, menjadi sakit bukanlah hal anomali yang perlu dipergunjingkan berlarut-larut. Namun, bukan pula salah yang mempergunjingkan, bila sakit yang diderita begitu sensasional. Masuk rumah sakit berkali-kali, sampai diare berhari-hari, dalam kurun waktu yang berdekatan. Kalau boleh menawarkan suatu kesimpulan bahwa “dirinya” begitu lemah? Baik fisik, atau batinnya?

Setiap orang dilahirkan, tumbuh dan berkembang dengan imunitas yang berbeda-beda. Ada yang lemah seperti tokoh yang diceritakan di awal paragraf. Ada pula yang kuat sekuat Gatotkaca yang kokoh dan tahan banting. Dalam pribahasa Sunda, karuhun bangsa Sunda mengistilahkannya dengan “Pahing Daging, Pahang Tulang“, atau ada pula yang menuliskan “Pait Daging Pahang Tulang” atau “Pait Getih Pahang Tulang”. Yang secara maknawi berarti ‘carang gering’ alias jarang sakit. Sedang kebalikannya adalah ‘amis daging‘ atau ‘amis getih‘, mudah sakit.

Sebagaimana diketahui bahwa darah (kadar dan sirkulasinya) yang berkualitas akan menjadi salah satu asbab kekuatan fisik. Dan sebaliknya, darah yang tidak berkualitas akan mengantarkan seseorang menjadi mudah diterpa penyakit. Salah satu unsur yang menjadikan darah berkualitas dan tidaknya adalah bergantung pada makanan yang dikonsumsi. Pun demikian dengan Tulang. Nampaknya leluhur bangsa Sunda jauh-jauh hari telah memberi tips kepada turunannya untuk memilah dan memilih apa saja yang harus dikonsumsi, supaya darah dan tulang yang berkualitas, sehingga menjadikan fisik atau lahiriah menjadi kuat.

Lalu, bagaimana dengan kesehatan batin?

Berbicara kembali soal sakit, muncul kembali pertanyaan perihal kesehatan Sang Ibu Pertiwi pada masing-masing diri, “Jigana bangsa urang mah ririwitnya“. Sepertinya bangsa kita penyakitan, ya? Tentu saja pertanyaan ini bukanlah tanpa dasar. Beranjak dari fenomena sekitar. Banjir, penyimpangan seksual, korupsi, krisis identitas dan beragam ketimpangan, kedhaliman dan kelaliman sosial. Tentu saja, lagi-lagi si tokoh di awal tulisan ini menginspirasi.

Keuna ku panyawat naon kitu Indonesia teh?” Kena penyakit apa memang Indonesia? Datang lagi si Tanya.

Panyawat resep dijajah.” Penyakit senang dijajah. Jawaban seenaknya.

Dijajah kusaha?” Dijajah oleh siapa?

Hawa nafsu. Jigana.” Hawa nafsu. Sepertinya.

Hawa nafsu. Itu ada dalam diri kita, bagian dari diri kita. Jadi, sebenarnya kalau boleh menyimpulkan lagi, bukan Indonesianya yang sakit, tapi manusia-manusianya, yang mendiaminya. Yang mengaku-ngaku dirinya Indonesia atau bahkan bisa jadi mengaku (sebagai) Tuhan. Manusia-manusianya yang memang tidak memiliki imunitas super canggih, atau memang merasa sehat sehat saja, tak perlu imun-ketepatan berpikir, keseimbangan tindakan dan kekuatan kuda-kuda batin. Sehingga menjadi ‘amis daging‘. Mudah sakit. Mudah latah. Mudah marah.

Lantas, bagaimana supaya kita menjadi sehat dan kuat kembali? Dalam sebuah artikel dikatakan bahwa pengobatan sangat tergantung pada penyebab yang mendasarinya. Setelah kita tahu bahwa sebagian besar penyebab “gonjang-ganjing” di negeri ini adalah perilaku manusia-manusia yang ‘amis daging‘, diri kita sendiri. Maka salah satu pengobatan yang bisa kita lakukan adalah dengan meningkatkan imunitas. Fisik dan batin. Sehingga kita mampu mewujud menjadi manusia yang ‘pahing daging pahang tulang‘.

Peningkatan imunitas itu sendiri bisa kita tempuh salah satunya dengan mengenali siapa diri kita. Ulah nuduh kanu jauh, ulah nyawang kanu anggang. Nu caket geura raketan, nu deukeut geura deuheusan. Moal jauh tina wujud, moal anggang tina awak. Aya naon, aya saha dina diri sorangan? Ciri na satangtung diri.

Teringat pitutur Simbah, pernahkah kita bertanya, bagaimana cara melangkah dengan benar? Pernahkah kita mencoba menyesali hal hal yang barangkali memang perlu disesali dari prilaku prilaku kita yang kemarin?
Bisakah kita menumbuhkan kerendahhatian dibalik kebanggaan-kebanggaan? Masih tersediakah ruang di dalam dada dan akal kepala kita?

Untuk sesekali berkata kepada diri sendiri, kalau yang bersalah bukan hanya mereka, bahwa yang melakukan dosa bukan hanya mereka, tetapi juga kita.
Bahwa yang mesti disembuhkan itu, nomor satu bukanlah yang di luar diri kita, tetapi di dalam diri kita. Sebab, sesungguhnya Tuhan mengetahui apa yang tidak kita ketahui.

Belakangan ini kita diramaikan oleh drama sakit yang dibintangi salah satu pejabat Indonesia yang ‘tertekan’. Sejujurnya, menjadi sakit bukanlah hal…