Membaca ayat-ayat Allah yang tidak difirmankan

Catatan Kenduri Cinta edisi April 2022

Catatan dalam arsip Kenduri Cinta, terakhir kali KiaiKanjeng hadir di Jakarta adalah pada edisi Desember 2018. Saat itu Kenduri Cinta mengangkat tema Waras-atul Anbiya. Jeda waktu cukup lama, hingga akhirnya pada bulan April ini Mbah Nun bersama KiaiKanjeng berkesempatan hadir kembali di Kenduri Cinta, Sabtu 9 April 2022.

Dok. Kenduri Cinta.

Banyak dari teman-teman Jamaah Maiyah menyebut Kenduri Cinta edisi April 2022 kali ini adalah momen berbuka puasa. Tidak berlebihan karena Jamaah Maiyah di Kenduri Cinta menjalani jeda cukup lama tidak bertemu dengan KiaiKanjeng, terlebih dua tahun terakhir ini kita semua sama-sama mengalami masa pandemi Covid-19 sehingga ruang gerak kita sangat terbatas.

Alhamdulillah, tentu saja kita bersyukur dengan situasi dan kondisi saat ini. Belum benar-benar bisa lepas dari situasi pandemi memang, namun dengan berbagai macam persiapan yang sudah dilakukan, setidaknya kita sudah lebih siap menyelenggarakan Maiyahan di saat-saat sekarang ini. Maka dari itu, proses registrasi untuk jamaah pun tetap dilakukan oleh teman-teman penggiat Kenduri Cinta untuk tahap awal pendataan. Saat jamaah datang di lokasi pun, sebisa mungkin protokol kesehatan diberlakukan.

“Anda semua sudah kangen dengan KiaiKanjeng kan?” Mbah Nun menyapa jamaah malam itu. Mbah Nun sepertinya sudah tidak sanggup menahan kerinduan untuk bertemu dengan anak-cucu Jamaah Maiyah di Kenduri Cinta malam itu, sehingga forum yang biasanya diawali dengan sesi mukadimah oleh penggiat Kenduri Cinta pun tidak dilaksanakan, karena Mbah Nun sudah langsung naik ke panggung, bahkan saat jamaah yang datang ke lokasi masih sedikit. “Aku yo wis kangen karo kowe!” ungkap Mbah Nun.

Wa kafaa billahi ilaaha
Wa kafaa bilaahi robba
Wa kafaa billahi ‘aliimaa
Wa kafaa billahi khobiroo

Wa kafaa billahi syahidaa
Wa kafaa bilaahi waliyya
Wa kafaa billahi wakiilaa
Wa kafaa billahi nashiroo

Wa kafaa billahi hayya
Wa kafaa billahi qoyyuma

Saat Maiyahan belum dimulai, beberapa jamaah sudah tampak menempati area duduk di depan panggung, Mbah Nun mengajak mereka rengeng-rengeng. Dibantu Mas Islamiyanto, Mbah Nun menuntun salah satu wirid yang disusun dalam Wirid Tawassulan. Wirid tersebut ditulis Mbah Nun dalam rangka meneguhkan sikap ridla dalam diri kita masing-masing, karena sejatinya hanya Allah yang mampu menjamin kehidupan kita.

Untuk melambari Kenduri Cinta malam itu, Mbah Nun menyitir Al Qur`an surat Al-Kahfi ayat 109; Qul lau kana-l-bahru midadal li kalimati robbi la nafida-l-bahru qobla an tanfada kalimatu robbi wa law ji’na bi mitslihi madada.

Katakanlah, Kalau sekiranya laut menjadi tinta untuk kalimat-kalimat Tuhanku maka sungguh habislah laut itu sebelum habis kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu pula.

Ayat tersebut ditadabburi kembali oleh Mbah Nun untuk mengajak jamaah kembali muroja’ah mengenai ayat-ayat yang tidak difirmankan oleh Allah. Dari ayat tersebut, Mbah Nun menyampaikan bahwa ada banyak sekali ayat-ayat Allah yang tidak difirmankan secara tekstual, yang bahkan apabila kita menulisnya dengan tinta sebanyak air laut, maka ayat-ayat tersebut belum selesai dituliskan semuanya, sekalipun didatangkan kembali tinta dengan jumlah yang sama banyaknya.

