Daur-II • 086

Menyentuh dan Disentuh

Apakah begini maksudnya: kalau engkau tidak dalam keadaan “muthahhar”, maka tiada Iqra`, takkan terjangkau olehmu kabar ilmu dan pengetahuan dari Al-Qur`an, apalagi makna dan hikmahnya, terlebih lagi fungsinya sebagai hidayah Allah. Engkau tidak akan menyentuhnya, atau ia tidak akan menyentuhmu.

“Muthahhar”. Tersucikan atau disucikan. Oleh Allah, karena kemurahan-Nya, cinta dan kedermawanan-Nya. Berarti tindakan pensucian itu harus juga dilakukan oleh diriku dan dirimu sendiri, sehingga ada semacam kerjasama perubahan antara engkau dengan Allah. Sebab “Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan diri mereka sendiri”. [1] (Ar-Ra’d: 11).

Tentu aku dan mestinya siapapun senantiasa harus mengupayakan proses dan tindakan pensucian diri secara keseluruhan dan terus menerus semampu-mampunya. Pensucian secara keseluruhan, dari badan, hati, pikiran, jiwa, perilaku dan bagian apapun saja dari diri. Tak akan kutawar jasad saja ataukah jasad dan batin, tak perduli bagaimana gradasi dan pembatasan hukumnya. Asalkan perkara kesucian, kuambil saja keseluruhan dan keutuhan. Iqra` setuntas-tuntasnya.

Allah berhak menanamkan ilham atau hidayah kepada seseorang yang berada dalam keadaan tidak suci jasad, bahkan tidak suci rohani. Bukankah hidayah adalah justru perkenan Allah kepada manusia kotor untuk disucikan? Allah memegang hak absolut atas apa saja, dan Ia Maha Suci dari bantahan manusia. “Ia menciptakan apapun yang dikehendakiNya. Ia berkuasa atas segala sesuatu”. [2] (Al-Maidah: 17).

“La yamassuhu illal muthohharun” mungkin ternyata efektivitas makna dan manfaatnya adalah soal kita menyucikan diri atau tidak.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image ornamen-left ornamen-right ornamen-center iqra