CakNun.com
Membaca Surat dari Tuhan (15)

Momentum dan Kontra Momentum

Pada suatu hari dibangunlah sebuah panggung agak tinggi. Ternyata akan ada pertandingan persahabatan antara pendekar lokal Kotagede melawan pendekar Malaysia, dari asrama Pancasila. Wow, pasti seru karena beladiri Melayu agak berbeda dengan beladiri Jawa. Waktu kuliah saya pernah jadi panitia plonco dan menguji mahasiswa baru dari Patani yang punya bekal beladiri model Melayu yang gerakan serta irama geraknya sering tidak terduga. Saya juga pernah mendengar ketika pendekar Melayu membantu salah satu kerajaan di Bali dan mengajarkan silat Melayu lalu oleh orang Bali dikembangkan dengan karakter seni Bali yang menguasai irama pernah menjadikan atlet pencak silat Bali memborong medali emas di sebuah tahun PON.

Tentu waktu pendekar Melayu van Malaysia bertarung di Kotagede, di atas panggung dengan peraturan tunggal, siapa yang terlempar dari panggung dianggap kalah.

Masing-masing pihak mengirim lima petarung. Pertarungan pertama awalnya tidak menarik. Pesilat Malaysia malah mirip penari zapin. Pesilat Kotagede jengkel, langsung menerjang dengan jurus pencak silat Jawa. Hasilnya, entah dengan jurus apa tiba-tiba pendekar dari Kotagede terlempar dari panggung dan dinyatakan kalah.

Para penonton yang tidak menyangka kalau jagonya mudah dikalahkan dengan sekali gebrak jadi penasaran dan tidak menerima kekalahan ini.

Untung, pertarungan kedua pendekar kota saya itu berhati-hati. Ketika lawan menari, dia juga menari-nari dengan memamerkan jurus kembangan. Penonton bersorak melihat pertunjukan tari pencak silat ini. Pendekar Melayu yang ganti tidak sabar, dia menerjang menyerang pendekar Jawa. Serangan dapat dihindarkan lalu dengan cepat sekali kaki pendekar Melayu ditangkap dan dikunci lalu dengan sekuat tenaga dilempar ke luar panggung.

Gemuruh penonton dengan sorak dan tepuk tangan memenuhi sekitar panggung itu terlempar ke luar panggung dan dinyatakan kalah. Kedudukan jadi draw, satu-satu.

Pertandingan ketiga dimenangkan oleh pesilat Malaysia menerapkan jurus rapat berjarak dekat sehingga memacetkan jurus tendangan. Hanya tangan yang bisa dimainkan. Kecepatan gerak tangan pesilat Malaysia ini luar biasa. Nyaris tidak terlihat mampu menangkap dua tangan pesilat Kotagede dan dengan gerakan badan meliuk mirip gerakan yudo dia memasang kaki kokoh lalu melemparkan pesilat Jawa ini keluar panggung. Kalah. Yang terlempar keluar panggung dinyatakan kalah. Kedudukan menjadi dua satu untuk pesilat Malaysia.

Saya melirik ke para senior pencak silat kampung ini. Mereka berunding. Dan menampilkan pendekar yang kurus langsing mirip pendekar pendiri perguruan. Ketika lawan mengulang menerapkan jurus rapat, pendekar kampung ini pandai berkelit. Dia bahkan dengan cermat melancarkan jurus kapyukan dan pecutan yang tidak terduga arahnya dan tidak bisa ditangkis lawan. Jurus kapyukan dan pecutan ini sangat berbeda dengan jurus pukulan lurus yang mudah ditangkap tangannya. Dengan memanfaatkan efek lengkung pendekar kampung meledakkan tangan terbuka dan tertutup berganti ganti sehingga sulit ditangkis atau dihindari. Momentum serangan pendekar kampung tidak bisa dihadang dengan kontra momentum.

