Daur-II • 258

Kami Ini Lebih Pribumi

Cucu-cucu Markesot ini merasa semakin “la yafqohuna qoulan[1] (Al-Kahfi: 93) sekaligus “yaqulu laghwan wa kidzdzaban[2] (An-Naba: 35) Tapi kali ini mereka terpesona. Gemetar rasa badan, tapi unik dan mengasikkan. Anak-anak muda itu dimarahi habis oleh suara yang terbang mengitari kepala mereka dan menampar-nampar wajah mereka.

Semula Toling diam-diam menganggap bahwa nama-nama Sapuregel, Zaknabur atau Wirasuli Waringin itu sekadar karangan Mbah Markesot. Tapi suara yang berputar-putar itu itu menyebut lebih banyak nama lagi, dan berdasarkan tata logika kalimatnya, mereka tidak bisa menyimpulkan bahwa itu fiksi.

Memang sih aslinya Junit dan teman-temannya pernah juga berpikir bahwa Tuhan, Malaikat, Akhirat, Sorga dan Neraka itu sekedar dongeng. Anak-anak muda itu memang terpengaruh etos modernitas, bahwa kalau ia tidak tahu, tidak bisa melihat dan tidak bisa membuktikan – itu berarti tidak ada.

Pantas Pakde Tarmihim pernah mengatakan: “Kenyataan hidup ini tidak terbatas pada yang kalian ketahui, karena jauh lebih banyak dalam kehidupan hal yang tidak kalian ketahui. Kenapa kita sering kaget? Karena kita terlambat tahu bahwa ada fakta yang tidak kita ketahui…”

Tapi sudahlah. Suara itu bergulung-gulung mengepung ruangan:

“Apa kalian pikir kami punya tugas atau kewajiban untuk mengurusi Indonesia? Kenapa soal Reklamasi dikait-kaitkan dengan kami masyarakat Jin? Kalau yang di Serang, Makassar, Ternate, Bali, Balikpapan, Palu dan semua itu berjalan tanpa gangguan – itu kan urusan kalian sendiri. Apakah sudah atau belum disiapkan bagaimana mengeruk sedimen di antara pulau-pulau Reklamasi, bukanlah tanggung jawab Lowar, Barandhang, Talengkung, Bancuri Bancuring, dan siapapun staf saya di daratan maupun lautan”

“Keputusan untuk tidak bersedia menyediakan area nelayan di pulau-pulau Reklamasi, bukan kewajiban Jalilung, Kala Ngadang atau Telohbraja untuk menolaknya. Perkara para pengembang tidak mau mengurangi luasan pulau-pulau Reklamasi, karena memang dikhususkan untuk hunian mewah dan industri,  bukanlah tugas Gendir Diyu, Dirgabu, Dulit, atau Mahesa Kuda dan Nini Gelu untuk mengantisipasinya”

“Bahwa andaikan Anies-Sandi menghentikan Reklamasi yang di Jakarta, toh yang di tempat-tempat lain jalan terus. Masalahnya, kenapa itu kalian bebankan kepada Klabang Curing, Bedreg, Siganadha atau Dodol Kawit. Kenapa kalian kambing hitamkan kami kaum Jin? Semua Muspides, Muspika, Muspida jajaran birokrasi Jin saya bersih dari semua itu dan sama sekali tidak terlibat. Jin juga ada yang serakah, tapi tak ada yang seserakah manusia”

Putaran asap itu mengencang. Suara yang menggema darinya mengeras.

“Bahkan kami ini dimarginalkan, disingkirkan, diusir dari perkampungan-perkampungan kami sejak 17 Agustus 1945. Kami ini lebih pribumi dari kalian. Sejak berabad-abad silam kami tinggal di tanah yang sekarang kalian sebut Indonesia. Manusia memonopoli bumi, daratan dan lautan. Manusia egois, merasa hanya mereka yang berhak atas bumi”. Sebaiknya kalian masuki 2018 dengan mulai belajar bertaqwa. Taqwa itu artinya: waspada.

Yogya, 30 Oktober 2017