Nikmat Ongkang-Ongkang Angon Bebek

Photo by Karolina Grabowska from Pexels

Bila saya menengok lebih ke belakang lagi, kembali ke masa kecil, maka tidak ada alasan bagi saya untuk tidak bersyukur atas apa yang saya nikmati sekarang. Kemarin saya sudah cerita bahwa untuk bisa makan telur, maka saya harus menunggu Bapak pulang dari kenduri. Istilah yang biasanya Bapak pakai adalah ‘ngoyak bajing’. Kalau sore hari ba’da Ashar Bapak sudah rapi dengan sarung dan peci, maka saya tanya, “Bapak badhe tindak pundi?”

Ngoyak bajing,” jawab Bapak singkat.

Awalnya saya tidak mudheng dengan istilah itu, tapi lama-kelamaan hafal dengan maksudnya setelah beberapa kali Bapak memakainya.

Bapak pulang membawa se-besek nasi dan lauk pauknya. Di dalam besek ada nasi putih biasa dan ada se-takir nasi gurih lengkap dengan lauk-pauknya. Ada sambel kacang, ayam suwir, krecek dan irisan kobis. Takir adalah semacam wadah seperti mangkuk, yang terbuat dari daun pisang.

Sedangkan lauk yang lain yang mengitari nasi putih biasa adalah gudangan, sambal krecek, dan di antaranya adalah telur dadar yang ditempatkan pada sudi. Sudi adalah semacam wadah seperti cawan kecil cekung, yang terbuat dari daun pisang. Dan telur dadar itu pun oleh Ibu saya dibagi enam. Agar gampang mengirisnya dan agar rata pembagiannya. Begitu kira-kira maksud Ibu. Karena kami berlima (anak-anaknya) dan satu bagian lagi untuk Bapak.

Ibu memilih tidak makan telur demi anak-anaknya! Dengan kata lain Ibu lebih memilih ‘lapar’ demi anak-anaknya.

Ibu yang selalu bikin roti marmer setiap menjelang hari raya.
Ibu yang selalu menjahit baju anak-anaknya untuk berlebaran.
Ibu yang selalu mengajari anaknya membaca Al-Qur’an, menceritakan asbabun nuzul setiap ayatnya.
Ibu yang selalu mengajari tajwid, dan masih banyak ilmu yang ibu berikan kepada anak-anaknya.
Ibu sangat sayang kepada saya, karena di mata Ibu saya anak yang penurut di balik keusilan yang saya miliki.

Kami mempunyai itik (bebek), tidak banyak sih jumlahnya, hanya kira-kira 40 itik. Saya bertugas menggembala bebek-bebek tersebut sepulang sekolah. Karena waktu itu jam pulang sekolah SD masih agak pagi, maka saya bisa menggembala itik tersebut sampai waktu Ashar. Tempat favorit saya menggembala adalah di kalen (selokan kecil) depan pekarangan Mbah Cokro, dan di situ ada uwot (jembatan kecil terbuat dari bambu) yang menghubungkan kampung kami dengan sebagian wilayah di ledhok, pinggiran kali Winongo.

Di atas uwot itulah saya duduk ongkang-ongkang pegang galah untuk menggembala, dan sambil membaca buku atau mengerjakan PR dari sekolah. Sementara para bebek mandi sambil mencari makan di kalen tersebut. Kemudian Ibu menghampiri saya dengan membawa sebungkus mie kuning yang dibungkus dengan daun pisang lengkap dengan sambalnya, atau kadang makanan lain, seperti singkong rebus, bahkan kadang makanan sedikit mewah seperti ketan, cenil atau klepon yang Ibu beli sambil belanja sayuran untuk dimasak di warung Mbah Pademo. Ibu mampir dan memberikan makanan itu ke saya.

Sungguh itu sebuah kebahagiaan yang tak ternilai bagi saya dan oleh sebab itu saya masih sangat ingat momentum itu di benak saya. Banyak sekali momentum yang saya ingat atas kedekatan saya dengan Ibu saya. Ibu bahkan seperti malaikat yang selalu mendoakan anak-anaknya agar bisa menjadi ‘manusia’. Saya yakin, haqqul yaqin, kondisi saya sekarang ini adalah hasil dari doa Ibu setiap malam, sepanjang hari, tak putus, tak kenal lelah, sampai akhir hayatnya.

Kalau kita lihat sekarang, makan telur itu sudah bukan barang mewah lagi, bahkan sudah banyak anak-anak yang bosan dengan telur. Saking seringnya makan telur, saking mudah didapatkan, bahkan saking murahnya telur. Bahkan beberapa saya lihat di medsos, peternak ayam membuang beratus, bahkan beribu-ribu telur ayam, sebagai protes karena harga telur lebih murah dibanding harga pakan ayamnya, alias merugi dan tidak cucuk!

Namun bukan itu yang saya highlight, tetapi apa yang sudah saya lakukan untuk bentuk rasa syukur saya kepada-Nya atas banyak karunia, rezeki yang berupa sehat, materi, kesempatan, dan segala macam bentuk rezeki dari-Nya.

Menjelang tahun berganti, saya mencoba membikin refleksi diri. Dengan konsultasi ke Yai Helmi, tentang bagaimana refleksi, kontemplasi, dan evaluasi.

Untung – rugi?
Tambah – kurang?
Syukur – kufur?
Apa yang sudah dilakukan untuk sesama?

وَاِ نْ تَعُدُّوْا نِعْمَةَ اللّٰهِ لَا تُحْصُوْهَا ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَـغَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, Allah benar-benar Maha Pengampun, Maha Penyayang (QS. An-Nahl: 18)

وَاِ ذْ تَاَ ذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَاَ زِيْدَنَّـكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَا بِيْ لَشَدِيْدٌ

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.” (QS. Ibrahim: 7)

Populer