Kebon (218 dari 241)

Amtsal Pakde Yomowidura

Dok. Progress

Di banyak Kebon yang lalu tidak sedikit saya kisahkan hal-hal yang menyangkut almarhum Pakde Nuri (Muhammad Zainuri). Tetapi Pakde bukanlah jenis manusia fragmen. Pakde itu karakter yang utuh dan total. Perannya dalam kehidupan saya juga tidak sekadar penggalan-penggalan. Posisi Pakde sangat primer, bahkan default.

Diambilnya oleh Allah Swt Pakde dari saya, Kadipiro, KiaiKanjeng dan Maiyah sering membuat sakau. Ketagihan. Badan jadi pegal-pegal, kemeng, ada sesuatu yang tak terpenuhi. Juga hati dan habitat budaya kami semua. Pakde nilap kami semua menjelang Subuh di sebuah penginapan Sidoarjo. Malam itu KiaiKanjeng pentas di Dolly, komplek pelacuran terbesar se-Asia Tenggara di Surabaya Indonesia. Pukul 11 malam Pakde baru selesai menggilir memijati teman-teman KiaiKanjeng, kemudian memegang tengkuk saya, cengel, pundak, kepala dan seluruhnya. Dalam seminggu bisa 2-3 kali merasa sakau atau ketagihan. Lama-lama mengecil atau melambat. Sebulan sekali sakau, sampai akhirnya sekarang mau tidak mau harus legowo merelakan tidak ada lagi Pakde Nuri.

Tapi memang hanya Pakde Nuri yang jari-jarinya sekokoh itu. Kalau sudah menyentuh dan menekan badan saya, tak ada yang bisa menandingi. Tahun-tahun sesudah kepergian beliau, kalau ada tangan yang memijati tubuh saya, tidak terasa apa-apa, karena standarnya sudah terlanjur kekuatan tangan Pakde.

Hampir seluruh proses pergulatan hidup saya sejak akhir 1970-an hingga 2010-an di Yogya terletak di genggaman tangan Pakde Nuri. Terletak di telapak kakinya. Terletak di kemuliaan hatinya. Terletak di ringan kaki dan tangannya. Terletak di kelonggaran waktunya dan kebijaksanaan hidupnya.

Tentu saja kejam kalau yang dikangeni adalah pijatannya Pakde. Sejak awal 1970-an, Pakde adalah sahabat yang selalu sangat menenangkan, meneduhkan, mengayomi, dan melindungi. Ketika Sabrang bayi, saya tinggal di kios kecil Kadipaten K-11, dekat jalan masuk dari perempatan Gerjen ke arah Pasar Ngasem, ndronjong belok kanan. Yang menamai alamat itu adalah saya sendiri. Sebenarnya itu semacam kios yang disewakan untuk jualan kecil-kecilan. Bagian depannya adalah papan-papan memanjang berdiri. Di papan itu saya tulisi hitam besar kata “Bui”.

Ada anak muda dari kampung dalam Kadipaten yang sedang senang-senangnya punya motor. Wang-weng wang-weng terus menerus lewat di depan “Bui”. Knalpotnya dibikin blong, bunyinya sangat keras dan memekakkan telinga. Itu bisa mempengaruhi struktur saraf bayi kami Sabrang. Bersama sahabat dahsyat lainnya Muhammad Dalhar, gali Kauman Pakualamanan, Pakde Nuri bertindak. Menghentikan anak motor itu. Entah apa yang mereka katakan atau ancamkan. Pokoknya setelah itu tidak ada lagi suara bising motor yang memekakkan telinga dan mengancam Sabrang.

Anak motor itu adalah juga anak yang ketika kami di Kadipaten Lor 17 meringkes alias mencuri seluruh pakaian kami, Cak Fuad, Cak Mif, Nas, Adil dan saya sendiri menjelang pagi setelah semalaman Cak Mif menyeterika semua pakaian kami. Khoriqul ‘adah juga Cak Mif pakai neliko-neliko barang seperti orang kaya yang tertib dan rapi. Sehabis Isya sementara Cak Mif menyeterika, saya sarungan pergi ke tempat kos Edy Winarto sahabat saya yang dahsyat juga, yang sampai sekarang masih aktif mendatangi Kenduri Cinta TIM Jakarta. Sebab besoknya kami ujian masuk UGM. Bakda Subuh ketika balik ke Kadipaten, rumah dalam keadaan terbuka, lampu terang benderang, dan semua pakaian sudah lenyap. Saya spontan berlari keluar seperti cowboy The Magnificent Seven hendak menangkap maling, tetapi sesampainya di jalan bingung sendiri mau lari ke arah mana untuk mengejar. Akhirnya belajar ikhlas dan legowo. Saya pergi ke UGM ikut tes dengan meminjam celana panjang Mas Harry, kakaknya Edy, untuk saya.

