Daur-II • 084

Al-Qur`an Melekat Batin

Di malam Maulid Nabi sekaligus Nuzulul Qur`an itu, bolehkah aku meng-Iqra` Al-Qur`an? Atau kapan saja, bolehkah aku membacanya? Lebih jauh lagi: memahaminya, memaknainya, menafsirkannya?

Tapi aku hanya setitik debu. Tak berarti apa-apa di hadapan-Nya, dan bukan siapa-siapa di dunia. Padahal “Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan[1] (Al-Waqi’ah: 79). Apakah Al-Qur`an adalah kesucian muatan wahyu-Nya, ataukah lembaran dan tulisan Mushafnya?

Andaikanpun tidak ada kesepakatan para Ulama untuk melarang aku menyentuh Mushaf Al-Qur`an dalam keadaan berhadats, aku juga tak kan menyentuhnya. Ibu Bapak mengajariku sopan santun. Kotornya diriku tak kan kubiarkan menyentuh Al-Qur`an. Aku sangat mencintai dan menjunjung Al-Qur`an, termasuk Mushafnya, sehingga takkan kukotori.

Tetapi sudah terlanjur ada huruf, kata dan kalimat wahyu Allah yang menempel di dinding batinku, menjadi bagian dari jiwaku, menjadi sesuatu yang mengalir di dalam pikiranku. Kalau “tidak menyentuhnya kecuali orang yang disucikan”, sedangkan pikiranku, batinku, hati dan jiwaku tidak pernah benar-benar suci: bagaimana Iqra` dilaksanakan? Bagaimana cara memisahkan dan mengurai kata-kata wahyu itu, melepas atau memisahkannya dari jiwa kotorku, agar aku tak berdosa?

Kalau memori pikiranku sudah menghapal sejumlah kalimat Al-Qur`an, itu berarti aku bukan hanya menyentuhnya, tapi sudah selalu menempel, melekat, dan menyatu dengannya. Jadi betapa aku selalu berdosa. Meskipun aku selalu menjaga wudlu, tetapi batin dan jiwaku tak pernah benar-benar suci, padahal sejumlah wahyu sudah tak mungkin lagi kupisahkan dan kubuang dari diriku. Ayat-ayat Al-Qur`an berdetak di jantungku, mengalir di darahku, bergetar dalam cintaku.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image ornamen-left ornamen-right ornamen-center iqra