Maqom Otentik Maiyah Sebagai Ibu Susu Indonesia

Catatan Majelis Ilmu Maiyah Mocopat Syafaat, 17 Desember 2017

Dan Mbah Nun mengingatkan, “Justru akal manusia sendiri itulah ayat utama”. Karena memang, banyak sekali ayat Qur`an yang mengapresiasi aktivasi akal manusia, bahkan Al-Qur`an sering mengingatkan betapa celakanya bila akal tidak dipakai. Betapa berbahayanya bila manusia malas berpikir.

Seluruh kitab-kitab dan capaian-capaian ulama yang ingin menggapai keindahan Al-Qur`an juga adalah hasil akal yang merasakan, dan rasa yang memiliki akal. Namun semakin ke sini manusia semakin tidak terpancing untuk memakai akal. Capaian para mujtahid, fuqaha dan mufassir yang dilahirkan pada eranya masing-masing tidak dihargai dengan kontinuasi, tapi sekadar ditelan sebagai buah semula jadi. Betapa sedih hati para ulama terdahulu.

Deras Arus ASI, Maiyah Ibu Susu NKRI

dr. Eddot juga hadir, bersama rekan beliau, dr. Dini. Seorang dokter anak dari Surabaya yang beberapa waktu lalu sempat sowan ke Kadipiro.

Deras aliran ini. Arus ilmu yang memancar-mancar, deras seperti susu ibu yang tak habis-habis menumpahkan kasih sayangnya. Konon di surga yang disediakan Allah swt nanti ada sungai yang mengalir susu dan madu tanpa pernah berhenti. Bila saya membayangkanya, masya Allah… Saya kok eneg jadinya? Lagipula apakah itu susu sapi, atau susu kambing? Atau susu yang lain?

Atau mungkinkah dia adalah gambaran betapa sebenarnya kita sudah mendekati surga manakala kita berada pada sebuah majelis di mana kasih sayang, kebersamaan, kemurnian mengalir tak henti-henti?

Hujan kembali turun setelah berhenti beberapa saat. Dingin kembali menyergap. Bu Novia menebar kehangatan dengan melantunkan “Hati Matahari” sebelum berpamitan. Rampak yang saat itu sedang berlibur sudah kangen dengan kamarnya sendiri di rumah. Memang bersama ibu adalah yang terbaik bagi seorang anak.

dr. Dini dan dr. Eddot bergantian menjelaskan fenomena yang sedang dihadapi. Di mana serbuan penjualan susu formula terus merangsek ke masyarakat sehingga susu formula menjadi pilihan, opsi pertama manakala seorang bayi membutuhkan perlakuan khusus. Padahal menurut dr. Dini semua yang dibutuhkan bayi manusia ada pada kandungan ASI.

Variabel dan faktor lainnya saling berkelindan. Masyarakat yang telah rusak tata komunalitasnya, tidak lagi berpikir untuk mencari ASI dari tetangga atau saudaranya bila memang ASI-nya tidak mencukupi. dr. Eddot menjelaskan, fenomena zaman old dalam dunia kedokteran adalah dokter selalu paling tahu, sementara pasien adalah tidak tahu apa-apa. Pandangan ini belakangan mulai dirombak dalam dunia kedokteran. Karena rupanya tidak, pasienlah yang memiliki pengetahuan dan pengalaman tentang tubuhnya sendiri. Hubungan dokter dan pasien adalah dialogis, dokter punya teori pasien punya pengalaman otentiknya dan ukuran kesehatannya sendiri.

Banyak paham spiritualitas atau tasawuf di luar yang sering menganalogikan relasi murid-mursyid dengan analogi dokter-pasien zaman old ini. Mbah Nun sudah sejak dulu dalam tulisan-tulisan beliau membabarkan bahwa antara guru dan murid, justru murid lah yang berkehendak kepada ilmu. Dalam Demokrasi Tolol Ala Saridin, nampak jelas. Rupanya trend dunia sains, iptek dan medis bergeser ke arah itu juga.

dr. Dini menjelaskan bahwa jumlah ibu menyusui semakin mengkerut, maksud saya menyusut (eh?), hingga pada presentase yang memprihatinkan. Menurut penelitian, sisa tiga puluh persen ibu-ibu yang bersedia menyusui. dr. Dini menyayangkan mengapa kaum ulama, kiai dan agamawan di negeri ini tidak benar-benar mau serius membahas persoalan ini pada umat Islam. dr. Eddot pun menambahkan, selain dari faktor kecukupan gizi rupanya bayi yang diasupi ASI sebagaimana perintah dalam Al-Qur`an juga lebih stabil secara emosi ketika dewasanya.

“Berarti jumlah ibu, di Indonesia hanya tiga puluh persen”. Tegas Mbah Nun. Sebab konsep ibu, adalah yang melahirkan dan menyusui. Ini tentu juga dipengaruhi banyak faktor, trend bentuk tubuh, faktor lelaki yang terlalu berkuasa atas kedaulatan susu dan tubuh perempuan dan berbagai macam lagi lainnya.

Maiyah masih dan terus deras menglirkan air susunya pada anak asuh bernama NKRI. Sebab ibu Nusantara sedang kelalahan diperkosa terus oleh yang mengaku sebagai suaminya sejak proklamasi sefihak, bernama pemerintah. Sang suami terlanjur memiliki konsep tata bentuk ideal yang dia ambil dari tetangga-tetangganya, sedang Ibu Nusantara dipaksa bersolek dengan bedak-bedak pembangunan, memolekkan tubuh dengan infrastruktur dan segala konstruksi good looking yang belum tentu baik bagi dirinya.

Maiyah terpaksa tanpa dipaksa siapapun untuk mengambil posisi sebagai ibu susu indonesia raya, sebab sang suami yang mengaku Pancasilais juga lebih percaya pada susu kaleng dan susu kardusan yang sudah jelas ketidak jelasannya daripada samudera susu Ibu Nusantara. Masa susu bentuknya kotak dan tabung? Susu itu mengalir. Mengalirlah. (MZ Fadil)

Lainnya