Daur-II • 031

Ilmu “Kayaknya

Secara khusus mereka merencanakan rembug mendalam dan tuntas tentang “perang malam hari”. Tetapi hari itu Tarmihim mencairkannya dengan mengingatkan anak-anak itu bahwa di antara orang-orang tua itu, justru Sundusin yang sedikit punya latar belakang pembelajaran Islam dan Al-Qur`an. Memang bukan santri beneran, tapi sekurang-kurangnya di kampungnya dulu ia bagian dari komunitas Langgar alias Surau, atau yang sekarang disebut Musholla. Jam terbang Iqra`nya lumayan.

Di Negeri ini, tempat Ibadah yang besar disebut Masjid, yang kecil disebut Musholla. Padahal, pertama, fungsinya sama. Kedua, kalau diisengi lewat arti harfiahnya: Masjid itu tempat bersujud, sedangkan Musholla itu tempat shalat. Kalau berpikir denotatif, lebih lengkap shalat dibanding hanya sujud. Artinya, Musholla lebih sempurna dibanding Masjid.

Untunglah sejak awal tempat ibadah itu disebut Masjid. Dan lagi masyarakat Negeri ini dalam banyak hal memang lebih nyaman hidup dalam konotasi daripada denotasi. Dalam kebudayaan informasi dan media, pembuat berita maupun pembacanya terbiasa menggunakan kata “sepertinya”, “kayaknya”, “terkesan”: konotatif semua.

Kalau memasuki ranah pemahaman yang lebih serius: banyak Ummat Islam yang secara tak sengaja atau setengah sadar menyamakan antara tafsir atas ayat Qur`an dengan ayat itu sendiri. Banyak tokoh atau aktivis yang sangat yakin dengan kalimat “Ini kita harus kembali ke Al-Qur`an”. Padahal yang ia maksud Al-Qur`an di situ adalah penafsirannya. Mereka tidak bisa menemukan jarak nilai antara ayat Al-Qur`an dengan lapisan pemahaman atas ayat itu di memori otak mereka.

Beribu-ribu orang memaknai “Alif Lam Mim[1] (Al-Baqarah: 1), dan menyangka Alif-Lam-Mim adalah pemahamannya itu.