Daur-II • 130

Berpikir Genap untuk Hidup Ganjil

Maka ketika Tarmihim, Sundusin, dan Brakodin memiliki pilihan titik berat masing-masing dalam memahami firman di An-Nahl 125, berbeda primer-sekundernya, tidak sama manajemen konteksnya, tidak persis strategi aplikasinya, Markesot tidak menggelisahkannya, melainkan justru mensyukurinya dan bergembira.

“Al-Qur`an bukan buku pelajaran Sekolah, bukan kepustakaan akademik di Universitas, juga bukan buku modern kaum cendekiawan turunan pola filosofi dan manajemen ilmu Yunani Kuno”, kata Markesot, “Teman-teman di sekitar saya dan anak cucu sampai generasi kelak di kejauhan waktu, akan terus mengalami kehidupan yang ganjil, sehingga pelatihan utama mereka adalah berpikir genap…”

“Belum pernah mendengar yang ini saya, Cak”, kata Tarmihim.

“Hidup ini penuh keganjilan, maka harus dilayani dengan kebiasaan berpikir yang genap…”

“Hidup ini ganjil bagaimana…”, Sundusin menyusul bertanya.

“Dengan kegenapan pikiran dan ilmu saja tidak mudah mengurusi ganjilnya kehidupan, apalagi kalau pikiran kita sendiri ganjil. Seluruh pengetahuan dan ilmu kita hanya ganjil, sedangkan yang tidak ketahui, yang volumenya jauh lebih besar, adalah kegaiban yang menggenapinya”

“Agak retak kepala saya…”, sahut Brakodin.

“Karena Pencipta semua ini sendiri adalah Sang Maha Ganjil. Satu. Tunggal. Ahad. Tetapi ganjilnya Ahad adalah segenap-genapnya kegenapan. Allah itu Maha Ganjil karena Maha Genap. Allah itu Maha Genap maka terasa ganjil pada terbatasnya penglihatan dan penghayatan manusia. Sudahlah, pokoknya selalu teguhkan ‘Qul Huwallahu Ahad…” [1] (Al-Ikhlas: 1).

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image ornamen-left ornamen-right ornamen-center iqra