Membaca Surat dari Tuhan (19)

Memahami Kode Semesta

Sampai di Kretek, waktu itu belum ada jembatan besi dan beton memanjang di atas sungai. Kami berdua beruntung. Menjelang pagi rakit sudah beroperasi. Para pedagang sudah memanfaatkan rakit untuk memulai kegiatan dagang. Kami memanfaatkan rakit untuk menyeberangi sungai menuju tempat berkemah. Sampai di seberang kami harus berjalan sekitar lima kilometer untuk sampai di lapangan tempat berkemah. Kami mencari langgar untuk shalat Subuh, minum teh panas yang sudah berubah hangat dan mengunyah dua pisang kepok kuning rebus sebagai pengganjal perut. Berjalan menempuh malam sepanjang dua puluh kilometer membuat kaki pegal, dan perut lapar. Shalat Subuh. Istirahat sebentar sambil menghangatkan badan dengan teh manis hangat dan mengisi perut sekadarnya.

Kantuk membayang. Untungnya tidak menyergap mata dengan hebat. Dengan demikian kami berdua masih bisa menunda tidur. Toh perjalanan tinggal sisa.

Kami melewati Desa Grogol yang di kemudian hari ada teman berasal dari sini tinggal kost di Mergangsan kuliah di Fak MIPA UGM jurusan yang berkaitan dengan nuklir, dia pengasuh pengajian anak-anak Masjid Al-Jihad Mergangsan yang setiap peringatan Isra’ Mi’raj mengadakan peluncuran roket ukuran kecil ke langit untuk hiburan anak-anak pengajian. Di kemudian hari pengasuh pengajian anak-anak ini menjadi dosen di Undip dan membantu saya mengisi lembar Anak-anak Mitra milik suara Muhammadiyah dengan mengisi rubrik soal-soal fisika dan matematika bagi anak SMP. Karena itu saya rutin ke Grogol, ke rumah orangtuanya untuk mengirim honor tulisan.

Tentu waktu kami berdua berpetualang jalan kaki long march Kotagede-Parangkusumo ini saya belum berkenalan dengan Cah Grogol yang ahli fisika ini. Sebab saya belum kost di Mergangsan dan oleh Indra Tranggono belum dikenalkan kepada Cah Grogol ini. Saya juga belum menjadi wartawan beneran tetapi sudah menjadi sastrawan setengah jadi.

Baiklah, kami berdua sampai di perkemahan disambut tepuk tangan dan salaman. Kang Habib Chirzin sebagai Ketua Pimpinan Pemuda Muhammadiyah Cabang Kotagede sebagai penanggungjawab jawab perkemahan menyalami saya dan teman seperjalanan saya yang bernama Fauzan Nuri ini. Teman sejak sekolah SD Muhammadiyah Bodon sampai di PGAL Ma’had Islamy Kotagede, punya nenek di Wonokromo yang sering kalau hari libur saya diajak dolan ke desa yang antik itu.

Kami berdua sesampai di perkemahan mandi di rumah penduduk dan ganti baju. Makan pagi dan dipersilakan istirahat alias tidur. “Pecinta alam yang tangguh pun memerlukan istirahat, silakan,” perintah Kang Habib Chirzin yang tentu tidak kami bantah.

Siang, kami mendaki bukit untuk sampai ke makam Syekh Maulana Maghribi yang dulu sering diziarahi Ayah untuk mengasah ilmu membuka kode semesta.

Setiap naik beberapa meter, pemandangan sekitar berubah makin indah dan cakrawala makin luas. Sesampai di puncak bukit, setelah berdoa dan mendoakan Syekh Maulana Maghribi kami menikmati pemandangan laut yang tampak luas dan mencoba membedakan mana spot laut yang dangkal dan tajam. Ternyata bagian yang dalam dengan warna biru lebih tua lebih banyak spotnya dibandingkan bagian laut dangkal yang berwarna biru lebih muda.