Saat personel KiaiKanjeng sudah berada di panggung secara lengkap, Mbah Nun bersama KiaiKanjeng membawakan Shalawat Tarhim dengan nada dan irama seperti yang biasanya kita dengarkan dari rekaman Syaikh Mahmud Khalil Al-Khusairy yang kemudian diaransemen medley dengan nomor shalawat Yaa Imaamar rusli Yaa Sanadi. Sedikit insight, shalawat tarhim versi original direkam di Solo, tepatnya di studio rekaman Lokananta.

Setelah nomor pertama itu, Mbah Nun menyampaikan informasi bahwa silaturahmi KiaiKanjeng di Jakarta kali ini juga dalam rangka rangkaian Sinau Bareng yang pada hari berikutnya di Masjid At Taufiq Lenteng Agung atas undangan Ketua Umum PDI-P Ibu Megawati Soekarnoputri.

Mbah Nun menceritakan mengapa akhirnya mengiyakan undangan Bu Mega tersebut setelah 3-4 tahun terakhir belum bisa memenuhi undangan tersebut. Mbah Nun menyampaikan bahwa saat ini yang ditekankan adalah ilmu ridla. Mungkin ada satu-dua hal yang kita tidak setujui dengan orang lain, tetapi jangan sampai ketidaksetujuan itu kemudian membuat kita terpecah-belah. Mbah Nun mempertimbangkan bahwa ada hal yang lebih penting untuk dibicarakan bersama di atas kepentingan sempit sebagian golongan semata.

Mbah Nun menambahkan, ridla itu tidak sama dengan tidak marah. Ada hal yang mungkin membuat kita marah, tetapi tetap pada akhirnya kita mampu untuk ridla. Satu hal kecil dicontohkan oleh Mbah Nun, jika suatu hari di jalan mobil kita disrempet pengendara yang lain. Pada momentum tersebut, Allah sangat dengan mudah bisa menghindarkan peristiwa tersebut, tetapi Allah tetap membiarkan terjadinya mobil bersrempetan. Maka selanjutnya adalah tentang bagaimana kita ridla dengan ketentuan yang sudah ditetapkan Allah. “Jika kamu sudah ridla, maka Allah akan menjamin jalan keluarnya,” Mbah Nun menambahkan.

Sejatinya, ridla kita itu adalah ridla terhadap kehendak Allah. Sederhananya, kenapa sebuah peristiwa tidak dicegah oleh Allah untuk tidak terjadi, maka kita harus meyakini bahwa peristiwa tersebut merupakan bagian dari ketentuan Allah, dan sikap kita adalah ridla. “Ridlaku adalah untuk ketentuan Allah,” tegas Mbah Nun.

Dok. Kenduri Cinta.

Kegembiraan di Kenduri Cinta malam itu membuncah dengan nomor-nomor yang dibawakan KiaiKanjeng. Setelah di awal nomor Ya Thoybah dibawakan secara terbang dan aransemen modern ala KiaiKanjeng, nomor medley One More Night-Beban Kasih Asmara pun dibawakan. Malam itu, Kenduri Cinta bergembira dan berbahagia atas kehadiran KiaiKanjeng. Semakin lengkap ketika medley Nusantara juga dibawakan. Semua bernyanyi bersama, bergembira bersama, bersyukur bersama.

Sedikit mengulas mengenai Drama Mlungsungi, Mbah Nun menyampaikan bahwa naskah Drama tersebut disusun dalam rangka melahirkan kesadaran bersama untuk kita semua mampu lahir kembali. Selama ini kata Mlungsungi hanya digambarkan pada fenomena bergantinya kulit dari seekor ular. Bagi Mbah Nun, Mlungsungi itu lebih luas dari sekadar bergantinya kulit ular itu tadi.

Terlebih jika kita melihat permasalahan di Indonesia, Mbah Nun menjelaskan bahwa ada banyak hal yang harus terlebih dahulu dibereskan dari sekadar mengganti Presiden. Jika kita hanya membicarakan mengenai proses pelengseran penguasa, itu bukan solusi yang efektif menurut Mbah Nun. Mbah Nun kembali menekankan pentingnya kita memahami apa perbedaan antara Negara dengan Pemerintah. Bagaimana seharusnya Pemerintah memposisikan dirinya di hadapan rakyatnya. Bagaimana seharusnya konstitusi ditegakkan dan dipatuhi oleh seluruh elemen bangsa. Sementara hari ini kita menyaksikan banyak sekali hal-hal yang mendasar itu justru terbolak-balik penempatannya.

