Adegan Kalimatin Thayyibatin

Penyair dan filsuf asal Jerman, Herman Hesse, mengatakan: “Pohon adalah tempat menumpang hidup.” Ungkapan Hesse mengingatkan saya pada tulisan di pintu triplek sekolah dusun di pesisir selatan Kab. Malang. “Pohon bisa hidup tanpa manusia. Manusia tidak bisa hidup tanpa pohon.” Tidak tahu pasti apakah penggiat pendidikan di dusun terpencil itu pernah membaca karya Hesee? Yang saya tahu, deretan pohon yang merimbun berbaris sepanjang jalan menuju dusun ditanam oleh anak-anak.

Menumpang hidup, seperti yang disampaikan Hesse, tentu tidak berarti manusia nunut urip. Berteduh di bawah pohon, simbol pohon untuk menata struktur pemikiran, hingga pohon yang berfungsi untuk pembanding (musyabbah bih) dalam konsep tasybih, menunjukkan proses perkawinan manusia dengan organisme pohon. Atau kita menggunakan pohon untuk menemukan aplikasi manajemen peran sosial: kita ini manusia akar, manusia batang, manusia ranting, manusia daun, ataukah manusia buah? Menemukan ordinasi-simbol kesadaran peran ini tidak untuk menafikan mekanisme bagian-bagian yang lain.

Dari mana menggunakan pohon sebagai fungsi pembanding ini berasal? Kita akan berurusan dengan foundational text, kata Mas Helmi Mustofa beberapa waktu lalu. Pondasi teks yang paling pondasi yang datang dari masa lalu adalah Al-Qur’an. Dalam surat Ibrahim ayat 24-25, Allah menyebut kata pohon (syajaroh). “Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.”

Kalau kita merujuk pada konsep tasybih, maka “kalimat yang baik” (kalimatin thayyibatin) adalah sesuatu yang dibandingkan (musyabbah). Pembanding (musyabbah bih)-nya adalah “pohon yang baik” (syajarotin thayyibatin) beserta tanda-tanda fisiknya. Antara yang dibandingkan dengan pembanding memiliki sisi fakta yang sama (wajhu al-syibh), walaupun tidak benar-benar persis atau serupa. Kalimat yang baik dan pohon yang baik memiliki titik persamaan fakta, yaitu keduanya dibangun oleh mekanisme yang terstruktur.

Kalimat yang baik—apa yang tergambar dalam pikiran kita? Ia adalah kalimat tauhid dan segala perkataan yang baik. Kalimat yang produk tauhidnya menambah kedekatan kepada Allah. Dan produk sosial budayanya adalah ngajeni sesama manusia. Itu teorinya, masih abstrak, masih ngglambyar. Maka, diperlukan pembanding (musyabbah bih) agar imajinasi kita bergerak dan melukis gambaran itu lebih nyata dan terstruktur. Dipakailah organisme pohon: kalimat yang baik memiliki akar tunggang yang kuat dan menancap ke dalam tanah, batangnya menjulang ke langit, dan selalu berbuah tanpa mengenal musim.

Bagaimana “kaca mata” ini digunakan untuk memahami pohon Maiyah? “Pohon membuat kita terhubung dengan sesama, baik yang hidup di masa sekarang maupun mereka yang hidup di masa lampau dan di masa mendatang. Saat Anda menanam bibit pohon yang mungkin butuh 200 tahun tumbuh menjadi pohon dewasa, Anda bisa merasakan indahnya janji masa depan dan hadiah yang Anda berikan bagi generasi yang belum lahir,” ungkap Fiona Stafford, penulis The Long, Long Life of Trees.

Ungkapan Stafford selain merefleksikan ilmu waktu Nabi Khidir: masa kini, masa depan dan masa lalu, juga mengingatkan pentingnya melacak dan menemukan akar DNA masa lalu sebagai konsekwensi gerak kontinuasi masa kini dan masa depan. Dan semua itu merupakan “menu” ilmu di Maiyah.

Alangkah indah dan akurat ketika Maiyah menggunakan epistemologi tasybih: bertanam di Kebun Maiyah. Gerak organisme Maiyah merupakan kalimatin thayyibatin yang tumpuan utamanya adalah tauhidullah. Sedangkan di Kebun Maiyah tumbuh pohon (syajaroh) yang produk sosialnya adalah buah-buahan yang tak mengenal musim. Konsep tasybih Kebun Maiyah sendiri merupakan benih unggul yang tak kalah dahsyat untuk menghasilkan bebuahan ilmu dan kesadaran.

Ketika membaca catatan saksi mata Pak Bobit pada Sinau Bareng di Lapangan Bola Desa Pabean Sedati Sidoarjo, saya benar-benar merinding. “Kejadian itu muncul sangat kuat saya rasakan getarannya ketika Cak Nun bacakan Surat An-Nuur, dan kemudiaan ketika sampai pada penutup doa yaitu kalimat kun fayakun yang diulang tiga kali bersahutan dengan jamaah sungguh menggetarkan bumi dan langit. Betapa tidak, karena puluhan ribu jamaah memenuhi tanah lapang nan luas dengan suara menggetarkan memecah keheningan langit malam memekikkan “kun fayakun” secara serentak bersama atau mboto rubuh dalam bahasa Jawanya.” Mboto Rubuh Langit Bumi Kun Fayakun.

Apakah kita telah menemukan formula akar, batang dan buah pada realitas yang dicatat Pak Bobit—adegan kalimatin thayyibatin, sebuah perumpamaan yang nyata dari Allah? []