Daur-II • 085

Berdetak dan Mengalir

Kalau jasadku sedang berhadats dan belum bersuci kembali dengan wudlu, bolehkah terucap dari mulutku “Subhanallah”, “Alhamdulillah” atau “Bismillahirrahmanirrahim”? Bolehkah aku membaca Al-Qur`an tanpa menyentuh Mushafnya? Bolehkah kata Iqra` melintas di benakku?

Apakah mengucapkannya tidak berarti menyentuhnya? Lebih dari itu: bukankah kata-kata Al-Qur`an itu sudah menjadi bagian dari batinku, dan batinku menjadi bagian dari dirinya? Bahkan andaikanpun tidak kuucapkan dengan bibirku, tidak kubaca dari Mushaf, tidak ada pengucapan dariku dhahir maupun batinku: tidakkah kalimat-kalimat wahyu itu tetap terletak dan berada di dalam batinku, pikiran dan jiwaku, yang belum pernah benar-benar suci itu?

Pernah ada yang menuduh bahwa yang diaku oleh Muhammad sebagai wahyu sebenarnya berita dari Syaithan, sehingga Allah menjawab: “Sesungguhnya Al-Qur`an ini adalah bacaan yang mulia. Pada kitab yang terpelihara (Lauh Al-Mahfudh). Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan. Diturunkan dari Yang Maha Pengasuh. Maka apakah kamu anggap remeh Al-Qur`an ini?[1] (Al-Waqi’ah: 77-81).

Apakah “la yamassuhu” itu konteksnya boleh atau tak boleh, halal atau haram, harus atau jangan, bisa atau tak bisa, mampu atau tak mampu, sampai atau tak sampai, mungkin atau mustahil, diperkenankan atau tak diperkenankan? Wahai ajarkanlah Iqra` kepadaku.

Atau yang dimaksud adalah, misalnya: kecuali jiwamu, pikiran, hati, jiwa, dan hidupmu disucikan oleh Allah, maka engkau mustahil diperkenankan untuk mampu bersentuhan dengan kebenaran informasi Al-Qur`an, maknanya, hidayah dan berkahnya?

Allah Maha Tahu, Iqra`, dan aku amat sangat tidak tahu.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image ornamen-left ornamen-right ornamen-center iqra