Dewi Wapah: Beruntung Tinggal di Yogyakarta

Perempuan ini merasa sangat beruntung. Setelah menikah dengan seorang lelaki asal Yogyakarta, ia pun sejak 12 Januari 2016 menetap di kota yang sudah terkenal sebagai gudangnya seniman. Kesukaannya pada seni sejak ia masih kecil, kembali tumbuh. “Waktu kecil saya suka membaca puisi dan menyanyi. Perlombaan baca puisi antar sekolah di tingkat kecamatan, saya selalu berhasil meraih juara. Entah juara tiga, dua, atau satu. Saya juga pernah memenangkan lomba menyanyi,” tutur Dewi Fajarwati Wapah, yang berasal dari Lubuklinggau, Sumatera Selatan.

Dewi Wapah sebagai Orang Lalu Lalang.
Ilustrasi oleh Vincensius Dwimawan.

“Ayah saya, saat sakit sebelum berpulang, sangat senang jika saya pulang sekolah menyanyikan lagu-lagu yang disukainya. Ayah pernah mengatakan kepada saya bahwa suatu hari nanti, saya akan terjun ke dunia seni entah bagaimana caranya. Ayah hanya memprediksi dengan melihat bentuk jariku saja. Sekarang, apa yang dikatakannya benar-benar terjadi,” kenang Dewi, yang selepas SMA melanjutkan studinya di Institut Agama Islam Al-Aqidah di Jakarta.

Selesai kuliah, ia kembali ke Lubuklinggau, menjadi guru di sebuah pondok pesantren, menjadi kepala PAUD selama lima tahun, guru madrasah, tutor Paket A, B, dan C, dan terakhir sebagai guru di SD Negeri. “Sebagai kota kecil, kesenian di tempat saya tidak bisa berkembang,” keluhnya.

Saat mendampingi ibunya untuk sebuah urusan di Ponorogo, di bandara Adi Sumarmo Solo, ia berkenalan dengan seorang lelaki, yang berlanjut dengan komunikasi jarak jauh. “Oktober 2015, saat kabut asap melanda wilayah kami, lelaki itu berkunjung ke rumah dan melamar saya. Kami pun menikah pada tanggal 10 Januari, dan dua hari kemudian langsung pindah ke Yogya.”

Suaminya yang bekerja di sebuah perusahaan di bagian desain grafis dan fotografer, membuatnya terhubung dengan kawan-kawan suaminya, yang aktif di kesenian. Pertama kali, ia bergabung dengan Komunitas Rondjeng Senja Bersastra di Malioboro yang dikelola oleh Agus Leyloor dan istrinya. Pergaulan dengan para seniman menghantarkan ia mengenal berbagai komunitas kesenian, dan diantaranya menjadi aktif terlibat di Sanggarbambu, Teater Perdikan, dan Teater Embrio.

“Pementasan pertama saya adalah ‘Sengkuni 2019’ karya Emha Ainun Nadjib yang dimainkan oleh Teater Perdikan Kadipiro,” tutur perempuan yang mengaku hanya sebagai ibu rumah tangga dan berkesenian saja. Pementasan tersebut dilakukan di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta (Januari 2019) dan Surabaya (Maret 2019). Di tahun berikutnya, ia terlibat pula dalam pementasan “Sunan Sableng dan Paduka Petruk” karya Emha Ainun Nadjib, yang rencana akan dipentaskan di TBY, tapi tidak jadi karena adanya pandemi Covid-19. Kali ini, ia kembali terlibat sebagai bagian dari “Orang Lalu-Lalang” yang menyimbolkan rakyat, dalam naskah “Mlungsungi”.

Selain bersama komunitas yang ada di Kadipiro, ia juga pernah terlibat dalam pementasan bersama Teater Embrio (“Nyimas Ayu” dan “Pulung Ati”) dan Bersama Indra Tranggono dalam pementasan “Sumur Tanpa Dasar”.

Menurutnya, berteater adalah hal yang menyenangkan dan menggembirakan terutama dalam prosesnya lantaran ada keguyuban, bukan sekadar membaca dan menghapal naskah atau blocking saja. Guyub rukun menjalani proses dengan rasa persaudaraan yang kental, itulah yang dinilainya paling menyenangkan.

Dewi merasa sangat terkesan dengan keterlibatannya dalam “Mlungsungi” karena bisa bertemu dan belajar banyak dari para pemain senior yang telah banyak menghasilkan karya dan paham benar asam-garam dunia kesenian, khususnya teater. “Proses reriungan yang dijalani sekarang sesuai dengan naskahnya adalah proses mlungsungi, sehingga ke depan bisa menjadi lebih baik lagi. Saya sangat menikmati prosesnya yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata yang paling indah sekalipun. Semua berkesan. Semoga pementasan drama ‘Mlungsungi’ ini nanti dapat berjalan baik tanpa halangan apapun. Kami semua dapat memberikan penampilan yang terbaik di hari pementasan 25 dan 26 Maret mendatang,” harap Dewi.