Kebon (217 dari 240)

Awet Tua, Kemudian Awet Muda

Dok. Pribadi.

Kalau tidak ada Mas Uki Bayu Sejati (UBS) di Jakarta, yang dikenali orang pada saya pasti bukan sebagaimana saya sekarang. Tanpa UBS, pasti banyak cacat pada kelengkapan hidup dan sejarah saya. Tanpa UBS, banyak keadaan yang tidak bisa saya adakan, banyak kondisi yang tidak bisa saya kondisikan, banyak perolehan yang saya tidak bisa peroleh, dan banyak pencapaian yang saya tidak bisa saya capai.

Allah malahan yang menghutangi saya dengan menganugerahkan saudara berhati tulus itu.

إِن تُقۡرِضُواْ ٱللَّهَ قَرۡضًا حَسَنٗا يُضَٰعِفۡهُ لَكُمۡ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡۚ وَٱللَّهُ شَكُورٌ حَلِيمٌ

Jika kamu meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya Allah melipat gandakan balasannya kepadamu dan mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pembalas Jasa lagi Maha Penyantun.

Hutang saya kepada Allah takkan terbayarkan, bertumpuk lagi dengan hutang hidup saya kepada UBS juga mustahil saya lunasi.

Kalau tidak ada UBS, mustahil saya bisa menembus ruwetnya hutan rimba kota metropolitan Jakarta. Mustahil saya mampu membelahnya, menyisirnya, serta menembus-nembusnya hingga ke pojok-pojok dan tepian yang tidak bisa saya bayangkan.

Saya pertama memasuki Jakarta di awal 1970-an ketika saya masih manusia udik dari Yogya. Saya bersama rombongan penyair dan sastrawan Yogya turun di Stasiun Gambir, buta huruf grayak-grayak untuk bisa sampai di Taman Ismail Marzuki Jl Cikini Raya. Tetapi saya punya UBS yang nggenahke segala sesuatunya. Kami ditampung di Wisma Seni TIM di kamar yang bisa memuat 40 orang, hampir seperti di Gontor pada dekade sebelumnya.

Menghirup udara Jakarta rasanya ngeri-ngeri penasaran. Ketika di TIM nongol sejumlah “Malaikat Sastra” Sutardji Calzoum Bachri, Ikranegara, Taufiq Ismail, Leon Agusta, Putu Wijaya, Hamid Jabbar, terasa benar dimensi “udik” dalam hati dan mentalitas kami. Bangga-bangga mangkel. Sebab Jakarta adalah pusat segala-galanya, termasuk dalam konstelasi sastra. Beberapa bulan sebelumnya saya terlibat perdebatan dan polemik mengenai “center and pheriphery” kesusastraan Indonesia di Harian “Sinar Harapan” di mana kami dari daerah menyatakan tidak sependapat pada sentralisasi geografis seperti itu. Pusat sastra adalah kreativitas sastra, tidak peduli kreatornya berdomisili di mana. Untuk menentukan dan menakar kualitas karya sastra, pemetaannya bukan ibukota atau privinsi, melainkan kualitas nilai yang dikandung oleh karya-karya itu sendiri.

Bahkan di halaman opini Harian “Kompas” saya menulis sepanjang satu seperempat halaman untuk “melawan” Dewa Penyair Goenawan Mohamad, dan beliau melecehkan saya dengan hanya menanggapinya melalui Surat Pembaca sepanjang tiga alinea pendek.

Pada kesempatan lain di mana saya membaca puisi dengan menggelar Musik Puisi Dinasti, sesudah pementasan berlangsung perdebatan habis-habisan antara Sutardji Calzoum Bachri dengan saya. Saya bukan ahli debat atau jagoan sastra. Saya hanya pernah dilatih merdeka berekspressi dalam “Muhadlarah” Gontor. Sehingga saya menolak untuk meremehkan siapapun saja, apalagi diremehkan.

Hal-hal yang menyangkut sastra, puisi, nilai-nilai, bukan masalah besar. Yang masalah di Jakarta adalah Biskota nomor berapa kalau dari Cikini mau ke Bulungan atau tempat-tempat lain. Saya bersama Linus Suryadi AG sahabat saya, Atas Danusubroto dll di Yogya jangankan motor, sepeda pun tak punya. Tiap hari kami jalan kaki ke mana-mana. Setiap malam kumpul di Malioboro utara. Lewat tengah malam dikepala-ulari Umbu kami menyusur Malioboro hingga Kraton, balik Kantor Pos, ke timur Bioskop Permata, ke utara sampai Bisokop Rahayu, belok ke barat hingga Tugu, kemudian kembali ke Melioboro. Seminggu sekali kami pertemuan dan jalan kaki minimal ke Kotagede, terkadang di Muntilan, Wates, bahkan Magelang dan lereng Gunung Dagi sebelah Borobudur.