“Drama Mlungsungi itu bukan pementasan teater, melainkan adalah doa saya dan teman-teman (Reriungan Teater) di Jogja,” ungkap Mbah Nun. Dan memang sejak dulu, saat menulis sebuah naskah drama, Mbah Nun selalu menitikberatkan bahwa naskah tersebut ditulis bukan atas tujuan utama untuk pementasan teater, melainkan sebagai salah satu media untuk berdoa.

Mbah Nun mencontohkan bagaimana ketika naskah Lautan Jilbab difragmenkan oleh Sanggar Salahuddin UGM. Saat itu sangat sedikit perempuan di Indonesia yang mengenakan jilbab. Mbah Nun menegaskan bahwa naskah Lautan Jilbab itu ditulis bukan dalam rangka menasionalisasikan jilbab di Indonesia, melainkan lebih inti dari itu, yang diperjuangkan Mbah Nun adalah hak para perempuan untuk memilih jenis pakaian seperti apa yang ingin ia kenakan. Dan hari ini kita justru benar-benar menyaksikan Lautan Jilbab di Indonesia.

Lautan Jilbab sendiri menjadi salah satu fenomena pementasan teater di Indonesia yang mampu menyedot perhatian masyarakat. Bahkan saat dipentaskan di Stadion Wilis, Madiun, jumlah penonton mencapai 35.000. Angka tersebut berdasarkan jumlah tiket yang terjual dan kapasitas stadion itu sendiri.

Rencananya, setelah dipentaskan di Taman Budaya Yogyakarta akhir Maret lalu, bulan ini Drama Mlungsungi akan dipentaskan di Padhangmbulan pada 16 April 2022. Mbah Nun pun menyampaikan rencana dan harapannya kepada Jamaah Maiyah di Kenduri Cinta bahwa naskah Mlungsungi itu juga akan dipentaskan di Kenduri Cinta dengan konsep reriungan seperti di Padhangmbulan.

Tentu saja, pementasan ini menjadi tanggung jawab kita bersama-sama untuk bareng-bareng nyengkuyung persiapannya. Mbah Nun meminta penggiat Kenduri Cinta menyusun konsep l(ebih detail untuk bagaimana agar Jamaah Maiyah di Kenduri CInta bisa ikut terlibat untuk bareng-bareng reriungan mempersiapkan segala sesuatunya agar naskah Drama Mlungsungi bisa dipentaskan di Kenduri Cinta. Karena, Mbah Nun berharap pementasan Mlungsungi di Kenduri Cinta diselenggarakan di area terbuka dan tanpa tiket yang dijual. Namun, tentu saja bukan kemudian kita abai untuk tidak memikirkan ubo rampe persiapan teknis dan non teknisnya. Bagaimana agar panggung, sound system, lighting hingga keperluan logistik para pemain teater bisa diupayakan, tentu tetap harus dipikirkan secara detail. Mbah Nun pun mengajak Jamaah Maiyah Kenduri Cinta bersinergi bersama teman-teman penggiat Kenduri Cinta untuk menyusun konsep yang penuh maslahat untuk kepentingan bersama ini.

Ditekankan oleh Mbah Nun, semangat reriungan yang dilakukan oleh 3 generasi pemain teater di Yogyakarta dalam pementasan Drama Mlungsungi ini bukan hanya semangat untuk berkumpul lalu mementaskan sebuah naskah. Tetapi, ada nilai yang lebih inti yaitu silaturahmi. Maka Mbah Nun menyematkan kata Reriungan dalam pementasan Drama Mlungsungi ini.

Kembali Mbah Nun menegaskan bahwa ilmu ridla adalah pijakan Mbah Nun dalam berkarya. Termasuk dalam penulisan naskah-naskah drama. Begitu juga dengan karya-karya KiaiKanjeng sendiri. Jika kita mencermati karya-karya KiaiKanjeng dalam belantika musik Indonesia sendiri, merupakan sebuah proses bermusik yang sangat revolusioner, karena benar-benar menabrak pakem yang ada dalam dunia musik di Indonesia sendiri. Nomor-nomor KiaiKanjeng tidak tercatat dalam tangga nada populer di stasiun radio maupun televisi, tetapi faktanya karya-karya KiaiKanjeng justru dikenal oleh masyarakat luas dalam segmen yang juga bermacam-macam.

