Berdoa Agar Allah Me-lanyah-kan Pikiran

Liputan Sinau Bareng CNKK di Desa Besole Kec. Besuki Tulungagung, 18 Agustus 2019 (1)

Setiap Sinau Bareng mengandung di dalamnya tebaran butiran-butiran keinginan, keinginan yang baik dan harapan yang murni. Tidak hanya keinginan dan harapan itu tercermin secara formal global pada judul acara, namun yang lebih otentik adalah yang bersemayam di setiap hati hadirin. Mbah Nun memiliki sensibilitas untuk merasakan dan mengungkapkan getaran yang ada di setiap hati itu.

Salah satunya diungkapkan lewat diajaknya mereka berdoa bersama. Caranya berdoa, kata Mbah Nun, adalah dengan melibatkan bukan hanya siapa saja, tapi apa saja. Sabbaha lillahi ma fis samawati wal ardl. Yang tidak punya masalah tinggal bersyukur. Tapi kalau punya masalah, dan masalah itu macam-macam, berdoalah kepada Allah.

Semua doa juga perlu disertai kesadaran-kesadaran, seperti bahwa rajin nandur itu jua sebentuk doa, bahwa Allah setia kepada sebab-akibat, bahwa di dunia ini kita sedang menjalani ujian kesementaraan di dunia, nanti suatu saat akan dipanggil Allah. Tapi sebenarnya tak ada yang bernama mati. Yang ada adalah skala di mana Allah menunggu kita di keabadian khalidina fiiha abada. “Nanti di surga kita akan Maiyahan.”

Tujuh menit kemudian semua hadirin dan jamaah itu semuanya masuk ke dalam doa lewat getaran Shohibu Baity. Lampu dikurangi hingga relatif gelap, badan-badan yang berdiri, menundukkan kepala, angin laut yang kencang berhembus mengenai setiap punggung mengantarkan doa-doa itu mengetuk pintu-Nya sembari menyampaikan salam kepada sang kekasih, Muhammad Saw.

Demikianlah awal Sinau Bareng malam ini di Lapangan Mantren Dusun Gambiran Desa Besole Kecamatan Besuki Kabupaten Tulungagung. Semua kekhusyukan adalah jalan agar proses-proses selanjutnya dalam Sinau Bareng, semisal mengurai permasalahan yang ada dan coba mencari solusi, berlangsung dengan pikiran yang–meminjam istilah Mbah Nun–lanyah.

Beberapa saat sesudah Shohibu Baity, Mbah Nun mengajak semua hadirin berkenalan atau menyimak penyampaian para narasumber yang menemani beliau. Tiga diantaranya adalah perwakilan perguruan pencak silat Pagar Nusa, Ketua Bintang Surya Sejati, dan Ketua PSHT Desa Besole. Semuanya sepakat mengajak anggotanya untuk mengakhiri perselisihan dan pertikaian, sebab pencak silat sebenarnya justru untuk menjalin silaturahmi dan persaudaraan. “Dengan kedatangan Cak Nun kita belajar bersama untuk bisa damai dan hidup rukun,” kata perwakilan Bintang Surya Sejati Besole.

Buku Cak Nun