Angin berhembus menyegarkan tubuh dan saya teringat perjuangan Syekh Maulana Maghribi yang datang dari dunia Maghrib sana pasca pengusiran umat Muslim oleh umat lain. Bahkan Syekh Maulana Maghribi yang berlayar terus ke timur mendengar orang Portugis dan Spanyol memburu umat muslim terus ke timur sampai ke arah Maluku bersama sekutu mereka orang Belanda dan Inggris. Saya bayangkan setiap hari Syekh Maulana Maghribi sengaja datang ke puncak bukit memainkan teropongnya ke laut luas untuk mengetahui kapan gerombolan orang Eropa yang berburu rempah sekaligus membalas dendam karena tanah leluhur mereka ratusan tahun pernah dikuasai kerajaan Islam.

Saya bayangkan Syekh Maulana Maghribi yang dianggap leluhur Mataram Islam ini kecele, karena rombongan kapal kolonial itu melewati rute perjalanan di utara Jawa. Tahu tahu muncul di pantai Banten, Jayakarta, Jepara, Tuban, Tegal, Cirebon, Surabaya, Semarang. Tidak muncul di pesisir selatan Jawa.

Setelah puas berada di lokasi penziarahan dan lokasi wisata sejarah ini kami turun untuk istirahat dan memulai aktivitas malam di perkemahan.

Paginya setelah sarapan kami berlima yang merupakan pecinta alam agak senior di Kotagede pamit mau melihat pemandangan laut lewat ceruk di Goa Langse. Tapi kemudian kami diam-diam mengubah rute. Menuju sowangan atau muara di timur Samas itu.

Kami berlima berjalan di antara sungai dan bentangan pasir dan pantai. Kami bisa melihat bagian pantai landai yang menandakan kalau lautnya dangkal dan pantai curam yang menandakan laut di dalamnya amat dalam alias berupa palung yang dalamnya bisa ribuan kaki. Saya ingat waktu kemarin di puncak bukit makam Syekh Maulana Maghribi itu, palung di selatan Jawa ini banyak dan kata teman saya yang oceanolog atau ahli ilmu kelautan, dalamnya tidak kalah dengan kedalaman palung di Laut Arafuru.

Di sebelah kanan juga mengasyikkan. Kami menyusuri pinggir sungai sambil tertawa gembira, melompat lompat, bermain drama satu dua babak singkat dan salah satu teman berjongkok menggambar di pasir basah pinggir sungai.

“Apa kuwi Kang?”

“Iki gambar wong tenggelam, lucu ya,” jawabnya disambut tawa yang lain.

Deg. Saya berdebar. Seperti ada alarm atau kode alam berdering di kepala.

Kami pun sampai ke dekat muara dan melihat dua aliran sungai, timur dan barat kemudian membelok ke selatan menuju muara yang tampak sempit dengan air tenang bahkan air laut tampak bergerak ke muara.

“Lho dulu sini kering dan keras. Dua aliran ini masuk ke bawah bentangan pasir kering padat dan kuat,” kata teman seperjalanan jalan kaki dari Kotagede.

“Sebentar saya cek,” kata teman yang tadi membuat gambar di pasir basah.

Dia langsung menceburkan diri di muara.

“Wah. Ming sak mene kok. Hanya sekian dalamnya,” katanya sambil menunjuk perutnya sebagai batas kedalaman air.

Kami berlima ramai-ramai masuk muara yang masih ada sisa pasir terapung tapi tenggelam di kedalaman setengah meter lebih. Rupanya pasir terapung ini rapuh dan tidak kuat menyangga beban badan kami berlima. Pasir terapung patah dan kaki kami menyentuh kedalaman air tidak terhingga. Terjadi kepanikan. Salah seorang menyambar badan teman tapi lepas dan yang disambar bisa berenang cepat menuju seberang. Saya disambar teman saya ke arah timur kembali ke darat dengan cara berenang dan selamat. Satu teman lupa berenang dan hanya enggak lalu tubuhnya disambar ombak yang siang hari itu pasang naik air lautnya.