Lawan terpaksa mundur sehingga muncul jarak lumayan pas bagi momentum menyerang dengan kaki berupa jurus paculan yang berbahaya. Lawan terpaksa menundukkan kepalanya sambil mundur untuk menghindar. Pada saat lawan mundur dan menundukkan kepala, pendekar kampung menyergap dengan dua kali tendangan depan lurus yang sering diplesetkan oleh anak kampung sebagai jurus genjotan tukang becak. Lawan terpaksa mundur agak jauh agar selamat dari sepasang jurus genjotan tukang becak ini. Ia berhasil menghindar dari tendangan ini. Tetapi karena loncatan mundur terlalu jauh ia kehabisan ruang pijak di panggung sehingga terjatuh ke luar panggung dan dinyatakan kalah.

Melihat pesilat Malaysia terjatuh bukan karena tendangan, tetapi kurang memperhitungkan luas panggung ini penonton ketawa. Dianggap lucu. Pesilat kampung pun memberikan hormat kepada wasit dan dan penonton yang disambut tepuk tangan menggemuruh. Kedudukan menjadi dua-dua untuk tuan rumah dan tamu. Pertarungan kelima atau terakhir sungguh menentukan. Saya lihat kedua belah pihak sama-sama berbisik kepada calon petarungnya sendiri yang akan tampil di panggung. Menentukan siasat agar pesilatnya bisa memenangkan pertarungan.

Kedua pesilat tampil berbeda. Keduanya membuat jarak dan kembali menari-nari di panggung. Kemudian gerak mereka melambat dan berputar dengan gerak tangan dan kaki mantap. Keduanya saling menerjang saling bisa mengenai lawan lalu cepat mundur menghindari tangkapan. Gabrus-gabrus ini terjadi berkali-kali menyebabkan penonton senang. Mereka bersorak-sorak menyemangati jago masing-masing. Lalu terjadi gabrus hebat dan dua pesilat berhasil saling mengunci tangan lawan. Ketika pesilat Melayu bisa membanting lawan, pesilat kampung sengaja menjatuhkan tubuhnya dengan tetap memegang tangan lawan dan dengan gerak kontra momentum berhasil membalas bantingan dengan bantingan. Terjadi pertarungan bawah dan lekat mirip dua jago MMA bergulat dan berguling-guling cepat sampai akhirnya setelah melampaui batas panggung kedua terjatuh ke luar panggung dan keduanya dinyatakan kalah. Draw.

Ini adalah kebetulan atau hasil siasat pendekar utama masing-masing pihak yang menerapkan strategi draw agar tuan rumah dan tamu sama-sama tidak menderita malu atau bagaimana saya kurang tahu.

Setelah itu berbagai hal yang menakjubkan sebagaimana kata Ayah memang saya temukan. Misalnya ketika anak muda seusia saya berombongan ke desa Potorono, di rumah Pak Carik atau di rumah Dalhar Dw yang juga murid Umbu Landu Paranggi di Malioboro, malahan dia pernah ikut Perkemahan Kaum Urakan di pantai selatan, ada latihan Tapak Suci, saya ikut satu dua kali latihan. Pelatihnya menjelaskan tentang bagaimana membangun momentum memecahkan benda keras seperti batu bata.

Di perguruan ini tenaga ajaib yang bisa disalurkan untuk memecahkan benda keras, untuk menusuk lempeng besi dengan kuku ibu jari disebut tenaga alam. Ayah Kiai Fuad Riyadi Wonokromo yang pendekar Muhammadiyah bisa memukul pohon jadi berderak patah dengan menggunakan tenaga pikiran. Ada perguruan beladiri yang menggunakan teknik pernafasan dan pola langkah kaki tertentu menyebut tenaga ajaib ini tenaga biolistrik. Ada perguruan yang kalau latihan menggunakan pantai Samas menyebut tenaga prana dan Pak Daliso Rudianto sebagai Ketua Umum Ikatan Beladiri Tenaga Dalam Indonesia (Ibetado) menyebutnya sebagai tenaga dalam.

