Lahap Mencari Nilai-nilai Kebenaran yang Tidak Mengusik Orang Lain

Catatan Majelis Mayah Bangbang Wetan Desember 2018

Alhamdulillah, Bangbang Wetan edisi penghujung tahun 2018 dapat diselenggarakan pada Senin, 24 Desember 2018, di Universitas Islam Negri Sunan Ampel Surabaya (UINSA). Atas dukungan dari pihak Universitas melalui kerjasama antara Penggiat Bangbang Wetan dengan Mahasiswa UINSA yang juga Jamaah Maiyah, khususnya Fakultas Tarbiyah.

BBW Desember mengambil tema “Abu Lahap”. Tema yang merupakan deviasi dari nama salah satu paman Rasulullah ini bermaksud mengajak jamaah mendiskusikan fenomena di masyarakat terkait dengan sosok Abu Lahab. Sebuah personifikasi dari kerakusan, tidak mengenal kata puas dan membenarkan segala cara untuk ambisi badaniah.

Seusai pembacaan ayat suci Al-Qur`an, wirid Maiyah dan Sholawatan, acara dibuka oleh Kelompok Seni Banjari dari UINSA. Mukadimah dari Wakil Rektor UINSA ikut menyempurnakan sesi pembukaan. Satu kalimat yang sempat terucap dari beliau adalah, “Maiyah merupakan forum yang sangat membahagiakan dan mencerahkan bagi pemuda”.

Sambutan dari perwakilan Fakultas Tarbiyah pun tak kalah menggembirakan karena beliau secara umum menyambut baik terselenggaranya acara serta kehadiran ribuan jamaah. Selanjutnya, Pak Dudung sebagai Gubernur Bangbang Wetan mengucapkan banyak terimakasih kepada pihak rektorat UINSA yang berkenan memberikan izin dan segala fasilitas sehingga forum Bangbang Wetan bisa tetap terselenggara.

Fragmen pembukaan itu diakhiri dengan tampilnya UKM Musik USB dari UINSA yang membawakan beberapa lagu bercorak religi. Pembawa acara kemudian mengundang beberapa jamaah untuk bergabung di atas panggung untuk melontarkan ide, kesan dan harapan mereka terhadap Bangbang Wetan. Salah satu dari mereka memaparkan pengalaman personalnya yang didapat setelah mengikuti beberapa kali acara Maiyahan yaitu peningkatan intensitas ibadah dan ketentraman hati.

Terhadap pernyataan seorang jamaah tentang terlampauinya satu masalah, Mas Acang sebagai salah satu tim penggodok tema memberikan responsnya dengan sebuah pertanyaan, “Terlampaui karena masalahnya hilang atau karena anda telah memiliki cara mengatasi masalah tersebut?” Ditambahkan olehnya bahwa “sak apik-apik e barang lek atimu tidak menerima, lek atimu gak jembar tetap akan tidak tumbuh dan menjadi sesuatu yang berguna atau bisa memberi manfaat.”

Mas Karim yang sedang melakukan penelitian dalam rangka penyelesaian disertasinya dan telah mengikuti Bangbang Wetan sebanyak kurang lebih enam kali mengatakan pernah datang di majelis Maiyah yang secara rutin diselenggarakan di lima simpul atau kota besar (Jombang, Yogyakarta, Jakarta, Semarang, dan Surabaya). Menurutnya, hanya Bangbang Wetan yang lokasi penyelenggaraan acaranya sering berpinda-pindah. Hal ini di satu sisi menunjukkan ada satu “permasalahan” yang harus segera diurai namun lebih daripada itu menunjukkan kelenturan atau fleksibilitas Bangbang Wetan. Termasuk BBW malam itu yang untuk pertama kalinya dilaksanakan di kampus secara “mandiri”. Artinya tidak menjadi rangkaian dari acara Sinau Bareng bersama Mbah Nun dan KiaiKanjeng.