Warung di depan TIM sekali makan harganya 2-3 kali lipat dibanding warung-warung tukang becak di Jl Pasar Kembang sebaris dengan rel kereta api. Kalau pas Umbu dapat “wahyu” kami sesekali ditraktir di warung agak level tinggi dan serius di Tugu ke utara, pinggir sungai dekat STM. Atau di seberang gedung yang sekarang menjadi Hotel Purosani. Atau di Tamansari timur perempatan. Kali lain kalau penyair senior kami barusan ambil honorarium dan sedang agak “gila”, kami bisa ditraktir di tiga warung berturut-turut.

Kalau malam Minggu Linus dan saya sengaja menjadi masokhis di sepanjang Maliboro. Jalan kaki untuk menyakiti hati kami sendiri. Di sana sini para remaja bergandengan tangan cowok cewek, atau terkadang mengalungkan tangannya di pinggung ceweknya. Itu semua peluang bagi saya dan Linus untuk mendramatisasi kesepian kami, sampai terkadang membawa-bawa Tuhan segala.

Jalan sepanjang Malioboro Linus selalu menolak pakai sandal. Ia cèkèran kakinya. Rambutnya tebal setengah keriting panjang hampir ke pantat. Sosoknya melebihi singa. Kami meng-GR-GR-kan diri, karena foto wajah kami sudah lumayan sering nongol di koran lokal. Ketika di dekat Toko Terang Bulan milik Pak Muhadi Zainal yang kelak menjadi Boss saya di Harian Masa Kini di mana beliau adalah Pemimpin Umum. Ada beberapa cewek sedang mengobrol sambil sesekali menoleh-noleh. Linus menggamit pundak saya dan berbisik: “Mereka itu tahu kita, Em”.

Saya menganggukkan kepala meskipun tidak setuju. Tapi beberapa hari kemudian OSIS SMA “Santa Maria” mengundang untuk acara Apresiasi Sastra, dan Umbu memerintahkan kepada Linus dan saya untuk menghadirinya. Sesudah selesai acara dengan remaja-remaja Katolik itu saya menjadi yakin bahwa yang dikatakan oleh Linus di Malioboro beberepa hari yang lalu itu memang omong kosong. Bagi para remaja kontemporer kota Yogya, tidak ada faktor apapun pada penyair seperti kami yang menarik hati mereka. Anak-anak remaja itu tidak tahu Persada Studi Klub Mingguan “Pelopor Yogya” yang sering manampangkan foto Linus dan saya. Andaikan ada satu dua orang yang pernah melihat, juga apa menariknya.

Padahal Linus dan saya sudah PSK-elite yang puisi-puisi kami dimuat di rubrik “Sabana”. Bagi para penyair muda di era 1970-an, puisinya masuk Sabana itu rasanya seperti pergi Umroh. Dan kalau kelak bisa masuk Majalah Sastra Nasional “Horison”, rasanya sudah sama dengan KH, Kiai Haji gengsinya.

Ketika saya ke Jakarta untuk Pertemuan Sastrawan di TIM itu, saya belum lolos masuk “Sabana”. Jadi rasanya belum punya Sertifikat sebagai Penyair. Jadi masuk TIM itu modal saya adalah “ngasak” Menturo dan “Muhadlarah” Gontor. Pokoknya kalau harus ditabrak ya saya tabrak. Kalau harus saya ringsek ya saya ringsek. Saya arèk Menturo, Jl Kik Ronopati. Mau Sutardji mau Taufiq Ismail, saya tadhahi mau apa saja.

Sejak pertistiwa Pertemuan Sastrawan TIM itu Mas Uki (UBS) menjadi sahabat saya. Pelan-pelan, dari tahun ke tahun, saya menemukan dan menyadari bahwa Mas Uki adalah Juara Kesetiaan dan Maestro Pelayanan. UBS sungguh-sungguh seorang sahabat dan saudara sejati. Sampai hari ini. Terakhir kemarin kami sama-sama nonton filmnya Bu Novia Kolopaking “Terimakasih Emak, Terimakasih Abah” di Metropol, dan saya sangat mengahayati betapa dulu Mas Uki muda sudah seperti tidak muda, tetapi sekarang Mas Uki tua justru tampak selalu muda. UBS mungkin dua tahun usianya di atas saya.

