Daur-II • 129

Produksi Tuhan dan Nabi-Nabi

“Yang menyedihkan dan menggelikan di zaman sekarang ini”, kata Markesot lebih lanjut, “karena gelombang besar globalisasi, supremasi teknologi supra-modern, dominasi kebudayaan Degan yang dihiasi dengan romantisme Cengkir dan Bluluk, membuat masyarakat penikmat kelapa bergeser pandangan dan seleranya”.

“Pelan-pelan tapi pasti, para pemeluk Agama Kelapa diseret oleh pembiasaan untuk menikmati keyakinan bahwa yang lebih sempurna dan nyaman untuk dinikmati bukanlah kelapa, melainkan degan. Masyarakat Kelapa terpesona oleh hasil-hasil budaya Degan yang sangat memenuhi selera keduniawian, penuh kemewahan, warna-warni dan kenyamanan raga. Sedemikian kuatnya pengaruh peradaban keduniawian itu merasuki jiwa Masyarakat Kelapa, sampai-sampai hampir berubah juga hakiki benih dan akar Kelapa. Tidak sedikit di antara Masyarakat Kelapa yang semakin meyakini bahwa Surga adalah Kebun Degan, Cengkir dan Bluluk…”

Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka, setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu”. [1] (Al-Baqarah: 120).

“Masyarakat Kelapa beramai-ramai turut menuhankan yang bukan Tuhan. Mudah terjebak untuk menabikan yang bukan Nabi. Memalaikatkan yang bukan Malaikat. Mendewakan yang bukan Dewa. Baik di bidang budaya, politik, kepemimpinan, atau juga di dalam urusan Kelapa mereka sendiri. Ummat Kelapa memproduksi Tuhan-tuhan dan Nabi-nabi mereka sendiri yang bukan Tuhan dan Nabi. Mereka masuk Sekolah dan Universitas untuk diajari menganggap dan mempercayai bahwa Bluluk, Cengkir, dan Degan sesungguhnya secara ilmiah dan akademik adalah Kelapa”.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image ornamen-left ornamen-right ornamen-center iqra