Dia bersedia menjadi Ketua Umum Ibetado untuk ikut menjernihkan masalah ini. Tentu sebagai ketua umum himpunan para pendekar Pak Daliso Rudianto punya ilmu tangkap rangkap yang antara lain dia pelajari dari seorang Kiai sepuh yang pesantrennya di Piyungan, belajar di perguruan Garuda Sakti Warungboto yang kemudian menjelma menjadi perguruan Walisongo yang Guru besarnya pernah diwawancarai Mas Uki Bayu Sejati bersama saya. Pak Daliso sering dipuji oleh pendekar yang mungkin meragukan kependekaran dia.

Sebagai alumni sekolah guru dia menggunakan kekuatan psikologi bernama sugesti, kekuatan kata, dan sungguh-sungguh menyiapkan kekuatan fisik sebagai pemegang sabuk hitam karate aliran keras full contact. Mungkin dia murid dan murid Master Oyama yang punya ilmunya Jaka Tingkir bisa menaklukkan Banteng mengamuk dengan pukulan keras ke kepala binatang itu. Ketika saya tanya kenapa sudah punya ilmu pencak silat, ilmu tenaga dalam dia masih bersusah payah belajar karate. Jawabannya sederhana, dia pernah bertugas sebagai muballigh keliling dan menjadi Ketua Ikatan Mahasiswa Yogyakarta yang tantangan di lapangan berat. Dia tahu kalau tenaga dalam atau apapun namanya itu fondasinya yang himpunan tenaga fisik. “Kalau suatu hari saya dipaksa masuk momentum pertarungan dengan durasi panjang, saya masih punya cadangan stamina, termasuk stamina jiwa dan pikiran,” jawabnya.

Yang namanya momentum ini memang kadang bisa dibangun, diciptakan, dikreasi, tetapi dari pengalaman memang sering dipaksakan. Oleh karena itu langkah taktis berupa tindakan kontra momentum perlu kita miliki dan kita tabung jangan diboroskan. Dengan demikian sewaktu-waktu bisa digunakan. Dalam konteks ini, setelah pertarungan persahabatan antara pendekar lokal Kotagede melawan pendekar Malaysia, kedua belas pihak sama-sama merasa menang. Paling tidak merasa menang pengalaman.

Untuk ini para pendekar Kotagede terus belajar mematangkan Ilmunya. Antara lain dengan mempelajari ilmu beladiri lain, termasuk yang berasal dari luar pulau dan luar negeri. Waktu itu di STO yang kemudian berubah menjadi FPOK ada mata kuliah perbandingan beladiri. Guru olahraga saya di sekolah menengah yang berasal dari Kulonprogo yang kemudian menikah dengan wanita yang masih masuk keluarga besar Bani saya, waktu kuliah di STO menekuni mata kuliah perbandingan ilmu beladiri. Suatu hari guru olahraga ini menemui saya sambil membawa diktat, buku besar dengan cetak stensil tetapi bergambar halus dan detail.

“Tolong sampaikan buku ini ke Kang Jakfar, pendekar Senopati.”

“Baik, Pak. Saya tahu rumahnya. Dekat tempat saya dan teman-teman pengajian IPM.”

Buku itu saya terima. Ketika saya buka, isinya asyik. Semua jurus tangan dan kaki, serangan dan hindaran dari beladiri karate. Saya baca nama jurus dan macam-macam kuda kuda dalam bahasa Jepang hurufnya latin. Waktu istirahat pelajaran sekolah, teman-teman mengerubung saya dan ikut melihat-lihat gambar-gambar. Termasuk gambar adegan pertarungan.

Buku itu saya serahkan kepada yang berhak dan saya mendapat ucapan terima kasih. Sayangnya waktu itu belum ada fotocopy sehingga saya tidak bisa memfoto copy untuk dipelajari secara mandiri.

Tuhan memang Maha Pemurah. Rasa penasaran saya akan karate mendapatkan jawaban berupa momentum belajar karate meski hanya sebagai murid pemula karena saat senangnya berlatih saya harus merantau ke Jakarta. Di karate, jurus kontra momentum berupa tangkisan dan serangan balasan pasca tangkisan. Waktu berlatih tangan harus belajar kebal terhadap rasa sakit. Dan di Jakarta saya terpaksa mempraktikkan gerak kontra momentum karena momentumnya dipaksakan oleh teman berlatih teater yang menganggap Cah Yogya ngalahan dan pantas diremehkan. Gerak kontra momentum yang mengenai jagoan Jakarta yang saya lontarkan membuat dia sakit di dada seminggu lebih. “Wah, kau ternyata punya mainan ya Mus,” katanya.

