Nasib Air Susu Ummat

Bagi para sedulur-sedulur JM, tentu sudah tidak asing dengan bahasan mengenai konsep ummat berasal dari satu suku kata dengan ummi yang artinya ibu. Sehingga dalam term yang populer di Maiyah, ummat adalah sekumpulan manusia yang ‘sepersusuan’. Selama ini kita mengartikan sepersusuan sebagai gambaran, perlambangan, dari kumpulan orang yang sama-sama “nyusu” keilmuan pada sesosok imam. Yang mana bangsa ini pada umumnya sedang kehilangan sosok ummi imam, yang ngemong keibuan dan nyusuin penuh gizi. Kita hanya memiliki banyak artistokrat agamawan.

Namun apakah karena pernah mendengar tadabbur tentang ummat sepersusuan inikah yang membuat dr. Dini Adityarini. Sp.A dari RS Kendangsari, Surabaya lantas sowan ke Kedatuan Kadipiro pada malam Jum’at tanggal 30 November 2017? Bu dr. Dini yang spesialis anak (itu pembaca yang budiman bisa melihat dari gelar akademis di belakang nama beliau) diantarkan oleh dr. Eddot yang tentu sudah akrab bagi para JM.

dr. Dini rupanya secara khusus sowan kepada Mbah Nun untuk berkonsultasi mengenai polemik ASI. Kali ini term air susu bukan lagi sebuah metafora seperti dalam tadabburan soal ummat di atas. Ini benar-benar soal air susu ibu secara harfiah dengan segala kejernihan dan kandungan kepentingan di dalamnya.

“Saya ini makin banyak didatangin hal-hal yang saya ndak tahu, ya air susu ibu kuwi”, ujar Mbah Nun setelah dr. Eddot memperkenalkan dr. Dini dan sedikit memberi gambaran mengenai kegelisahan ibu dokter mengenai polemik air susu ibu di negeri yang “bukan lautan tapi kolam susu” ini.

Terasa sedikit canggung di awal, namun sambutan rendah hati Mbah Nun sukses memecah kegugupan dr. Dini. Suasana langsung cair dan tanpa tedeng aling-aling dr. Dini langsung mengutarakan segala kegelisahan, kegalauan dan kekalutannya dalam bergelut dengan bidang kesehatan anak selama ini. Berapa banyak sebenarnya dokter anak yang mau berkonsultasi soal ekspertasi keilmuannya dengan tokoh sesepuh masyarakat? Dan berapa banyak sesepuh masyarakat yang mau membahas air susu ibu dengan serius? Tapi begitulah, segala lontaran dr. Dini mengenai kondisi masyarakat yang dihadapinya langsung dielaborasi secara tangkas oleh Mbah Nun.

Rupanya kondisi memang sangat memprihatinkan. Banyak ibu-ibu yang menolak memberi ASI eksklusif untuk anak-anaknya. Secara statistik, jumlah ibu menyusui di negeri ini merosot terus sampai tinggal 30 persen. Tulisan ini tentu dengan kesadaran penuh mesti disampaikan belum bisa menyajikan data ilmiah secara terperinci, karena penyajian data ilmiah minimal memang mesti menampilkan selain angka kesimpulan, juga metode pengambilan data yang tentu juga di dalamnya ada seberapa representatif sample data yang diambil untuk menggambarkan kondisi keseluruhan. Namun bahwa keresahan itu datang dari seorang dokter anak yang memang bekerja bertahun-tahun di bidang ini dan melihat kondisi sekitar di mana penjualan susu formula selalu meningkat, bahkan menurut dr. Dini, angka penjualan susu formula di Indonesia termasuk sangat tinggi. Bedakan dengan banyak negara lain terutama negara-negara Eropa yang justru mulai menekan penjualan susu formula, tidak lagi mengizinkan penjualannya bebas di toko-toko.

Beberapa waktu lalu pemerintah Indonesia sempat menggebuk sebuah ormas dengan salah satu legitimasi bahwa ormas tersebut sudah dilarang di banyak negara, nah apakah sekarang pemerintah rezim ini juga punya keberanian yang sama dalam menghadapi raksasa bisnis susu formula?

Kegelisahan dr. Dini memang tidak hanya berdasar data statistik saja, tapi juga berlandaskan pengalaman empirisnya di lapangan. Banyak ibu yang tanpa alasan yang sahih menolak memberi susu sejak awal. Faktornya banyak, ada yang karena gengsi, ada yang karena tidak ingin merusak bentuk tubuh. Tentu ada juga yang memang alasan kesehatan, air susunya tidak lancar misalnya. Yang terakhir ini tentu bisa dimaklumi.

Namun Mbah Nun memberi gambaran bahwa air susu ibu itu juga dulu menjadi alat pemersatu komunalitas masyarakat. Dan komunalitas adalah karakter khas bangsa Asia atau Timur memang. Kalau dulu, ketika mekanisme masyarakat masih otentik, tidak seperti sekarang yang terlanjur mengimport beragam sudut pandang kemajuan dari luar, ibu yang tidak bisa menyusui akan mencari saudaranya, tetangganya atau siapapun yang di desanya untuk bisa menyusui anaknya. Namun sekarang, pilihan pertama ibu-ibu justru adalah memberikan susu formula. Bahkan menurut Bu dokter, walaupun ayat dalam Al-Qur`an jelas memerintahkan para ibu untuk menyusui anaknya selama dua tahun, itupun tidak mempan. Bingung.

