Daur-II • 257

Menyuntik Mangga Busuk

Bagaimana Pakde Sundusin tidak tertawa. Bagaimana dan untuk apa anak-anak muda ini memasuki wacana tentang Jin, Iblis, dan Setan. Hudais adalah kelompok Jin yang berafiliasi ke Iblis yang tugasnya menyesatkan kaum Ulama agar mengutamakan hawa nafsu keduniaannya. Sehingga mereka mudah dijebak dan diseret oleh penguasa. Asyik dengan keterlibatan politik, kolusi, kolaborasi, kerjasama-kerjasama dengan Pemerintah. Mereka sangka itu adalah partisipasi nasional, padahal itu kooptasi dan rekrutmen untuk kemapanan kekuasaan.

Memang anak-anak ini pasti pernah memperoleh bahan dari sanad entah Tarmihim, Sapron, Saimon, atau Brakodin, tentang penguasaan dunia Barat atas dunia Timur sejak abad 14. Dengan segala riuh rendahnya, penguasaan-penguasaan tersamarnya, terutama melalui wacana-wacana berpikir tentang Negara, development, kemenangan dan sukses, yang terutama disosialisasikan melalui media, pendidikan hingga subversi undang-undang. Sampai juga tentang upaya Pemuda Wali untuk melakukan sejumlah strategi penyelamatan zaman dan masa depan.

Salah satu paket strategi penguasaannya dikerjasamakan dengan komunitas Jin pimpinan Mansud. Yakni adu domba, memecah belah bangsa, rakyat dan ummat, dengan menanamkan virus isu-isu untuk dipertentangkan secara permanen dan akut. Rakyat Negeri ini dan ummat mayoritas terbesar sedunia adalah bidang garap primer untuk dipecah belah, supaya eksekusi neo-neokolonialisme mudah dilakukan.

Jin Ahwal dan pasukan khususnya bertugas mempersubur mental korupsi di kalangan para pejabat Negara. Tugas mereka ini sukses besar dan berlipat-lipat pada tahun-tahun terakhir. Para politisi dan pejabat Santri bahkan tidak kalah prestasi korupsinya dibanding yang Abangan.

Seger, sebagai juru catat yang sangat rajin, menuliskan betapa tujuh abad yang berlangsung hingga masa hidup mereka, berlangsung tahap-tahap penjajahan yang semakin lama semakin canggih. Dari yang samar hingga yang terang-terangan. Semua itu sangat memacu adrenalin pemberontakan anak-anak muda itu. Namun ternyata sesudah interaksi sekian lama dengan komunitas Markesot, mereka tak menyangka akan mengalami perkembangan-perkembangan pemikiran, analisis dan sikap terhadap zaman yang tidak persis seperti mereka niatkan ketika awal mula mereka merapat.

“Kemarin kita pandai, sekarang kita bijaksana”, kata Junit, yang paling senior di antara mereka. “Ilmu itu mendata perbedaan, kebijaksanaan itu mengupayakan kesamaan dan penyatuan”.

Tapi dibantah oleh Jitul. “Ada level masalah yang kita harus bertahan pada ilmu, karena kebathilan mutlak harus dilawan oleh kebenaran. Sedangkan kebijaksanaan, sebenarnya adalah topeng yang menutupi ketidakberdayaan, adalah keindahan menyamarkan keputusasaan…”

Sementara Toling asyik dengan pikirannya sendiri. “Pakde”, katanya, “Batalion Jin Sapuregel yang ronda di wilayah Betawi berpihak kepada siapa? Kan dari 17 pulau, ada 6 yang tak layak Reklamasi karena akibat ekologisnya. Kan pasukan Zaknabur makin rajin provokasi di pasar: publik diseret menoleh ke keributan Reklamasi Jakarta, supaya wilayah-wilayah Reklamasi lainnya berjalan lancar tanpa ada yang memperhatikan. Yang di Banten saja tidak pernah dilirik. Kalau Setan Kabiri Cirebon bagaimana, Pakde? Kan Wirasuli Waringin yang jauh di timur sudah menunjukkan sikapnya di Gunung Agung…”

“Toling!”, teriakan Junit memotong kalimat Toling, “Apakah itu urusanmu?”

Kemudian Junit menoleh kepada Pakde Sundusin: “Pakde, mangga busuk tidak bisa dibikin tidak busuk dengan menyuntikkan cairan yang kita beli juga dari pedagang mangga busuk. Cara menolak penjajahan tidak bisa dengan mengambil dari ilmu para penjajah. Saya sedang belajar menyapa dan mengaktivasi Malaikat-malaikat pribadi saya sendiri. “Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah”. [1] (Ar-Ro’d: 11).

caknun.com, 29 Oktober 2017