Bincang Siang di Mandurah Foreshore

Bersentuhan dengan orang atau komunitas yang memiliki perbedaan lingkungan atau karakter budaya dengan kita mensyaratkan kita punya perspektif yang kaya dan kerapkali harus disertai sikap simpatik dan empatik. Dalam cara itu, hubungan interaktif yang terbangun dapat diwarnai saling pengertian dan penghargaan.

Bincang santai di Mandurah Foreshore.
Bincang santai di Mandurah Foreshore.

Hari terakhir Mbah Nun dan Bu Via di Australia, 25 September 2017, beliau berdua diajak teman-teman panitia ke Mandurah Foreshore. Sebuah tempat di tepi kanal kecil yang masih menjadi bagian dari pantai. Di sekelilingnya adalah tanah lapang yang ditumbuhi rerumputan dan pohon-pohon. Siapapun dapat menikmati keindahan suasana di sini.

Di Mandurah Foreshore ini, beliau berdua bertemu teman-teman Indonesia yang menjalani mixed marriage. Inti acaranya adalah berbagi kisah suka duka dan tantangan hidup yang mereka alami di sana. Yang hadir sekitar 20-an orang yang tinggal di Mandurah dan sekitarnya. Mereka berasal dari Jawa, Sunda, Bali, Batak, dan Kalimantan. Tidak semuanya muslim. Formatnya ngobrol santai di tepi kanal itu. Masing-masing yang datang membawa makanan atau istilahnya Potluck. Mirip kumpul bersama keluarga atau kerabat dekat.

Merespons kisah-kisah mereka, Mbah Nun berdiri sebagai outsider (dengan pandangan multiperspektif dan sikap non judgemental-nya) sekaligus mencoba masuk sebagai insider (dengan perasaan empati dan simpati yang dikedepankannya). Mbah Nun mengatakan, sebenarnya dalam arti yang luas semua manusia mengalami mixed marriage.

Ihwal mixed marriage yang teman-teman jalani itu, Mbah Nun merasa tidak ada masalah dengan itu semua. Yang penting pernikahan itu antara “manusia” dengan “manusia”. Yang utama adalah menjadi manusia, yakni menjadi manusia yang baik. Dalam hal ini menjadi suami atau istri yang baik. Ringkasnya, yang nomor satu adalah menjadi manusia. Serta kemudian yang penting, di dalam berkeluarga mereka hidup dengan benar, berbuat baik, saling cinta, tidak menyakiti, dan saling mengamankan. Jika mungkin ada masalah yang berkaitan dengan aturan, fiqih, syariat, kita memohon kepada Allah agar dimaafkan jika kita salah.

Yang nikmat itu adalah berjuang.
Yang nikmat itu adalah berjuang.

Apa yang mereka alami menyodorkan contoh bahwa memang kerap terjadi perbedaan-perbedaan dalam sebuah keluarga. Kepada teman-teman itu, Mbah Nun mengatakan, memang ada masalah-masalah yang bisa diatasi dan ada yang tidak, dan semoga Allah memberikan yang terbaik. Dalam kehidupan ada yang pasti dan ada yang harus diperjuangkan. Penderitaan yang dialami harus disyukuri karena tidak mungkin mengetahui cahaya bila tidak mengalami gelap.

Bincang-bincang itu tak hanya soal mixed marriage. Ada yang pingin tahu apakah memang nama yang diberikan kepada kita adalah sebuah doa. Respons Mbah Nun, itu semua tergantung yang memberi nama apakah dimaksudkan untuk doa atau tidak. Lalu beliau cerita pengalamannya sendiri selama ini.

Setiap hari beliau diminta memberikan nama bayi dan diberikanlah kepada bayi-bayi itu nama dengan komposisi terbaik. Yang bertanya ini ayahnya Sunda dan ibunya Banjar, tetapi diberi nama Jawa yang dia tidak tahu artinya. Setelah dewasa dan kuliah, dia bertemu teman yang orang Dayak tetapi diberi nama Ariyanto. Mengapa? Orangtuanya memberi nama Jawa karena anggapan yang diyakininya: orang dengan nama Jawa mudah dapat kerja. Dan itu juga bentuk doa orangtua menurut Mbah Nun. Banyak juga kasus memang nama itu berpengaruh kepada kehidupan seseorang.

Soal-soal seperti itu juga pararel dengan sikap kita terhadap Primbon atau Zodiak. Bagi Mbah Nun, sebaiknya kita jangan menyalahkan dan jangan pula mati-matian membenarkan. Karena dalam konteks ini, tidak ada yang pasti benar di dunia ini. Banyak hal yang dinamis yang kadang membawa kita mengerti bahwa pandangan sebelumnya tak akurat lagi.

Lama di Australia tapi tidak kehilangan keIndonesiaan mereka.
Lama di Australia tapi tidak kehilangan keIndonesiaan mereka.

Kepada teman-teman Indonesia di Australia, termasuk mereka yang menjalani mixed marriage, Mbah Nun menyatakan kebanggaannya karena mereka tidak hilang keIndonesiaannya meskipun sudah 20 tahun di sana. Beliau melihat mereka adalah orang-orang yang tangguh, entengan, sabar, dan telaten.

Bagi Mbah Nun sendiri, obrolan siang di pinggir kanal pantai Mandurah itu adalah pertemuan untuk menambah kegembiraan dan kemantapan perjuangan mereka, karena memang yang nikmat adalah berjuang. (AS/JJ/HM)

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image