Soloensis Mendengungkan Wani dan Cah Angon

Source: Soloensis Instagram

Sebuah single baru rilis dari sebuah band asal kota Solo, Soloensis. Lagu baru dari salah satu band rock terbaik yang dimiliki Indonesia ini berjudul Penggembala, salah satu yang mencuri dengar tentu bagian liriknya sangat mungkin terinspirasi dari kata-kata Mbah Nun ketika sedang Maiyahan di ulang tahun Persebaya.

Berani hidup haruslah tak takut mati
Bila takut mati, janganlah hidup
Jikalau takut hidup, ya, matilah saja!

Potongan lirik inilah yang terus-menerus terngiang, seperti pernah merasa mendengar tapi di mana. Bolak-balik membuka mesin pencari, berusaha menemukan sumber frasa ini dalam bahasa Indonesia tidak ketemu. Lalu iseng mengalihbahasakan dengan bahasa Jawa sebuah twit untuk ulang tahun Mbah Nun yang ke-67.

Twit tersebut berakar dari reportase yang ditulis Rony K. Pratama yang di tulis di web ini. Nah, akhirnya ketemu sumber referensinya.

Saya berkenalan dengan Soloensis sebenarnya tidak sengaja, waktu itu vokalisnya sedang berkegiatan riset batik di Surakarta, yang kemudian berjumpa kembali di Maiyah Solo, Suluk Surakartan. Mas Gema Isyak ini termasuk penggiat mula di simpul. Pertemuan kembali Suluk kerapkali membawa pada pembicaraan ringan setelah selesai forum. Pembicaraan tentang musik serta kebudayaan yang kemudian berujung pada ide-ide yang terus tidak berhenti dikulik oleh beliau.

Maiyah memang hanya sebuah titik awal pertemuan, terus berdampak pada semua manusia yang pernah bersentuhan dengannya. Soloensis ini tentu salah satunya. Sebagai sumber nilai benih-benih kebaikan itu tertanam, diteruskan dalam berbagai wahana.

Musik Soloensis memang terdengar gahar, namun setiap liriknya sentimental. Itu yang salah satu khas dari Gema Isyak dalam membuat bait-bait lagu, sepertinya perenungan mendalam terus-menerus dihadirkan supaya musik tak sekedar menjadi karya, atau momentum kejadian konser yang dilupakan orang ketika pulang. Tetapi dalam bait yang sederhana tapi mengena di situlah pendengar tanpa sadar merenungi kembali apa-apa yang berkait dengan kehidupan mereka secara individu.

Perihal “penggembala” ini juga tentu bagi kawan-kawan yang sering ikut Maiyahan tidak mungkin asing. Penggembala adalah Cah Angon, ini juga dapat ditemui pada bait Lir-ilir karya Sunan Kalijaga. Pada Maiyahan di desa-desa yang kadang saya ikut membersamai, Lir-ilir ini juga sebagai perekat dengan orang-orang dusun. Sangat populer, seperti lagu wajib KiaiKanjeng ketika keliling. Musik sebagai perekat, pemersatu itu benar adanya.

Terminologi Cah Angon ini turut didengungkan kembali oleh Soloensis dalam format berbeda. Sebagai judul, sebuah pintu masuk ketika orang melihat sebuah lagu. Judul yang memikat orang untuk mulai mendengarkan.

Dalam KBBI, Penggembala selain bermakna harfiah pemiara binatang ternak, tapi ada pengertian lain. Penggembala adalah penjaga keselamatan orang banyak. Pada kamus bahasa Inggris, kata: sherperd ini malah dimaknai sebagai penuntun.

Hal ini yang kemudian sering diceritakan Mbah Nun bahwa Nabi-nabi pernah mengalami fase sebagai penggembala secara empiris pemelihara binatang ternak, domba dst. sebelum kemudian menggembalakan umat.

Maiyah sering bahas soal bab ini, terkait pangon, angon tidak hanya bicara soal menunggui hewan, tapi bisa bicara soal teritori, soal keadilan agar tak bermusuhan dengan penggembala lain soal rumput, mengarahkan, menemani, dan mencari jikalau ada kawanan yang lepas dan hilang. Penggembala itu soal bertanggung jawab.

Wani urip, gak wedi mati
Wedi mati, aja urip
Wedi urip, matek’o ae
Wani urip, gak wedi mati
Wedi mati, lapo urip
Wedi urip, bongko ae

Dalam aksen Suroboyoan kata-kata Mbah Nun ini memang retorika yang memaksa siapa saja untuk merenungkan kembali. Mengantarkan manusia pada apa sejatinya hidup, pada akar dari perjalanan sebuah kelahiran yang jelas akan berujung pada kematian. Di sela-selanya manusia diberikan keluasan untuk mengisi dengan banyak sekali dharma bakti. Segala kebaikan dan mashlahat untuk keluarga, dirinya sendiri dan tentu masyarakat lebih luas.

Mengambil contoh hidup para Nabi, untuk menjadi penggembala pada ranah yang bisa kita tempuh dan temui. Pada kawula-kawula yang mungkin dititipkan kepada kita untuk kita ikut urun, tidak untuk menggurui tapi berdialektika dalam mengupayakan wacana dan solusi konkret bersama.

Berani menjadi penggembala, wani! Menghadapi hidup dengan tuntas, menghadapi realitas yang sama sekali kadang tidak bisa diprediksi persis seperti memelihara piaraan. Kadangkala hujan, angin datang, atau pada gersang tandus dan berjalan lagi menemukan rumput-rumput, atau menentukan kapan waktu ketika haus untuk segera ingat mencari air. Sebuah perjalanan singkat hidup sebelum mati.

Terima kasih Mbah Nun, dari Maiyahan tak cuman berhenti pada diskusi di simpul dan lingkar, tapi berlanjut pada proses kreatif anak-anak Maiyah, anak dan cucu yang bersentuhan dengan Njenengan. Setelah pandemi yang memaksa semua orang berpuasa, energi itu tidak padam tapi berakumulasi dalam berbagai renung panjang seperti yang Soloensis lakukan.

Kiranya menjadi berkah untuk semua.

Sragen, 5 Desember 2021