Daur-II • 032

Menyamar sebagai Rasulullah

Sebenarnya anak-anak muda itu, terutama Seger, selalu mencari peluang agar pembicaraan mereka tidak menghindari “perang malam hari”. Pakde Brakodin, Sundusin maupun Tarmihim kelihatannya agak menghindar. Sementara Junit lebih tertarik pada pertanyaan lain: “Apa yang harus kita miliki untuk memahami dan meyakini bahwa Kiai itu benar-benar bertemu dengan Rasulullah?”

Tarmihim cenderung menanggapi sisi yang ini, dan tertawa: “Itu pertanyaan yang sama dengan kejadian Sultan Yogya: bagaimana rakyat Yogya meyakini bahwa beliau bikin Sabda Raja adalah berdasarkan wahyu dari Tuhan? Terserah apakah wahyu itu disebut wangsit, ndaru, pulung, atau apapun”.

“Kalau kita tidak percaya Sultan memperoleh wahyu dari Tuhan, sedangkan lebah-lebahpun diwahyui”, Sundusin menambahkan, “Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: ‘Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia’[1] (An-Nahl: 68), “tetapi kalau percaya, susah juga mencari landasannya, meskipun sejarah Raja-Raja di masa silam memang selalu mengandung indikator wahyu”

“Tidak ada makhluk apapun yang bisa menyamar menjadi Rasulullah”, kata Ndusin, “jadi kalau seseorang ditemui oleh beliau, berarti itu ya memang beliau”

“Bagaimana Kiai itu tahu bahwa yang ia berjumpa adalah Rasulullah?”, Junit penasaran.

“Kan semua orang sudah pernah membaca atau mendengar ciri-ciri beliau secara jasad, gerak-gerik beliau, yang terasa dari pancaran wajah beliau, termasuk tutur kata beliau”.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image ornamen-left ornamen-right ornamen-center iqra