Daur-II • 256

Jiwa Mujtahidin, Semangat Oposisional

Awalnya ketika pertama kali merapat ke lingkungan Mbah Markesot, yang dibawa oleh Junit, Jitul, Toling, Seger dan teman-temannya adalah semangat revolusioner. Semangat untuk mengubah dunia. Energi besar dan meluap-luap untuk meladeni tantangan kedhaliman dan kebobrokan yang terjadi di Negerinya maupun di dunia pada umumnya.

Mereka adalah anak-anak muda dengan jiwa kejuangan yang luar biasa. Hatinya sangat mendalam membela manusia dan rakyat. Kekhusyukan jiwanya sangat serius memprihatini berbagai proses perusakan terhadap kemanusiaan, moral dan kebudayaan. Apalagi dengan pengetahuan mereka yang semakin luas, ilmu dan pemahaman mereka yang semakin mendalam dan komprehensif terhadap berbagai jenis penjajahan baru atas ummat manusia.

Tidak hanya jenisnya, tapi juga perluasan wilayahnya, peralatan yang berkembang yang dipergunakan untuk semakin mengkerdilkan dan menguasai manusia. Hingga strategi-strategi peperangan baru yang diterapkan dengan sangat pesatnya peradaban teknologi, terutama yang terkait dengan seluruh aspek kehidupan manusia dan masyarakat.

Seger mencatat update dan advance dari teknologi penjajahan yang semakin canggih, yang kebanyakan manusia tidak merasa sedang semakin dijajah dan dikuasai. Melainkan malah bergembira dan merasa ikut kemajuan zaman. Junit dan teman-temannya itu yakin bahwa harus ada generasi muda yang berhimpun dan membuat perhitungan masa depan. Mereka yakin bahwa harus ada yang mengambil alih keadaan zaman. Dengan cara apapun.

Pakde Tarmihim tersenyum: “Zaman Edan, rezim bobrok, bangsa hilang martabat dan macam-macam lagi itu kan pendapat kalian”, katanya, “Bagi Negeri kalian semua baik-baik saja. Kemajuan sangat gencar sedang diselenggarakan di bawah pimpinan Satrio Piningit, membangun Negeri gemah ripah loh jinawi, toto tentrem kerto raharjo. Dalam tiga tahun semua sukses itu bisa dilihat dengan mata”

Seger mencoba meyakinkan Pakde Paklik mereka: “Kami mempelajari dengan pendataan lengkap dan komprehensif rute perjalanan bangsa dan Negara kita. Kami datang ke lingkungan Mbah Markesot ini karena desakan Tuhan: “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”. [1] (Ar-Ro’d: 11)

Anak-anak muda itu kemudian tak sengaja berdebat tentang muatan firman itu: siapa sebenarnya pelaku primer perubahan, manusia ataukah Tuhan? Jitul berpendapat bahwa manusialah pelaku utama perubahan. Sementara Junit bilang “manusia cuma menanam benih, tapi Tuhan yang menumbuhkan tanaman sampai berbuah”.

Pakde Brakodin tiba-tiba merespons dengan senyuman seperti juga Pakde Tarmihim: “Negara kalian bekerja merangkap fungsi manusia dan Tuhan sekaligus. Kami tahu kalian berbeda pandangan dengan Indonesia yang sedang berlangsung. Bahkan mungkin bertentangan paham terutama tentang nilai-nilai yang mendasar: pembangunan, kemajuan, sukses sebuah Negara, Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika serta apapun. Kemarin seorang pejabat tinggi Negara menyatakan bahwa Pemerintahlah yang memiliki otoritas tunggal untuk melakukan interpretasi atas sesuatu hal yang menyangkut tanggung jawabnya. Terus kalian mau apa?”

Dialog mereka terpotong oleh Toling yang memenggalnya dengan pertanyaan aneh: “Pakde Sundusin?”

“Ya?”

“Saya mau konfirmasi. Saya mendengar Mbah Markesot sekarang sedang pergi mencari Hudais, Mansud, Ahwal, Setan Kabiri dan Sapuregel. Untuk memastikan 37 titik wilayah Reklamasi di seluruh Indonesia yang sedang digarap oleh Pemerintah. Apa itu benar?”

Terdengar suara tertawa Pakde Sundusin terkekeh-kekeh, mendengar nama-nama itu disebut.

Yogya, 28 Oktober 2017