Berbicara mengenai musik KiaiKanjeng, Mbah Nun meminta Mas Jijid untuk menjelaskan konsep Ngeng dalam aransemen KiaiKanjeng. Kiita tahu bahwa Pak Novi Budianto menciptakan Gamelan KiaiKanjeng ini salah satu fondasi utamanya adalah Sense of Ngeng. Dijelaskan oleh Mas Jijid, Ngeng itu semacam rasa. Saat memainkan alat musik atau saat menyusun aransemen baru sebuah lagu, ada momentum yang turut mendukung terciptanya sebuah lagu sehingga menjadi alunan nada dan irama yang terstruktur dengan baik. Jika Ngeng-nya tidak tepat, hasil aransemen musiknya pun tidak sempurna.

Mas Jijid menambahkan, Gamelan KiaiKanjeng ini wujudnya ya alat music Gamelan pada umumnya. Kuncinya adalah pada pemainnya yang memainkan gamelan itu sendiri. Karena Sense of Ngeng antar personel KiaiKanjeng itu sudah menyatu chemistry-nya, maka saat memainkan lagu-lagu Arab, Barat, Pop, Jazz hingga lagu Jawa, dapat dimainkan dengan apik.

Mbah Nun menambahkan, Ngeng dalam diri manusia itu adalah semacam dzauq, qalbun, ruh, sesuatu yang memang tidak bisa diilustrasikan secara fisik, namun ia memang ada. Gelombang dzauq itu harus dimiliki setiap manusia, agar ia mampu tepat dalam menentukan keputusan dari setiap persoalan yang dihadapi. “Ada subjek yang lebih dalam, yang lebih sejati dari manusia, bukan tangannya, bukan kakinya, tetapi itu yang disebut dengan Ngeng itu tadi,” ungkap Mbah Nun.

Dok. Kenduri Cinta.

Begitu juga dengan Maiyah. Mbah Nun Kembali menekankan, Maiyah ini tidak dapat dikategorikan dalam bentuk padatan. Maiyah bukanlah ormas, bukan juga partai politik, bukan juga perusahaan atau organisasi. Tetapi, yang ditumbuhkan di Maiyah adalah apa yang disebut Ngeng itu tadi. Mbah Nun terus berupaya menyadarkan dan membongkar cara berpikir kita untuk menemukan hal-hal yang sejati dan mendasar dalam kehidupan ini.

Di Kenduri Cinta edisi April ini saja, Mbah Nun mewedar ilmu mulai dari agama, sosial, politik, budaya, hingga seni dan musik. Semua dibahas dan diwedar oleh Mbah Nun dalam suasana Sinau Bareng yang selalu mengasyikkan. Yang membuat kita betah berlama-lama Maiyahan. Karena atmosfer kegembiraan di Maiyahan ini kita nyengkuyung bareng-bareng, sehingga kita pun bergembira bersama.

Tidak terasa, forum berlangsung selama 5 jam. Untuk menstabilkan kembali energi keberlangsungan Maiyahan malam itu, Mbah Nun meminta KiaiKanjeng membawakan nomor Nothing Compare to You yang diaransemen secara apik dikombinasikan dengan shalawat Madura. Vokal khas Mas Doni berpadu dengan lengkingan shalawat Mbak Nia, yang kemudian ditutup dengan nomor Ya Allah ridla oleh Mbak Yuli. Lewat pukul 1 dinihari, nomor ‘Alimul Ghoib memuncaki Maiyahan di Kenduri Cinta.

Kenduri Cinta malam itu rasanya tidak ingin untuk segera disudahi. Tetapi, situasi dan kondisi memang belum memungkinkan untuk kita Maiyahan seperti sebelum situasi pandemi, dimana kita bisa Maiyahan sampai menjelang subuh. Apalagi saat ini kita sedang berada di bulan Ramadan, maka kita harus juga meluangkan waktu untuk sahur. Tentu saja, kerinduan yang sudah kita obati bersama di Kenduri Cinta kali ini sudah berubah menjadi kerinduan yang akan kita bawa kembali ke rumah masing-masing, dan akan kita tuntaskan kembali kerinduan itu pada Kenduri Cinta edisi Mei 2022 mendatang.