Mboto Rubuh Langit Bumi Kun Fayakun

Ndilalah-nya saya tak bisa turut serta mengikuti Sinau Bareng di Lapangan Bola Desa Pabean Sedati Sidoarjo dua hari lalu. Tapi sudah merupakan rezeki anak sholeh (hehe), ada yang berbaik hati mengirimkan catatan kepada saya dan saya rasa perlu saya bagi buat antum semua.

Siang dua hari lalu, Pak Bobiet, keyboardis KiaiKanjeng, hadir lewat notifikasinya ke WA saya. Diceritakan kepada saya kesaksian atas jalannya Sinau Bareng di Sedati. Beliau ceritakan apa yang dialaminya. Beberapa hal yang diamati. Potongan-potongan peristiwa atau pemandangan yang, dalam bahasanya, membuatnya tak habis mengerti.

Puluhan ribu jamaah antri satu setengah jam untuk salaman dengan Mbah Nun. Foto: Adin
Puluhan ribu jamaah antri satu setengah jam untuk salaman dengan Mbah Nun. Foto: Adin

“…saya mencatat mengamati merasakan menyaksikan beberapa hal yang sungguh sangat membuat saya nggak habis mengerti. Pertama, ketika KiaiKanjeng menuju lokasi, saya sempat menghitung tempat parkir, dari tempat parkir pertama yang berjarak paling jauh 1,5 km dari lokasi sampai tempat parkir kedelapan yang terdekat berjarak 300 meter dari lokasi, tidak ada yang kosong dari satu sepeda motor atau satu mobil pun,” tulis Pak Bobiet.

Seperti terlihat pada foto-foto yang malam itu saya simak, animo masyarakat memang sangat tinggi untuk menghadiri Sinau Bareng ini. Rekan-rekan yang hadir di sana pun membenarkan hal yang sama. Dan pengamatan Pak Bobiet atas delapan area parkir tadi melengkapi informasi itu.

Itu pengamatan pertama Pak Bobiet. Berikutnya?

“Kejadian saat puncak acara yaitu doa penutup berlangsung sangat membuat saya dan teman-teman merinding…bagaimana tidak, karena baru kali ini secara kualitas kuantitas audiens (jamaah) sangat luar biasa. Kejadian itu muncul sangat kuat saya rasakan getarannya ketika Cak Nun bacakan Surat An-Nuur, dan kemudiaan ketika sampai pada penutup doa yaitu kalimat kun fayakun yang diulang tiga kali bersahutan dengan jamaah sungguh menggetarkan bumi dan langit. Betapa tidak, karena puluhan ribu jamaah memenuhi tanah lapang nan luas dengan suara menggetarkan memecah keheningan langit malam memekikkan “kun fayakun” secara serentak bersama atau mboto rubuh dalam bahasa Jawanya.”

Pak Bobiet lalu menuturkan bahwa suara kejadiaan kedahsyatan ini baru dialaminya sekali di sini selama berada Ngaji Bareng bersama KiaiKanjeng.

Hal menggetarkan lainnya adalah saat bersalaman di akhir acara.

“Baru malam ini saya melihat Cak Nun mau duduk di kursi dengan setengah dipaksa tim “security” CNKK yang bertanggung jawab atas posisi kondisi keadaan dsb atas Cak Nun. Tentu bukan tanpa alasan Cak Nun dipaksa untuk harus duduk di kursi di atas panggung, karena bisa dibayangkan betapa capek punggung kaki bahu ketika Cak Nun harus berdiri menyambut puluhan ribu tangan tangan jamaah yang tertib mengantre gilirannya tiba di depan Cak Nun untuk berjabat tangan,” tulis Pak Bobiet menggambarkan.

Lebih jauh dikatakan, “Subhanallah saya bisa petakan mungkin…dari puluhan ribu jamaah itu hanya sekitar 150-an orang saja yang tidak ikut bersalaman. Dan dari sejak Cak Nun duduk di kursi, masih butuh waktu kurang lebih satu setengah jam untuk meladeni jabat tangan jamaah itu. Dan dampak dari antrean panjang jamaah itu menciptakan kenyamanan kelancaran tersendiri bagi semua tempat penitipan/parkir sepeda motor dan mobil, karena jamaah seperti sudah terbagi dengan sendirinya layaknya kloter pemberangkatan haji sehingga lancar tidak ambyuk byuk mengambil kendaraan secara massal dan bersamaan.”

Begitulah tiga informasi yang saya terima dari Pak Bobiet. Tak hanya isinya yang saya simak dengan baik, tetapi ada satu hal yang membuat saya salut dan angkat topi. Ya siapa lagi kalau bukan kepada Pak Bobiet sendiri. Di tengah perjalanan balik menuju Jogja, yang baru start dari Sidoarjo pukul 03.00 dinihari, Pak Bobiet masih sempatkan bikin coretan yang di-WA kan ke saya. Beberapa kali memang beliau lakukan hal yang sama manakala ada informasi atau pengamatan yang dipunyainya menyangkut Sinau Bareng. Tujuannya sangat mulia: “…mudah-mudahan bisa untuk nambahi yang belum tercover.”

Yang seperti ini membikin saya merasa dan menyaksikan bahwa beliau bukan seorang player atawa musisi saja, yang sebenarnya tugasnya pun tak ringan, tetapi seseorang yang punya kepedulian plus. Ia mengamati tak hanya sepetak tempat di depan matanya, tetapi lebih luas dan mendalam dari itu. Itu sebabnya fenomena parkir, salaman, dan suasana spiritual pekik Kun Fayakun tak luput dari penangkapan spiritualnya.

Itulah rekaman Pak Bobiet. Kalian pastinya juga punya rekaman lain yang bisa memperlengkapi dan memperkaya lagi! (hm)

Ndilalah-nya saya tak bisa turut serta mengikuti Sinau Bareng di Lapangan Bola Desa Pabean Sedati Sidoarjo dua hari lalu. Tapi sudah merupakan rezeki anak…