Maqom Otentik Maiyah Sebagai Ibu Susu Indonesia

Catatan Majelis Ilmu Maiyah Mocopat Syafaat, 17 Desember 2017

Saya pernah mendengar ada yang bilang Islam itu menyejukkan. Saya sedang tidak membutuhkannya malam itu. Bukan islamnya yang saya tidak butuh, tapi sejuknya. Persoalannya ketika saya berangkat dari rumah ke lokasi majlis ilmu, kegembiraan dan paseduluran Mocopat Syafaat, hujan sedang turun. Dingin. Saya sedang tidak butuh yang sejuk-sejuk. Yang menghangatkan mungkin akan lebih menyenangkan.

Maka ketika sampai di TKIT Alhamdulillah yang menjadi lokasi acara Mocopat Syafaat rutin dan istiqomah pada tanggal 17 setiap bulan (hanya satu kali yang saya tahu waktu acara digeser tanggalnya, saya lupa kapan), saya langsung mengambil posisi mapan di warung dan memesan kopi panas.

Nah benar, saya memang sedang butuh yang hangat-hangat. Malam itu hujan sesekali datang, sesekali pergi. Gerah dan sejuk berganti-gantian. Manusia mungkin sedang dilatih untuk lebih fleksibel dalam menyajikan kebaikan Islam; kapan sejuk, kapan hangat. Tanya-tanya dulu, yang disuguh sedang butuhnya apa, jangan asal main suguh yang sejuk-sejuk saja. Salah-salah malah bikin orang mengigil.

Kesadaran Maqom Menuju Piagam Maiyah

Begitu juga Rosulullah saw ketika menjadi khalifah di Madinah dan kemudian menyusun Piagam Madinah, urusannya kemudian adalah mempertemukan kebutuhan-kebutuhan setiap dzat masyarakat. Kebutuhan diukur, ditimbang baik-buruknya, dipertemukan perjodohan kebutuhannya, dijadikan regulasi bersama, dipatuhi bersama pula. Beliau yang merupakan pemegang mandat yang sah dari Gusti Allah langsung, tidak datang dengan membawa konsep baku, ada proses dialogis yang membutuhkan kesabaran menggiring proses.

Rupanya Maiyah sekarang juga sudah merasa dibutuhkan adanya semacam aji, pegangan bersama. Piagam Maiyah menjadi bahasan ketika Mas Sabrang telah diperilahkan naik ke panggung. Setelah seebelumnya acara dimulakan dengan pembacaaan Al-Qur`an surah Al-Kahfi oleh duet Redaksi Maiyah, Mas Helmi dan Mas Jamal.

Mas Sabrang kemudian membabarkan soal peristiwa Rembug Maiyah beberapa lalu. Pada pertemuan itulah kebutuhan akan Piagam Maiyah ditegaskan. Sebagai orang Islam maka acuan dan panutan kita adalah Rasulullah saw, maka Piagam Maiyah yang sedang disusun ini juga sebisa mungkin meniru cara-cara Rasulullah saw dalam penyusunan Piagam Maiyah… eh… Madinah.

Karena nantinya dia akan menjadi pegangan bersama maka tentu akan dibutuhkan adanya struktur yang jelas. Memang ada dibahas mengenai risiko ketika kemudian Maiyah menjadi padatan, tapi sesungguhnya bisa memilih kapan memadat dan kapan cair itulah sesungguhnya alir-aliran kontekstual yang sejati. Bukan terpaku pada harus cair atau harus padat. Karena bukankah, cairan itu juga masih bentuk raga? Mulai men-silmi, mulai melihat tahap molekul. Dia yang bisa megkhalifahi molekul akan memiliki kemampuan mengkhalifahi bentuk.

Mas Sabrang juga menjelaskan bahwa kesadaran manusia dalam berkomunitas memang bergerak. Pada awalnya manusia memilih bentuk yang hirarkis, tinggi-rendah, pengatur-diatur dan sejenisnya. Kemudian manusia mulai menyadari bahwa pentingnya punya hubungan yang asosiasi dimana strata heirarki tidak dipakai. Semuanya ini punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing, di Maiyah kemudian kita menemukan bahwa selalu ada panggonan yang tepat kapan menggunakan starata dan kapan asosiasi. Kesadaran maqom.

