Cemburu dan Ingin Segera Bisa Datang ke Tugu Pahlawan

Empat tahun ini saya tidak berdomisili di Surabaya atau kota lain yang dekat dengan “Ibu Maiyah”. Selama setahun saya tinggal di Jampang Kulon Sukabumi, satu wilayah yang terletak di bagian paling ujung selatan Sukabumi. Dari ibukota kabupaten, butuh waktu sekitar tiga jam dengan perjalanan darat untuk sampai ke Jampang. Beruntung saya tinggal bersama sedulur Maiyah dan hampir setiap hari beraktivitas bersama. Lingkaran-lingkaran kecil “Maiyahan” dibangun untuk membuat ruang-ruang diskusi sekaligus ajang rindu “Ibu Maiyah”.

Dok. Bangbang Wetan.

Di Jampang inilah terdapat satu simpul yaitu Magarmaya dengan beberapa nama yang mengampunya antara lain A Iwa (Iswah Maruly), A Sholeh, Mang Baban, Hatur, Sambu, Apuh, Barjo. Seiring berjalannya waktu, Magarmaya dapat tertaut dengan komunitas-komunitas lain atau mungkin lebih baik saya sebut sebagai lingkar-lingkar kecil, sekumpulan dulur yang awalnya tidak kenal Maiyah tetapi berperilaku Maiyah dalam keseharian mereka.

“Dakwah Maiyah” demikian mungkin istilah yang dapat kita berikan kepada apa yang dilakukan oleh A Iwa dan sedulur Magarmaya. Mengenalkan Maiyah lewat perilaku. Berkonotasi positif dengan energi yang terus dicurahkan, lingkar pengaruh Maiyah ini terasa terus meningkat eskalasinya meski masih diperlukan waktu dan tenaga lebih besar untuk bisa sampai pada “standar” peradaban/ibu Maiyah.

Faktor geografis memberi pengaruh yang tidak kecil. Ambil contoh, untuk bisa ikut Maiyahan paling dekat adalah Kenduri Cinta. Untuk dapat melingkar ke sana, diperlukan waktu tempuh 8 jam. Bertolak dari kenyataan inilah maka almarhum Kiai Muzammil pernah didatangkan oleh A Iwa. Tujuannya jelas: untuk menguatkan dan menjaga sinyal serta ketersambungan. Alhamdulillah, secara berkala hampir setiap bulan, beliau berkenan rawuh dan menginap selama 3-4 hari. Praktis waktu yang sempit itu dioptimalkan. Di beberapa bidang, pertanian misalnya, ada Cak Rudd dari Blora dan Cak Rifai dari Bogor yang bila datang bisa menginap 4-5 hari. Kenyataan ini menumbuhkan kesadaran saya bahwa anak semai Maiyah mampu tumbuh dengan subur meski ada di titik yang jauh dari pusat edarnya.

Setelah dari Jampang, Allah memperjalankan saya migrasi ke Jepara. Di kota pesisir utara ini, jarak tempuh ke simpul besar terdekat berkisar 2-3 jam. Simpul itu adalah Gambang Syafaat Semarang. Mengapa saya selalu mengaitkan tempat tinggal atau lokasi keseharian dengan satu simpul besar? Jawabannya adalah karena kenyataan tandas yang saya hayati bahwa meski sudah pernah merasakan aura Padhangmbulan, Bangbang Wetan, Mocopat Syafaat atau Kenduri Cinta tetap saja tersisa kangen yang tak kan pernah terpuaskan. Satu kenyataan rasa “haus Maiyah” yang terus menuntut pemenuhan.

Di Jepara sendiri ada satu simpul Maiyah, awalnya diberi nama Majlis Alternatif Jepara yang sering disebut akronimnya, MAJ. April tahun ini, MAJ melewati 16 tahun usianya. Sama bahkan lebih tua secara bulan dibanding Bangbang Wetan. Namun tiga tahun terakhir MAJ memilih kembali ke “barak”, khususnya semenjak era pandemi. Dengan dasar pemikiran untuk menguatkan kuda-kuda internal, MAJ kemudian memilih berubah menjadi Majlis Al-Qur’an Jepara. Mas Kafi membawa MAJ ke jalan sunyi dengan menyimpan baik-baik simbol ke-Maiyah-an.

Pada gilirannya, di beberapa tempat di Jepara lahir ruang-ruang diskusi sefrekuensi Maiyah. Di antara mereka adalah Lakusami dan Sambatan Roso di Langon (Sanggar Persing) yang digalang oleh Mas Wawan. Penggiatnya kebanyakan adalah “alumni” Gambang Syafaat. Di makam Mantingan tepatnya di Pendopo Makam Mantingan ada Suluk Mantingan yang lahir dari rahim Lesbumi Jepara. Yang kebanyakan motor penggeraknya juga pernah bersentuhan dengan Maiyah, khususnya MAJ.

Sisi positif yang saya dapatkan adalah kesempatan untuk dipertemukan dengan sebaran gelombang Maiyah yang bertebaran di titik-titik yang jauh dari Ibu Maiyah. Sebagian dari mereka memang dilahirkan dari semaian Ibu Maiyah meski tidak sedikit yang memang tumbuh alami, begitu bertemu Maiyah langsung klik.

Meski dahaga Maiyah saya bisa terobati melalui peluang bertemu dengan banyak ragam terapan ilmu Maiyah, tetapi tetap saja dahaga itu belum sepenuhnya menemukan kadar ekstasenya. Termasuk di antaranya saat mengikuti postingan berita bahwa sedulur Bangbang Wetan yang mendapat hadiah besar di 16 belas tahun berproses, hati ikut mongkok. Ikut nyengkuyung seperti dulu walau sadar betul adanya banyak keterbatasan diri yang menyebabkan tidak bisa bergabung secara fisik di kota yang melahirkan dan membesarkan saya.

Kado 16 tahun bagi BangbangWetan itu sungguh menumbuhkan rasa iri karena bagi warga Surabaya serta masyarakat Maiyah Surabaya dan sekitarnya kesempatan itu adalah event yang terbilang langka dan memberi mereka media untuk dengan mudah mencecap segarnya Maiyah. Belum lagi suguhan kolaborasi Teater Perdikan, aransemen musik KiaiKanjeng dan dukungan sendratari Komunitas Lima Gunung Magelang yang pasti akan mengguyur Surabaya dengan luapan segarnya Ilmu berbalut keindahan pertunjukan.

Kecemburuan yang terus meluap di hari-hari menjelang 23 September 2022, dorongan kuat untuk bisa datang dan melebur di Tugu Pahlawan.

Selamat berproses semua yang terlibat sengkuyungan WaliRaja RajaWali!

Jepara, 17-20 September 2022.