CakNun.com

Jangan Ngrasani Kyai

Ribuan masyarakat hadir dalam Sinau Bareng Cak Nun dan KiaiKanjeng di Simpang Lima Gumul Kediri dalam rangka memperingati HUT ke-77 Kemerdekaan RI.
Foto: Adin (Dok. Progress)

Saya nggak bisa menulis dua hari ini. Otak saya buntu. Tiba-tiba menjadi dungu. Berulang kali mencoba, tidak menemukan apa yang harus ditulis. Hidayah nggak datang-datang.

Onana penjaga gawang baru Manchester United — marah-marah kepada Maguire. Hanya gara-gara sekian detik salah ambil keputusan. Orang Kamerun ini ke-PD-annya tinggi. Berani konfrontasi di depan publik. Padahal Maguire ini orang UK — negeri nomor satu urusan sepakbola. Untung Maguire tidak punya relawan militan. Kalau punya, sudah pasti Onana akan dilaporkan ke Bareskrim London.

Menulis sambil membaca. Itu akhirnya yang saya lalukan. Karena hidayah itu tidak hanya dinanti, tapi juga harus dijemput. Menyimak update dokter Eddot tentang perkembangan kesehatan Mbah Nun. Yang alhamdulillah dari hari ke hari menunjukkan cahaya bahagia. Lalu membaca tulisan Mas Jamal tentang warisan warung. Senyum-senyum sendiri. Mas Jamal ini alim nya nomor dua di kantor kami. Kok ya punya idiom judi online segala. Juga mosok membayangkan dikasih warung Mbah Nun — lalu warung bangkrut karena modal dipakai judi online. Ada ada saja kau Mal.

***

Seminggu ini ada banyak tamu berkunjung. Tilik Mbah Nun. Teman-teman ITS Surabaya datang membersamai Pak Nuh. Juga pagi-pagi Pak Ustadz Haikal Hassa. Ini Ustadz agak kontroversial. Karena memaksa saya, “Tahu saya kan? Tahu kan?” Saya he em he em saja.

Juga datang Ustadz Zulkifli Halim dari Banjarmasin. Pak Rektor UII juga tampak. Siangnya ada rombongan para guru SMK Global Mentoro Jombang. Ini yang suatu saat nanti mau saya tulis. Tentang Mentoro — desa kelahiran Mbah Nun. Desa yang menggambarkan Indonesia : penuh netizen dan haters.

Sekarang, saya mau cerita tentang kekonyolan saya pagi-pagi.

“Mas, ada Pak Kyai X di Jogja. Pagi-pagi mau ke Sardjito. Jam 5 pagi ada yang Whatsapp saya.”

“Iya monggo silakan saja. Ada keluarga yang standby.” Saya respons singkat. Karena pagi itu saya mencoba memulai olahraga. Jalan-jalan di komplek rumah.

Sambil lari-lari kecil saya membatin. Tumben beliau kok menyempatkan waktu. Selama ini kalau ke Jogja — beliau ini nggak pernah mampir ke rumah Maiyah. Beliau lebih suka mendatangi orang-orang yang Non-Islam. Melakukan syiar Islam dengan caranya yang unik. Yang didatangi, diangkat jadi santri, lalu si Non-Islam itu mengaku sebagai santrinya. Beliau senyum-senyum. Kelak waktu akan membimbing ia akan masuk Islam dengan kesadarannya. Luar biasa cara beliau ini.

Saya lanjutkan lari-lari keliling komplek. Jam 6 selesai. Mandi. Ngopi lanjut njisamsoe.

“Mas, izin mau telepon Njenengan.” Beberapa saat kemudian telepon berdering.

“Gus. Saya sudah dari Sardjito. Ini mau pamit langsung pulang ke Malang….”

Ternyata itu tadi Yai X Malang. Bukan kyai yang saya batin tadi. Gara gara itu — dua jam kemudian, saya menghadapi situasi pahit : Man United dihajar Dortmund di laga Pra Musim. Nasib!!

Selasa, 1 Agustus 2023

Lainnya

Cak Nun Menubuh dalam Aksara

Cak Nun Menubuh dalam Aksara

Ada kalanya rindang hati ini
alangkah teduhnya, Papa
Tapi mercu kini tak lagi bisa berjanji
Seribu badai meranah duka
Lantaran hati-hati kelabu
yang nanar mengelabu
Lantaran hari-hari kemarin
ialah hari-hari yang kepalang
Kejamnya masa menebar lintasan busa bisa
Tapi sejuta genggam tangan
telah melonjak, Papa
Pada keharuan tanah subur ini hari
Airmata sedunia menjelma jadi baru
Ayu, Papa!