Kegelisahan-kegelisahan dr. Dini langsung ditanggapi oleh Mbah Nun dengan menemukan persambungan fenomena ini dengan Al-Qur`an. Di Maiyah kita juga sudah cukup mengerti bahwa bukan metode untuk mengerti Al-Qur`an yang penting, tapi justru terpenting ialah bahwa agar Al-Qur`an itu sendirilah metode untuk mengerti hidup dan fenomena kehidupan.

“Nyusoni itu, sama dengan menerbitkan matahari, sama dengan berputarnya siang dan malam karena bergabung dengan iramanya Allah. Apalagi eksplisit Gusti Allah ngongkon nyusoni rong taun. Kalau kamu tidak mau bergabung di dalam ritme Allah ini kamu adalah pohon yang tidak tumbuh daunnya, yang tidak punya bunga dan tidak akan berbuah. Yo kowe ming nduwe anak, ning anakmu dudu terusan kowe. Sebenarnya kamu tidak punya hak surga atas anakmu. Wong kowe ora nyusoni kok”, ujar Mbah Nun

Mbah Nun kemudian membawa dr. Dini dan dr. Eddot bertualang ke samudera taman angkasa raya pemaknaan dan hikmah. Sesekali miris dengan kenyatan bahwa semua ini memang adalah hasil dari akumulasi keterbolak-balikkan pandangan karena menjadi bangsa yang tidak otentik sebagai dirinya. Ada faktor kapitalisme global, politik nasional yang hanya mengejar keuntungan dan kemapanan posisi. Namun Mbah Nun juga membuka tabir-tabir pemaknaan tentang keindahan dan keajaiban hal-hal kecil di sekitar kita, termasuk dari betapa luar biasanya yang disebut Air Susu Ibu itu.

Ketika melihat gejala, fenomena hidup dengan kacamata pandang Qur`an tampaknya segala hal menjadi serba indah dan ‘ajaib’. Keindahan membuka dan aroma kebusukan konspirasi nafsu manusia juga tampak gamblang di depan mata. Tidak hanya satu ayat saja yang memang eksplisit bicara mengenai air susu ibu yang dielaborasi oleh Mbah Nun. Berbagai ayat ditemukan sambungannya dan memang nyambung karena seperti Al-Qur`an.

ASI itu sendiri memang sesuatu yang, sebagai produk ciptaan Gusti Allah, maqomnya berada pada tingkat ciptaan langsung bukan second hand yang perlu inisiatif manusia. Sehingga mendurhakai ASI, maksudnya dengan sengaja tidak memberi ASI adalah sama saja dengan mendurhakai syariat Allah langsung, adalah sejajar posisinya dengan mendurhakai Al-Qur`an itu sendiri. Sebaliknya oleh Mbah Nun juga dr. Dini diberi pemahaman bahwa memberi ASI itu adalah jalan shortcut untuk menyatu dengan kehendak dan ritme penciptaan, jalan pintas ke jannah, sebuah privilige yang hanya diberikan kepada makhluk Allah yang bernama perempuan.

Pertemuan ini berlangsung hangat, obrolan berjalan hingga lebih dua jam tanpa terasa. dr. Dini dan dr. Eddot terasa segar kembali, semangat berjuangnya kembali nyala oleh “yaa ayyuhalladzina aamanu, wa hajaru wajahadu” bahwa rupanya air susu ibu itu adalah sesuatu yang langsung manifes dari “Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu”. dr. Dini terlebih bangkit optimismenya ketika mendapati bahwa apa yang dikerjakan dan diperjuangkannya selama ini sesungguhnya juga adalah perjuangan di jalan kebenaran Allah. Hanya memang tidak pernah ada kiai atau agamawan yang pernah mengkomunikasikan hal ini kepada ibu dokter.

Sekali waktu ibu dokter mengeluhkan, “Coba kalau semua ulama seperti Cak Nun. Bahwa ibu itu intinya di ‘menyusui’. Melahirkan dan menyusui. Tapi hampir ndak ada lho, ulama yang menyentuh itu”.

Kita memang sedang berhadapan dengan pola pandang sekuler total. Di mana ilmu agama seolah tidak pernah dijadikan landasan untuk hidup. Ulama-ulama bekerja sebagai penjaga gawang pintu surga dengan tafsiran baku terhadap kehendak langit, tapi jarang memiliki kreativitas terhadap persoalan riil masyarakat. Kita inilah sebenarnya juga adalah bayi-bayi yang tidak pernah disusui oleh mereka yang semestinya memiliki peran sebagai ummi imam agamawan. (MZ Fadil)

Bagi para sedulur-sedulur JM, tentu sudah tidak asing dengan bahasan mengenai konsep ummat berasal dari satu suku kata dengan ummi yang artinya ibu.