Tongkat Ngaji Ibu

Foto: Adin (Dok. Progress)

Acara angon bebek selesai sampai waktu Ashar. Sesudah Ashar atau paling lambat menjelang Maghrib, saatnya mengandangkan para bebek. Masuk kandang di samping rumah dengan berbataskan pagar bambu setinggi paha orang dewasa. Para bebek sudah kenyang, kami berharap agar besok pagi bisa mempersembahkan telur-telur mereka ke kami. Saatnya kini si gembala itik bebersih diri, mandi, dan bersiap shalat Maghrib.

Kami sekeluarga tinggal di rumah simbah. Mbah Joyo Parjo. Ya Simbah kakung Joyo. Karena nama kecilnya adalah Parjo, maka banyak orang memanggilnya Joyo Parjo. Padahal nama sebenarnya adalah Joyo Suparto. Keahlian beliau adalah bertukang, bertani, dan bertanam. Pernah menjadi kepala di kebun bibit pemerintah, yang lazim disebut lambau (berasal dari bahasa belanda ‘landbouw’ yang berarti pertanian). Kini lambau tersebut menjadi tempat jual beli unggas, dan ikan, yang bernama PASTY (pindahan dari pasar Ngasem).

Mbah Putri saya bernama Mbah Paijah. Simbah kakung dan Simbah putri adalah sosok yang sangat sederhana. Yang masih saya selalu ingat adalah ilmu nyambal dari Simbah putri. Ini ilmu yang sampai sekarang masih selalu saya pakai. Ilmu tentang sambal yang sangat simple, yaitu cabe merah dan bawang merah digoreng sampai agak gosong, kemudian diulek tidak terlalu lembut, tidak lupa diberi sedikit gula Jawa dan garam. Simpel!

Simbah mempunyai sebuah langgar kecil di samping rumahnya. Langgar dengan kapasitas untuk 20-an orang untuk tempat berjamaah tetangga kiri kanan. Langgar tersebut bernama Al Amin.

Sholat Maghrib berjamaah di langgarnya simbah menjadi acara berikutnya. Penanda masuk waktu Maghrib dengan memukul kentongan yang terbuat dari kayu rambutan. Yang saya masih ingat para jamaah di langgar, selain kami sekeluarga, Simbah kakung-putri, Paklik Jaeni, Bapak – Ibu, ada Mbah Subar, Mbak Narni, Mas Broto, Lik Warsono, Mbah Wongso, Pakdhe Nasir, Lik Marno, dan beberapa teman seangkatan saya Tono, Dono, Yani, dan lainnya. Kadang ada juga jamaah yang berasal dari RT lain.

Antara waktu Maghrib dan Isya adalah waktu saya dan kangmas mbarep saya, Mas Kuyik duduk di meja pendek di atas tikar di longkangan antara ruang tidur dan ruang tamu.

Di hadapan kami adalah mushaf Al-Qur’an, dan ibu saya, masih dengan mukenanya. Tak lupa ada lidi, tepatnya adalah tongkat kecil, seperti stick-nya dirigen musik yang berada di tangan beliau.

Ibu selalu memberi tahu dulu bagaimana cara membaca harakat huruf-huruf Al-Qur’an. Kapan dibaca sangat panjang (5 ketukan) kapan dibaca panjang (2 ketukan), kapan huruf tidak dibaca, kapan huruf dibaca dengan dipantulkan (qolqolah), dan lain sebagainya. Semua Ibu ajarkan kepada kami. Maka fungsi tongkat dirigen yang Ibu pegang adalah untuk menunjukkan di huruf-huruf Al-Qur’an yang kita baca. Sesudah giliran kita untuk membaca Al-Quran sendiri maka tongkat tersebut berfungsi sebagai pemukul meja kala kita keliru. Menjadikan kita kaget dan takut.

Begitulah setiap waktu antara Maghrib – Isya kami mendapat gemblengan dari Ibu. Beliau memang sosok yang keras, namun lembut. Keras dalam pengajaran dan lembut dalam mendidik kami. Menyediakan makanan untuk kami, mencuci baju kami. Semua itu beliau jalankan dengan senyum.

Menjelang Isya, Ibu selalu menghentikan prosesi mengajarnya, yang kemudian Ibu lakukan adalah menceritakan tentang ayat-ayat yang kita baca. Kapan ayat ini turun, pada waktu apa, dan kenapa ayat ini diturunkan. Begitu selalu Ibu ajarkan kepada kami. Kadang beliau juga bercerita sejarah para Nabi. Nah kalau sudah begini saya paling usil dengan nanya macam-macam. Dengan maksud agar pelajaran mmbaca Al-Qur’annya jadi lebih singkat. Artinya frekuensi pemukulan stick dirigen ke meja jadi berkurang. Dasar usil ya….

Beliau sangat menguasai bahasa Arab. Baik penyebutan, artinya, maupun maknanya. Pernah ketika Bapak berburu tupai, dan mendapat beberapa ekor tupai, akan diapakan tupai tersebut, maka Bapak tanya ke Ibu halal atau haramkah daging tupai ini. Kemudian Ibu membuka buku ‘yang saya tak tahu nama atau judulnya’ karena semuanya bertuliskan dengan huruf Arab gundul. Kemudian dibuka-buka, dan akhirnya menemukan jawabannya.

Hal-hal lainnya adalah ketika Bapak sedang mengerjakan tesis S1-nya yang menulis tentang sebuah tinjauan patrilinial dari adat Sumatra Barat, dari sebuah naskah klasik berjudul ‘Kaba si Manjau Ari’ di mana naskah aslinya adalah bertulis Arab-Melayu gundul. Maka ibu menjadi ‘google machine’ bagi proses penulisan tesis bapak. Sambil menggendong adik ragil kami dengan selendang bermotif Cirebonan, Ibu membantu menerjemahkan kitab kuno dan usang tersebut. Kitab yang secara fisik sudah sangat lapuk dan buram, dibaca Ibu sambil momong. Sedangkan Bapak menulis apa yang Ibu ucapkan. Yang saya ingat adalah ketika ada kata yang terdiri dari huruf ‘kaf’ ‘mim’ ‘ba’ dan ‘ain’ karena Arab-Melayu gundul bisa dibaca kambang, kembang, kambing, kembung atau kumbang.

Masa kecil kami penuh dengan keprihatinan dengan segala kondisi dan sarana yang ada, Ibu berhasil membantu bapak menyelesaikan tesisnya. Ibu bisa membesarkan kami berlima. Namun Ibu belum sempat mengenyam ‘hasil tanamannya’ tersebut. Karena Ibu berpulang ketika saya masih kelas 2 SMP. Allahummaghfirlaha, warhamha, wa ‘afiha wa’fu’anha, waj’alil jannata matsfaaha

Masa sekarang yang penuh kemudahan, lengkap dengan segala fasilitasnya, apakah juga akan menghasilkan generasi sebagaimana yang sudah Ibu hasilkan. Saya merenung menatap ke belakang. Sebuah refleksi yang harus saya buat. Sudahkah saya menjadi anak sholeh bagi Ibu dan Bapak saya? Bagaimana ini Yai Helmi?

Populer