Pemuda Wonosobo yang program doktoralnya sedang ditempuh Universitas van Amsterdam itu selanjutnya mengajak jamaah untuk bukan hanya Maiyahan di acara Sinau Bareng dan event lain di luar kampus. Namun juga mulai dirintis acara sewarna di dalam lingkungan perguruan tinggi. Ekses dari mengikuti Maiyahan tampak ketika seorang akademisi dipersilakan bicara di “panggung”, mereka akan mengalami fase nervous yang tidak jarang pembicaraannya menjadi kehilangan nilai akademis. Namun seorang Jamaah Maiyah dari kaum “embongan” akan dengan santainya mengungkapkan pemikiran maupun impresi yang dirasakannya.

Manurutnya, secara sederhana terdapat tiga jenis kampus di Indonesia, yaitu:  Kampus Umum (teknik, kedokteran, biologi); Kampus Keagamaan (IAIN sekarang menjadi UIN); dan Kampus Seni (Institut Seni). Mereka yang datang dari ketiga jenis kampus ini sering memperlihatkan wacana dan perilaku yang justru tidak relevan terkait kemampuan mereka beradaptasi pada tataran kehidupan nyata di masyarakat.

Mereka yang datang dari universitas hanya fokus pada bidang sains yang mereka anggap sangat ilmiah. Sebaliknya, yang datang dari UIN hanya berpikir masalah keagamaan tetapi gagap ketika bicara mengenai, misalnya, fiqih pertanian, atau fiqih ­“kasunyatan” yang berkenaan dengan now-how dalam hidup sehari-hari. Pada saat yang sama, para pembelajar seni teryata gagap jika ditanya mengenai hal ihwal sisi keilmuan, keagamaan maupun penelitian.

Kandidat Doktor yang mengambil fokus penelitian tentang peran (masyarakat) Maiyah dalam proses saling mengamankan kehidupan bermasyarakat ini kemudian menambahkan bahwa Maiyah menawarkan ketiga aspek tersebut secara komprehensif. Ketiga hal tersebut meliputi: intelektualitas (mempelajari kecerdasan), estetika (mempelajari seni dan keindahan), dan etika (mempelajari hubungan antar manusia dengan salah satu titik berat pada perihal hak dan kewajiban).

Satu penelitian atau kajian yang dilakukan di perguruan tinggi selalu menekankan objektifitas. Parameter yang dipakai adalah validitas dan reliabilitas. Contohnya, saat belajar ilmu biologi objek yang diteliti adalah makhluk hidup. Fokus utamanya lebih pada sang objek. Akan tetapi di Maiyah, yang menjadi fokus kajian, diskusi bahkan materi pencarian solusi (ndandani) adalah subjeknya. Jadi apa pun yang dipelajari seseorang, dari latar belakang serta status sosial apa pun yang paling penting adalah bisa memberi makna atas diri sendiri. “Seseorang yang menekuni ilmu matematika dari S1, S2 hingga bahkan S3 adalah teladan yang baik terkait niat dan ketekunan. Namun akan jauh lebih mulia jika orang tersebut menjadikan dirinya bisa memberi lebih banyak manfaat dengan ilmu yang ditekuninya,” demikian Mas Karim memberi contoh sekaligus mengakhiri uraiannya.

Sesi berikutnya diisi oleh Mas Rahmad, salah satu tetua dan peletak dasar terlaksananya forum Bangbang Wetan. Beliau memaparkan dalam ber-Maiyah terdapat beberapa prinsip dasar, di antaranya:

  1. Bebas merdeka, yakni sampean betah tetap duduk sampai acara selesai atau karena satu dan lain hal memilih pulang adalah satu kebebasan individual.
  2. Siapa pun boleh berbicara serta siapa pun berhak mendengar apa yang ingin di didengar.
  3. Sebagai bagian dari adab kepada guru, jangan pernah memaksakan kehendak. Misalnya, berkenaan dengan hadir atau absennya mereka jangan pernah mengharuskan, misal, Kyai Muzammil untuk datang di setiap forum Bangbang Wetan. Hal yang seperti ini berlaku istilah “ndak ilok”.

