CakNun.com

Kaum Muda di SastraEmha

Tidak!” jawabku, “Tidak, Kiai!” harus cukup jelas bagiku, tatkala orang itu menyurukkan tubuhnya di depan pintu rumah Allah, menangiskah para malaikat ataukah bernyanyi, dan apakah Tuhan membukakan pintu sebagai Hakim ataukah langsung sebagai sahabat karib orang itu.

Itulah penggal kalimat terakhir dari “Syair Harga Sebotol Obat” yang dengan rayuan Yai Helmi, saya berhasil dengan selamat membacakannya di acara SASTRAEMHA malam itu di Rumah Maiyah Kadipiro Yogyakarta.

Awalnya saya ragu dan menolak, karena saya bercermin di depan kaca mengenai kemampuan saya. Jangankan membaca puisi, sedangkan deklamasi saja saya lakukan pada waktu saya duduk di Taman Kanak Kanak Busthanul Athfal, di kampung saya, nDukuh. Apalagi sekarang ini diminta baca puisi, puisinya pun tidak tanggung-tanggung, puisi dari Sastrawan besar, Emha Ainun Nadjib. Bergetar tubuh saya, menimbang-nimbang dengan sangat seksama. Apalagi Yai Helmi memberi ‘perintah’ ini dalam waktu yang sangat sempit.

“Kapan ini gaesss baca puisinya?” tanya saya.

“Besok malam,” jawab Yai Helmi.

“Whattttt??” kata saya dalam hati.

Tapi hari itu juga tulisan Cak Zakky tentang acara SASTRAEMHA sudah tayang dengan menyebut nama saya sebagai pembaca puisi. Namun disebutkan juga ada nama Seteng serta Joko Kamto. Seperti semut dan Gajah, kemampuan saya bila disanding dengan kedua nama besar tersebut. Paling banter saya hanya bisa berdeklamasi tentang Gajah. Deklamasi favorit saya waktu kecil.

Gadjaaaah, binatang besar
matanya kecil
telinganya lebar
kalau berjalan… dst
.

Ketika saya tiba di Rumah Maiyah, saya kaget, karena banyak yang hadir di situ, dan semuanya muda dan dari sorot matanya terlihat sangat bersemangat. Ternyata mereka ada yang masih mahasiswa, sudah bekerja, dan tidak ada wajah tua, kecuali saya, Mas Joko Kamto dan Yai Tohar. Bukan saja mereka sekadar hadir, tapi ada 5 atau 6 orang di antara mereka yang membacakan puisi Cak Nun dengan sangaaat bagus. Nyali saya semakin ciut, saudara saudara!

Saya pun berbisik kepada Yai Helmi di saat memberikan naskah “Syair Harga Sebotol Obat”.

“Terus terang aku surprised!,” kata saya kepada Yai Helmi.

“Lhoo kenapa?” tanyanya.

“Iyaaa… Kok masih ada kaum muda yang doyan acara macam ini? Maksud saya kok ya acara kayak gini masih diapresiasi oleh kaum muda. Di saat acara semacam ini sudah lama ditinggalkan dari hiruk pikuk media dan masyarakat, karena tidak bernilai cuan!!”

“Coba tengok, apakah masih ada koran-koran yang menyediakan rubrik atau bahkan kolom untuk Puisi? Atau bahkan karya sastra lainnya, cerpen? Syair? Prosa?”

“Apakah ada majalah majalah, tabloid, atau bahkan media media sosial yang peduli dengan acara semacam ini?”

“Mana adaaa…!?” bisik saya.

“Maka aku sangat menghargai acara-acara semacam ini. Karena acara semacam ini akan memberi inspirasi kepada kaum muda. Memberi ide, memberi power, dan memberi semangat untuk melahirkan sastrawan-sastrawan yang baru, Emha Emha yang muda dan baru!” lanjut saya.

“Karena dari sastra dan seni akan dimulai geliat perubahan bagi bangsa ini!” lanjut saya.

Yai Helmi manggut-manggut, kemudian Patub dan Doni memanggil saya untuk membacakan syair yang dahsyat itu.

Saya melangkah dengan kaki tertatih, serta membawa naskah dengan gemetar.

ICC 3-12 Oktober 2023

Lainnya

Mengagumi Kaum Bahariwan

Mengagumi Kaum Bahariwan

Indonesia sungguh tanah air yang mengagumkan. Bukan hanya terpancar oleh lagu daerah, lagu anak-anak lawasan, dan lagu nasional serta keroncong dan pop yang nostalgik, atau lagu heroik-heroik lembut karya Leo Kristi, Franky & Jane dan Gombloh atau lagu romantik model Koes Plus (serial lagu Nusantara) atau karya Ebiet G Ade atau lagu campursari Minang, Cirebonan, Jawa, Banyuwangen saja tetapi terpancar dari alam nyata yang bisa dilihat mata lahir dan mata batin ketika kita menjelajah tanah air lewat darat, laut, dan udara.

Memasuki Pasca Reformasi: Perubahan Tanpa Melukai

Memasuki Pasca Reformasi: Perubahan Tanpa Melukai

Untuk menuju ke dewasa dalam beragama dan dewasa dalam berpolitik kemanusiaan dan politik kebangsaan maka diperlukan kerendahan hati, keterbukaan pikiran, dan lapang dada seluas samudera ditambah cakrawala dalam menghadapi, membersamai, dan menemui perubahan fundamental yang sangat mungkin segera terjadi atau yang akan terjadi beberapa saat nanti.