Rasa Syukur Karena Keyakinan dan Iman kepada Allah

Foto: Adin (Dok. Progress)

Orang yang berdoa itu seperti memanjat ke tiga lapisan langit. Maka istilah “memanjatkan doa” itu memang nyata. Orang yang berdoa memanjat naik dari Langit Harapan, menuju Langit Keyakinan, dan Langit Kepastian. Kenapa orang berdoa, karena tempat tinggalnya adalah di lapisan Langit Harapan. Manusia bisa naik sampai ke Langit Keyakinan, tetapi tidak bisa naik lagi sampai Langit Kepastian. Karena Langit Kepastian adalah wilayahnya Tuhan.

Kutipan Tetes Mbah Nun “Tiga Lapis Langit Doa” di atas mengingatkan dan meluruskan cara saya berdoa dan berhubungan dengan Tuhan sebelumnya.

Pasalnya, ada banyak dalam perjalanan hidup saya yang diharapkan terlaksana malah tak kunjung terwujud. Sementara, ada yang tidak saya harapkan, tetapi saya yakini, malah Allah memberikan kejutan lebih, dengan terbukanya hal-hal melebihi apa yang saya harapkan sebelumnya.

Misalnya sejak kecil saya berharap bisa mondok (menimba ilmu di pondok pesantren), tetapi harapan mondok itu tak kunjung terlaksana. Harapan mondok itu pada kadar tertentu sampai-sampai menggangu kejernihan berpikir saya, bahwa yang menjadi tujuan bukan mondok, sekolah atau kuliah melainkan mencari ilmu dan berbuat baik.

Kekecewaan menemani harapan yang tak segera terlaksana tersebut. Pada ujung semua itu, saya tersadarkan bahwa yang terpenting itu mencari ilmu dan berbuat baik. Mencari ilmu dan berbuat baik bisa dari rumah, di sekolah, di pondok, di gardu, dari tongkrongan, pasar, mall, dll. Saya pegang teguh dengan iman dan yakin akan hal itu.

Seiring berjalannya waktu ternyata Allah mengabulkan dan membimbing keyakinan saya untuk mencari ilmu dan berbuat baik. Sejak SMA saya dibimbing untuk belajar di Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS), belajar beladiri, belajar cara berkomunikasi dan berteman dengan anak-anak geng motor yang suka mabuk dan meresahkan warga.

Saya berteman dengan mereka namun tak pernah sekali pun saya diajak menenggak “minuman” itu barang segelas. Saya hanya diharapkan mau duduk bersama, menemani mereka menghangatkan badan dengan “minuman”. Awalnya mereka setelah “minum” sampai mabuk, cari gara-gara sehinggai terjadi tawuran, tapi ketika kita sering ngobrol dan diskusi, hasrat tawuran berubah menjadi rasa kegembiraan karena bisa berkumpul bersama.

Dari situ, saya menemukan banyak hal: kesetiakawanan, toleransi, dan kebersamaan. Belum lagi yang saya dapatkan dari OSIS:  ketertiban dan kedisplinan untuk datang tempat waktu, totalitas dalam bekerja mempersiapkan acara, dan kerelaan untuk sementara meninggalkan keinginan pribadi demi menjalankan tugas. Bahkan terkadang kita harus rela meninggalkan pelajaran sementara untuk mempersiapkan acara, dan ketika acara sudah selesai kita mau tak mau harus mengikuti ketertinggalan pelajaran tersebut.

Semua bekal ilmu yang diberikan Allah itu diperjodohkan dengan Maiyah. Maiyah menurut saya malah lebih jangkep sebagai medan laga pendadaran diri menuju menjadi pendekar ilmu yang baik, dengan keluasan dan kedalamannya. Tanpa memandang status apalagi jabatan atau titel seseorang. Sebab, di Maiyah kita duduk bersama, saling belajar dan saling mengisi kekurangan dengan kebijaksaan.

Ahli sains belajar ke ahli ilmu Al-Qur’an, ahli Al-Qur’an belajar ilmu sains. Mahasiswa belajar kehidupan kepada pekerja pasar, broker, penjual akik, begitu juga sebaliknya. Semua duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dalam kehangatan diskusi. Di tengah-tengah itu, oleh Mbah Nun kita diajak berkenalan dan bermesraan dengan shalawat, yang menjadi keyakinan kita terhadap pertolongan Allah karena memuji Rasulullah, kekasih Allah.

Kita diajari tidak hanya pintar langit, tetapi juga pintar bumi.

Semua proses belajar jamaah Maiyah oleh Mbah Nun diberi dasar supaya dijalankan dengan prinsip kedaulatan berpikir, berpikir jernih, serta logika yang tepat sesuai sunnatullah. Kesemuanya dirangkum dengan dasar iman dan keyakian penuh atas kasih sayang Allah.

Sering ketika duduk melingkar maiyahan, jamaah yang duduk di sebelah saya menawarkan wedhang kopi, jajan, dan rokok untuk dinikmati bersama dalam menyimak jalannya maiyahan. Dari situ kita bisa belajar bahwa Jamaah Maiyah memiliki sikap altruis, yakni mengutamakan kepentingan dan kebaikan orang lain.

Semua kelengkapan pembelajaran itu saya syukuri karena Allah memberikan banyak ilmu dan kebaikan lebih dari yang saya bayangkan.

Selain itu kita juga tetap waspada sesuai pesan Mbah Nun dalam Tetes tersebut, asal kita tidak terjebak dari memastikan bahwa doa kita akan terkabul. Sebab kepastian adalah wilayahnya Allah.

Lainnya