Daur-II • 033

Bagian Paling Kasar

“Apakah Mbah Sot pernah berjumpa dengan Kanjeng Nabi, entah sesudah shalat, ketika bertapa, menyepi. ‘uzlah, atau saat-saat lain?”, Toling ikut penasaran.

“Pakdemu Sundusin yang kami sepakati untuk menjawab pertanyaan semacam itu”, Tarmihim menjawab dengan tersenyum, “kalau Pakdemu Brakodin spesialis hantu atau Jin….”

“Pakdemu Tarmihim sering mengalami perjumpaan-perjumpaan spiritual seperti itu”, Brakodin menanggapi, “cuma ketemunya dengan Abu Jahal, tentara-tentaranya Fir’aun atau yang sering ketemu Demit….”

Sundusin akhirnya merespon: “Jangankan kalian menanyakan hal itu kepada saya. Sedangkan Rasulullah sendiri saja diperintahkan oleh Allah agar menyatakan: ‘Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak pula menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman’[1] (Al-A’raf: 188).

“Apakah pertemuan dengan Kanjeng Nabi itu pertemuan objektif ataukah subjektif?”, Seger mengejar.

“Pertemuan jasad atau ruh?”, Jitul tak mau kalah.

“Mbah Sot kalian pernah mengatakan dulu sekali bahwa kita terjebak berpikir mendikotomikan antara jasmani dengan rohani, sehingga memilah juga antara dunia dengan akherat”

“Mestinya bagaimana, Pakde?”, Junit mengejar juga.

“Kata Mbah Sot, jasad adalah bagian yang paling kasar, dangkal, dan sederhana dari ruh….”.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image ornamen-left ornamen-right ornamen-center iqra