Persoalan di manusia modern, atau pasca modern ini mungkin adalah kekeliruan menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya. Istilah kerennya, dhalim. Dalam ranah yang semestinya personal, pencarian hakikat, perjalanan ke dalam diri, banyak yang malah menggunakan strata-hirarkis. Sedang untuk hal-hal yang semestinya menggunakan strata-hierarkis, banyak yang malah ngotot untuk asosiasi setara. Maka ukuran-ukuran ini memang harus presisi. Perlu sudut, jarak dan sisi pandang yang setajam pedang Al-Hakim.

Beberapa pertanyaan dan tanggapan muncul pada sesi ini. Seorang Jamaah bertanya dengan baik sekali, apakah memang Piagam Maiyah sudah dan sedang dibutuhkan? Mas Sabrang mempersilahkan untuk mempertimbangkan masing-masing, tapi melihat fenomena di mana manusia makin kompleks potensi konfliknya Mas Sabrang sendiri merasa memang perlu.

Misal ada yang menyerukan “tidak memperdagangkan Maiyah” di satu sisi itu baik, menunjukkan ketulusan dalam ber-Maiyah tapi kemudian dibenturkan dengan fenomena di Jombang ada tukang mie ayam yang gerobaknya bertuliskan “Maiyah” apakah itu masuk kategori “berdagang Maiyah”? atau sekadar menunjukkan kecintaan terhadap Maiyah? Sementara pihak yang menyerukan “tidak memperdagangkan Maiyah”, bisa saja terjadi sedang menjual slogan “tidak memperdagangkan Maiyah” itu sendiri. Ada lipatan macam begini yang perlu diregulasi memang.

Beragam ekspresi muncul, berbagai tanggapan merekah. Begini ini yang menyenangkan dalam Maiyah. Hujan turun kembali, kopi saya habis. Pesan lagi. Tepat pukul 23.00 WIB KiaiKanjeng naik panggung. Sholawat melantun, Mbah Nun dan Bu Novia datang dengan membersamai beberapa tamu malam itu.

Otentik, Akal Sebagai Ayat Utama

Mbah Nun memulakan dengan membaca ayat Kursi. Pembacaan ayat Kursi oleh Mbah Nun dimaknai sebagai permohonan agar kedudukan tetap terjaga, tetap tegak di antara banyaknya badai, angin yang salah arah, benturan antar lempeng. Banyak makhluk yang tidak kita ketahui, banyak warna yang ghaib yang belum pernah disaksikan manusia. Pemaknaan atas semua ini tentu pembaca yang budiman memiliki elaborasi yang otentik maing-masing.

Hujan memang turun kembali. Cukup deras.

Masing-masing tamu memperkenalkan diri, Seorang ibu paruh baya dengan rambut bergelombang, bersemangat dan menggembirakan. Bicaranya kental logat Sunda-Inggris. Karena Ibu Ade ini memang kelahiran Tasikmalaya kemudian dewasa hingga beranak-cucu di Australia. Ibu Ade bertemu Mbah Nun saat di Australia karena Bu Ade memang bertugas nyupirin tamu-tamu dari Indonesia. Bu Ade rupanya penggemar Letto.

“Aku tuh gak tau kalau dia bapaknya”, kata Bu Ade sambil tertawa lepas. Lepas saja Bu Ade ini. Riang saja.

Namun Bu Ade juga membawakan kisah mengenai pencarian kepada tuhannya yang otentik. Bu Ade bahkan menyebut “Allah aku” Allah yang milikku, Allah yang hanya punyaku.

“Aku gak mau Allah akuh direbut, aku gak mau nanti dia lupa sama akuh” tersembul air matanya. Terisak suaranya. Bercahaya wajahnya. Mas Sabrang menghadiahi “Ruang Rindu” untuk Bu Ade.

Lancar kisah Bu Ade, deras. Sering pula deras air matanya. Pengalaman pencarian kepada Tuhannya sejak kecil, dari desa hingga pengalaman masa-masa tergelap dalam hidupnya. Menurut pengakuan Bu Ade, pengetahuan beliau tentang agama tidak banyak. Bu Ade hanya berkonsentrasi menjaga Allah-nya. Namun beberapa kali bu Ade mengalami tanpa sengaja mengislamkan teman-teman bulenya di Australia. Asal jawab menurut Bu Ade, “Pake akal aja aku mah, kalau ayat-ayat gak ngerti”.

Saya pernah mendengar ada yang bilang Islam itu menyejukkan. Saya sedang tidak membutuhkannya malam itu. Bukan islamnya yang saya tidak butuh, tapi sejuknya. Persoalannya ketika saya berangkat dari rumah ke lokasi majlis ilmu, kegembiraan dan paseduluran Mocopat Syafaat, hujan sedang turun. Dingin.