Entah bagaimana dulu cara komunikasinya, tapi pokoknya kapan saja saya ke Jakarta, yang saya ingat adalah bahwa beliau selalu mengantar saya ke acara-acara atau keperluan lain. Dengan Suzuki Colt bak kecil berwarna hitam UBS mengangkut saya ke mana-mana. UBS keluarganya lancar dan sakinah. Santai dan segar sebagaimana umumnya orang Betawi. Tidak kaya tidak miskin. Ketika saya dengan Bu Novia ke Philadelphia dan mampir New York dan Washington, kaget luar biasa ditemui oleh seorang wanita muda yang ternyata adalah putrinya Mas Uki, yang bekerja di World Bank. Ya Allah hebatnya Mas Uki. Saya sering menginap di rumah sederhana beliau di Kebayoran Baru dekat Pasar Bunga, juga tatkala beliau sudah boyong ke Pamulang. Semua begitu bersahaja. Bagaimana mungkin putri beliau mak bedunduk nongol di New York yang saya klayapan seperti gelandangan.

Tahun 1981 seminggu penuh saya begadang di Broadway Manhattan Jl 34, beberapa petak rumah di samping Madison Square Garden. Berseberangan dengan gedung besar milik Sekte Protestan Sung Myung Moon yang saya memasuki forum-forumnya dan panen ambil pakaian-pakaian, terutama Jaket, baju dan kaos. Ke Amerika atas undangan Pemerintah Amerika dengan biaya sepenuhnya dari mereka, baru saya punya kemungkinan bisa ke Amerika. Putrinya Mas Uki mandiri bisa ke New York dan bekerja di Bank Dunia.

Dahsyat UBS ini. Bahkan ketika saya rutin wajib kunjung Sabrang di Metro Lampung, beberapa kali UBS dengan sangat ringan kaki mengantarkan saya menyeberang laut lewat Merak ke Bakahuni. Bahkan sebelum berangkat beliau dengan legowo mengantarkan saya ke pertokoan di Pasar Senen untuk mencari mainan “PS” untuk Sabrang.

Di manapun saya beracara memenuhi undangan, sastra atau keagamaan, Mas Uki selalu berada bersama saya. Pada suatu malam UBS mengantarkan saya mengisi pengajian salah satu “geng” para artis kondang Ibukota. Setelah selesai, mereka kasih bingkisan baju bagus, di dalam pembungkusnya ada kunci mobil Mercy dan catatan bahwa saya ditunggu oleh pemiliknya di tempat parkiran. Malaikat mencatat siapa yang menunggu saya itu tapi manusia di seluruh bumi tak perlu tahu karena pasti akan tidak percaya atau menjadi bias dan fitnah. Saya mendatangi Mercy itu dan mohon maaf kepada pemiliknya, bahwa saya terlanjur datang bersama UBS, sehingga saya juga wajib pulang dengan UBS. Insyallah bisa jumpa lain kesempatan yang ditentukan oleh Allah. Akhirnya saya balik ke Suzuki Colt bak kecil hitam butut, meninggalkan Mercy itu dengan hati haru biru.

Ada ratusan kisah-kisah lain tentang kesetiaan dan ketulusan UBS, yang tak mungkin saya ceritakan satu persatu. Mas Uki juga yang mengantarkan dan menyambungkan saya dengan banyak sahabat-sahabat tulus ikhlas lainnya: Mas Heru Yuwono, Pak Busan, Budi Jiung dll. Diam-diam saya merasakan hatinya Allah Swt kepada Nabi kinasihnya Ibrahim As:

وَٱتَّخَذَ ٱللَّهُ إِبۡرَٰهِيمَ خَلِيلٗا

Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi karib kesayangan-Nya.

Dan tidak perlu diperjelas Ibrahimnya UBS ataukah saya, serta Allahnya saya atau UBS. Yang pasti, dari persahabatan dan persaudaraan berpuluh-puluh tahun itu, Mas Uki tidak mendapatkan apapun dari saya. Sementara, sekali lagi, hutang saya kepada Mas Uki baru mungkin saya bayar dan lunasi kelak di sorga. Itu kalau saya masuk sorga….

Lainnya