Saya dan penyelamat saya tidak bisa menyelamatkan dua teman. Yang satu hanyut karena arus bawah muara yang mirip air terjun dan yang satu disambar ombak sampai ke tengah laut di muka mulut muara.

Teman yang selamat di seberang gugup. Saya berdua yang selamat di timur mulut muara yang muka melebar mundur ke belakang. Lalu saya memutuskan tindakan taktis.

“Saya lapor ke Kang Habib dan kalian berdua tunggu disini,” teriakku sambil bersiap berlari menuju timur.

Dua teman yang selamat, satu di barat mulut muara dan satunya di rumur mulut muara mengangguk. Saya pun berlari dan berlari sambil berdoa

Saya menggunakan jurus lari seperti yang dilakukan guru ngaji saya, dengan lompatan panjang seperti terbang. Saya mengayun dua tangan untuk menambah kecepatan lari. Saya tidak tahu berapa lama saya berlari dan heran kaki saya demikian kuat untuk menempuh jarak beberapa kilometer itu dengan berlari cepat.

Sesampai di perkemahan, teman-teman yang habis makan siang heran melihat saya berkeringat, napas memburu dan wajah tidak pucat.

“Ada apa? Ada apa?” tanya Kang Habib khawatir.

Saya terduduk, mencari ransel saya. Menyobek kertas block note cap kera menulis dan mencari ballpoint. Saya menulis di kertas itu, “Dua teman kita ditelan laut.” Kertas itu saya berikan kepada Kang Habib Chirzin yang kemudian melapor ke penduduk sekitar.

Sebelum itu saya sampaikan posisi kami yang di muara sungai. Saya lapor kalau dua teman yang selamat masih ada di sana.

Kemudian Kang Habib memutuskan sebuah tindakan taktis.

“Mus, kau lapor ke Kotagede,” katanya tegas.

“Siap,” jawab saya lalu melihat sekeliling.

Kebetulan waktu itu Perguruan pencak silat Betako Merpati Putih sedang latihan massal di lapangan Parangkusumo. Kami minta tolong anggota atau pelatih Merpati Putih untuk mengantarkan saya ke Kotagede. Setelah tahu masalah yang kami hadapi saya dibonceng pakai motor menuju Kotagede. Sepanjang perjalanan ke Kotagede saya diam, berpikir keras menyusun kata-kata yang tepat dan ringkas. Karena saya tidak mendapat pengarahan harus lapor ke siapa maka saya mengambil inisiatif untuk melaporkan ke keluarga korban. Yang memboncengkan saya dengan sigap mengendarai motor ngebut tetapi terukur menuju arah yang saya pandu.

Sampai di rumah pertama, yaitu tempat teman seperjalanan jalan kaki itu dan saya menemui kakak iparnya. Saya laporkan kronologi kejadian ini selengkapnya lalu saya pamit untuk mendatangi rumah kedua. Keluarga dari teman berkemah yang pernah menemani saya menjadi guru mengaji di Langgar Adz-Dzikro yang kalau Lebaran menjadi komandan Kokam, kami yang menjadi pasukan pengamanan pawai Idul Fitri dan Idul Adha dari peserta pawai Angkatan Muda Muhammadiyah. Rumahnya di Basen. Saya ditemui keluarga Kang Mulyo Raharjo ini. Saya laporkan kronologi kejadian itu selengkapnya lalu saya pamit untuk kembali ke Parangkusumo.

Entah gugup atau karena merasa tugas sudah selesai saya lupa mampir ke rumah dan tidak melaporkan keselamatan saya ke orang tua. Sepeninggal saya Kotagede geger. Dua keluarga yang anak atau saudaranya yang tenggelam itu bersama Muhammadiyah dan anggota Pemuda Muhammadiyah serta masyarakat kemudian bergerak. Mereka mengirim kelompok untuk mengawasi muara timur Samas dari sisi barat dan timur. Rombongan juga ada yang mendatangi tempat perkemahan. Setelah saya mengucapkan terima kasih kepada Mas Merpati Putih saya istirahat di tenda, dipaksa makan siang yang tertunda.