“Setiap anak muda kota saya, sebelum berangkat diberi bekal yang memadai,” jawabku diplomatis.

Di antara anggota teater yang berlatih di kantor pusat Muhammadiyah ini ada anak Jawa Barat. Waktu kami sama sama pentas drama di arena Muktamar ke-40 di Surabaya, waktu malam-malam menginap di gedung sekolah dasar dia, anak Jawa Barat ini memaksakan momentum untuk menakut-nakuti saya dengan memakai kostum pocong, ruang gelap lampu dimatikan. Saya awalnya kaget dan takut juga, tetapi dua detik kemudian saya membalas dendam kontra momentum. Ada teman pecinta alam di Kotagede pernah mengenalkan jurus pukulan lurus model Shorinji Kempo. Kena jurus kontra momentum itu anak yang berkostum pocongan menjerit hampir kehilangan keseimbangan.

Dalam pengalaman hidup saya sebagai penggemar bis kota memang lebih banyak momentum pencopetan dan penjambretan yang dipaksakan ke penumpang. Sebagai orang yang sedikit punya tabungan atau cadangan bekal melakukan kontra momentum saya tiga kali bisa membuat pencopet tidak berkutik. Hanya sekali saya gagal melakukan gerakan kontra momentum sehingga uang untuk membayar hutang ke Bude amblas. Sebab waktu itu saya menggendong anak sulung, dan istri menggendong anak kedua. Kami satu tangan berpegangan pada besi pegangan, dan satu tangan menggendong anak. Pencopetnya dengan mulus menciptakan momentum mencopet.

Mengapa menyadari hadirnya berbagai momentum dan menabung atau punya cadangan untuk melancarkan kontra momentum penting? Karena ada surat dalam Juz ‘Amma yang membicarakan soal momen ini. Yaitu surat Al-‘Adiyat. Surat tentang kuda perang yang menciptakan momentum penyerangan di waktu Subuh. Mengapa Serangan Umum 1 Maret 1949 berhasil? Karena TNI dan laskar pejuang di bagian komando Pak Harto menciptakan momentum penyerangan di waktu fajar dan Belanda tidak siap dengan gerak kontra momentum.

Lantas mengapa gerakan G30S PKI yang dikamuflase sebagai gerakan Dewan Revolusi yang dipimpin Letkol Untung gagal padahal dilaksanakan pada momentum dinihari? Karena sebagai Komandan Kostrad, Pak Harto berhasil melaksanakan kontra momentum untuk mematahkan gerakan Letkol Untung.

Gerak momentum dalam beladiri atau langkah menciptakan momentum dalam politik biasanya tidak terduga. Tetapi juga orang yang punya bekal tabungan langkah taktis bisa menjawab dengan gerak langkah taktis yang bermakna sebagai kontra momentum.

Dalam surat Ath-Thoriq disebutkan adanya fenomena the rising star yang tidak bisa dihadang. Tetapi the rising star negatif hanya akan berujung pada ayat wamahhilil kafiriina amhilhum ruwaida. Masalahnya, ruwaida ini durasi waktunya berapa lama? Mungkin bisa diwujudkan kalau ada yang mau melancarkan jurus kontra momentum.

Yogyakarta, 5-6 Juli 2021.

Lainnya

Pengantar Ringkas Cahaya Maha Cahaya

Pengantar Ringkas Cahaya Maha Cahaya

Catatan Redaksi: Dua puluh Sembilan tahun lalu, yakni tahun 1991, penerbit Pustaka Firdaus menerbitkan kumpulan sajak Mbah Nun berjudul Cahaya Maha Cahaya dan diberi kata pengantar oleh penyair dan sastrawan Sapardi Djoko Damono, yang pada pertengahan bulan lalu, 19 Juli 2020, telah dipanggil kembali ke haribaan-Nya.