Siapa saja yang mengalirkan ilmu adalah berkah di forum tersebut. Bahwa Mbah Nun sesekali bisa hadir, hal itu adalah sebentuk bonus dari Allah. Ditegaskan kembali oleh Mas Rahmad bahwa siapapun boleh berbicara di Maiyah. Seperti siapa pun boleh menyampaikan pendapatnya.

Terhubung dengan tema, beliau mencontohkan pada proses masuknya mahasiswa di sebuah perguruan tinggi yang harus dilalui dengan jalan berebut, berkompetisi. Karena dasar dari perebutan itu adalah keinginan untuk hidup yang lebih baik dan bukan untuk memperoleh ilmu yang tepat, maka sejak semester awal sudah muncul perasaan bimbang mengenai kemampuan memenangkan kompetisi berikutnya di pasar kerja. Secara sederhana, semua aktifitas yang dilakukan selalu berorientasi pada perolehan “bathi” dalam bentuk nominal atau materi.

Kalimat penutup dari Mas Rahmad adalah ajakan untuk tidak menelan mentah-mentah segala informasi yang kita dapatkan. Hal ini akan membawa kita pada satu bentuk perilaku seperti yang yang diingankan oleh mereka yang memberikan informasi tersebut.

Kyai Muzammil membuka uraiannya dengan melemparkan sebuah pertanyaan, “Kamu tahu rahasianya kenapa Allah bersembunyi?” Beberapa jawaban spontan jamaah yang malam itu memadati gedung Sport Center diafirmasi oleh beliau dengan jawaban bahwa, “Tuhan iku melihat sopo sing iman tenan. Kalau Allah terlihat, bisa jadi orang beribadah hanya karena mengharapkan suatu imbalan. Bisa bersholawat dengan khusyuk dan menundukkan kepala tanpa pernah bertatap muka secara langsung dengan Kanjeng Nabi adalah satu indikator iman dan kecintaan.

Mbah Nun beberapa kali mengatakan bahwa guru bukanlah sebuah profesi. Sebagai contoh, kita dapat belajar dari anjing yang mengonggong, kucing yang memakan ikan, atau belajar kepada seekor semut sekalipun. Kalau kita memiliki niat kuat untuk hanya berguru, siapapun bisa menjadi guru bagi kita. Di dalam ber-Maiyah, beliau mengingatkan ucapan Mbah Nun untuk tidak melihat siapa yang berbicara atau siapa yang menyampaikan informasi. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana menyikapi atau memaknai apa yang disampaikan sesuai dengan diri kita. Di dalam Maiyah, penggolongan sebuah lagu ke dalam genre tertentu, misalnya religi, bersifat sangat individual. Kita bisa menjadi subjek yang punya kebebasan memasukkan sebuah lagu ke dalam kategori religi atau bukan. Menurut Kyai yang memiliki satu Pondok Pesantren di kawasan selatan Yogya ini, semua masalah bisa diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat. Setidaknya, manfaat bertambahnya pengetahuan dan pengalaman.

Menukik ke tema, Kyai Muzzamil menyampaikan bahwa lahap sebagai kata sifat harus menyertai setiap upaya pencarian kita mengenai nilai-nilai kebenaran. Satu hal yang sangat penting adalah jangan sampai proses itu mengusik orang lain. Satu bentuk kelahapan bisa membawa kita pada satu penyakit. Lahap yang melampaui batas bukan lagi lahap, tapi rakus. Dilanjutkan oleh beliau bahwa perilaku lahap dalam beberapa hal justru bisa menjadi indikator bagi kesehatan seseorang. Salah satu kriteria berkenaan dengan jenis makanan adalah hanya makanan yang sehat yang bisa kita konsumsi. Namun bila saat makannya terlalu lahap, maka yang menjadi akibat adalah datangnya beberapa macam penyakit.

Rangkaian acara Bangbang Wetan di kampus UINSA itu kemudian diakhiri oleh Kyai Muzzamil dengan doa. Terus pelajari dan segera temukan diri sepanjang upaya kita mempelajari dan menemukan Maiyah itu sendiri. Sampai bertemu di Bangbang Wetan 2019. (STA/AJB/WW)

Buku Cak Nun