Wedi Menang, Ojok Dadi Persebaya

Rek, bengok-bengok bareng aku yo,” pinta Cak Nun di depan limapuluhan ribu orang di Stadion Gelora Bung Tomo Surabaya, Sabtu malam, 11 Januari 2020. Serupa dirigen Cak Nun melanjutkan,

Wani urip, gak wedi mati
Wedi mati, ojo urip
Wedi urip, mateko ae

Wani urip, gak wedi mati
Wedi mati, lapo urip
Wedi urip, bongko ae

Wani menang, gak wedi kalah
Wedi kalah, angel menang
Wedi menang….

Titik-titik terakhir Cak Nun sodorkan ke khalayak. Barangsiapa menjawab dengan kata atau frasa yang dinilai pas, maka panitia Persebaya hendak memberikan hadiah khusus. Sayembara itu gayung bersambut. Bonek dan Bonita berduyun-duyun menuju panggung. Mengucapkan jargon sesuai improvisasi.

Salah seorang bonek maju. Memegang mikrofon, dengan lantang ia memekikkan, “Wedi menang, ojok dadi Persebaya.” Ia lolos memenangkan perlombaan itu.

Begitulah kekhasan Sinau Bareng Cak Nun dan KiaiKanjeng. Partisipasi publik menjadi titik tumpuan bagaimana forum keilmuan disemai. Pada awal acara Cak Nun mengajak ribuan orang menirukan jargon, meminta mereka berpikir, dan memberikan kesempatan untuk mengemukakan pendapat.

Bonek dan Bonita secara harmonis merespons ajakan Cak Nun. Sinau Bareng sebelum pertandingan persahabatan antara Persebaya dan Persis Solo serupa impulse energi tersendiri yang tak pernah dipraksiskan dalam geliat olahraga nasional.

“Kita sedang melakukan perjuangan nilai-nilai hidup yang kita capai. Podo wae, Rek, sepakbola itu ibadah. Sama-sama juga dengan mencangkul maupun bekerja. Kita mencari yang terbaik dari nilai hidup kita. Nilai itu sudah saya sampaikan di awal tadi,” tutur Cak Nun.

Pesan Cak Nun mengenai sepakbola dan ibadah memberi makna betapa tak ada batas demarkasi di antaranya. Pada tataran kesadaran transenden dalam ibadah, sepak bola merupakan wujud rasa syukur atas persaudaraan.

Cak Nun sering mengujarkan agar menilik kembali esensi sepakbola. Baik ia sebagai jalan untuk menciptakan ghirrah maupun mewujudkan tolong-menolong. “Pokoknya temukan dimensi ibadah dalam sepakbola. Dari pemainnya, pelatihnya, pendukungnya, dan semuanya. Itu juga kan fastabiqul khairat,” ungkapnya di lain kesempatan.

Nasihat Cak Nun tersebut senada dengan tema acara, yakni Persebaya Forever Game: Mbonek Bareng Cak Nun, Noto Ati Ngukir Prestasi. Dalam rangka menata hati dalam bertanding sepakbola, maka dibutuhkan kesadaran ibadah pada tiap jejak pertandingan, sehingga prestasi akan mengikuti. Prestasi adalah akumulasi dari doa, tekad, dan optimalisasi momen.

Sebagai pribadi yang disepuhkan Persebaya, Cak Nun berharap agar klub paling digandrungi di Surabaya itu terus mengukir prestasi. “Dari sini saya doakan. Mari memasuki tahun 2020 dengan Persebaya dapat meraih kemenangan di puncak klasemen, Al-Fatihah,” tandasnya. Harapan itu terwujud. Pertandingan persahabatan itu dimenangkan Persebaya. Tim Persebaya mencetak 4 angka. Gol dicetak oleh Osvaldoo Hay, Alwi Slamat, Patrich Wanggai, dan Hansamu Yama.

Azrul Ananda, Presiden Persebaya, bungah atas kehadiran Cak Nun untuk mendampingi tim selama ini. “Saya senang dengan suasana malam hari ini. Semua berkumpul dan mengaji bersama bareng Cak Nun. Ini juga demi kebaikan Persebaya di kompetisi musim 2020,” ucapnya.

Capaian Persebaya

Kesuksesan Tim Persebaya tahun lalu, di Liga 1 tahun 2019, membanggakan masyarakat Indonesia. Perolehan prestasi itu justru mempertebal rasa optimisme persepakbolaan Persebaya di tahun 2020. Sebagai runner-up Liga 1 tahun 2019, Persebaya akan mendapatkan misi baru.

Persebaya yang terkenal dengan julukan Bajul Ijo akan bertanding di AFF Club Championship tahun ini. Hal tersebut diperkuat oleh pernyataan Ratu Tisha, Sekretaris Jenderal PSSI sekaligus Wakil Presiden AFF, kalau tahun kemarin dua kesebelasan di Indonesia, yakni Persebaya Surabaya (Runner UP) dan Bali United (Juara Liga 1) menorehkan capaian yang membungahkan masyarakat Indonesia.

Sinau Bareng digelar satu setengah jam dari pukul 18.00 sampai 19.30. Stadion ini direncanakan menjadi tempat Piala Dunia U20. Pertandingan uji coba antara Persebaya dan Persis Solo digadang-gadang menjadi laga perdana bagi skuat Persebaya.

Komposisi tim, baik didatangkan maupun baru dipromosikan dari tim junior, diharapkan melejitkan kapasitas Persebaya. Apalagi amunisi tambahan, salah satunya Patrich Wanggai, mewarnai sekaligus memperkuat tim. Patrich Wanggai memperkokoh opsi striker yang dimiliki Persebaya. Tahun lalu Patrich, saat bersama Kalteng Putra, begitu lincah dengan prestasi 7 gol dari 27 pertandingan yang diikutinya.

Digelarnya Sinau Bareng Cak Nun dan KiaiKanjeng dalam rangka Noto Ati Ngukir Prestasi, terutama bagi Persebaya, merupakan strategi jitu meningkatkan spirit sepakbola yang bukan sekadar persoalan fisik, melainkan juga kejernihan hati, pikiran, maupun tindakan.

Persinggungan Cak Nun dengan sepakbola telah dituliskannya dalam buku Bola-bola Kultural (Prima Pustaka, 1993). Buku itu berisi 34 esai dengan tebal 151 halaman. Di sana bisa terlacak bagaimana Cak Nun mendialogkan sepakbola dengan nilai-nilai kebudayaan: sportivitas, sinergi, maupun strategi. Cak Nun mencatat, “Kita belajar melalui anak-anak: berlatih keberanian, kerja sama, teguh dengan pilihan dan keputusannya.”

Buku dan Merchandise