Dari antara semua sahabat-sahabat di Yogya, Pakde Zainurilah yang paling lama menemani saya. Sejak di Kadipaten Lor 17 sampai ke Patangpuluhan. Pakde apel Sabtu sore ke calon Bude, saya temani. Sampai akhirnya Pakde dan Bude juga tinggal di Patangpuluhan, berbagi kamar dengan saya, Rani, putri beliau, juga lahir di Patangpuluhan, dan aktif Maiyahan di Mocopat Syafaat sampai sebelum Pandemi.

Pakde adalah manusia dengan kepribadian yang luar biasa. Kokoh mentalnya, teguh iman dan ibadahnya, setia dalam sesrawungan, dan tidak tergantikan dalam sangat banyak hal. Pakde duluan punya motor dibanding saya. Kalau saya jalan kaki ke Jl Mangkubumi ambil honor tulisan di kantor administrasi “Kedaulatan Rakyat”, entah siapa yang ngasih tahu tiba-tiba saja ada motor Pakde minggir ke arah saya, kemudian mengangkut saya ke Patangpuluhan. Demikian juga dalam banyak peristiwa lain motor Pakde mak bedunduk ngampiri saya. Ketika sahabat Simon Hate membaca puisi di Taman Hiburan Rakyat, outdoor di halaman depan, lantas tiba-tiba turun hujan, entah dari mana datangnya Pakde maju ke tempat Simon membawa payung dan memayungi Simon yang meneruskan baca puisi.

Pakde Nuri membuka rumahnya di Jl Pugeran untuk diskusi Minggu Pagi Persada Studi Klub Umbu Landu Paranggi Malioboro. Padahal Pakde bukan sastrawan atau penyair. Pakde mengakomodasi banyak acara-acara sastra. Bahkan Pakde lebih rajin menghadiri acara-acara sastra yang saya sendiri belum tentu hadir. Pakde tampaknya mengenal semua teman-teman sastrawan saya melebihi saya sendiri. Pakde itu manusia pergerakan. Ketika SD kelas V ia kurir bawa surat atau lembar informasi ketika Indonesia ribut dengan PKI sekitar 1965. Yogya terkenal dengan kiprah Kopassus atau RPKAD waktu itu namanya, mensupport KAMI-KAPPI. Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia dan Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia. Pakde adalah bagian intelijen blusak-blusuk untuk menyampaikan hal-hal yang saling diperlukan. Pada suatu hari ia ditangkap oleh pasukan militer PKI, dipukuli sampai giginya rampal semua. Ketika saya kenal Pakde, dia sudah tidak punya gigi satu pun, atas maupun bawah, meskipun tidak kentara sama sekali kalau dipandang sekilas.

Pakde menjadi manusia mulia bukan sekadar karena kebaikan hatinya. Tapi juga karena pengalaman penderitaannya. Ada manusia mulia dengan modal kemuliaan alamiah batinnya. Pakde mulia dengan kadar yang dipompa dan dipermatang oleh pengalaman dan deritanya. Saya kenal semua saudara-saudaranya Pakde. Dari Mas Wazir Nuri senior redaktur saya di “Masa Kini”. Hingga kakaknya yang lain yang nyopir angkot di Purwokerto, saat istirahat siang di-gejroh wajahnya dengan linggis oleh istrinya sendiri, karena suatu problem psikis. Pakde Nuri mengevakuasinya sampai ke RS Sardjito. Saya menemaninya sampai wafat dan menguburkannya.

Saya anak langgaran Menturo, Jombang, Jawa Timur. Secara kebudayaan tahunya hanya Ludruk dan Gambus Misri. Tetapi tidak mungkin saya bersentuhan dengan Wayang, puncak kearifan dan filosofi peradaban Jawa, kalau tidak karena Pakde Nuri rajin mewacanakan Wayang dalam obrolan-obrolan kami. Bahkan rajin menjemput saya untuk langsung nonton pergelaran Wayang, dengan dalang Ki Hadisugito, Ki Timbul sampai Ki Mantep Sudarsono.

Pakde Nuri sendiri adalah Yomowidura, sesepuh Kurawa yang bersikap adil dan bijaksana dalam urusan konflik dan persaingan antara Keluarga Pandawa dengan Kurawa. Sampai-sampai untuk sejumlah tulisan saya memakai “Yamawidura” sebagai nama samaran saya, di samping “Joko Umbaran” dan beberapa nama lagi.

Pakde Nuri menyelamatkan saya dari keterperosokan pada kebodohan sebagaimana yang terjadi pada suatu golongan di antara Kaum Muslimin. Keluasan Islam diukur berdasarkan kesempitan pikiran dan wawasannya sendiri. Di dalam urusan ilmu, pengetahuan, kebudayaan dan peradaban, sebagian di antara Kaum Muslimin ada yang menganggap bahwa Islam dan kehidupan hanyalah sebatas yang ia ketahui dengan kesempitan dan kedangkalannya. Mereka marah bahkan mengkafirkan, memusyrikkan atau minimal mem-bid’ah-kan warna merah, biru atau hijau. Hanya karena mereka buta warna sehingga meyakini bahwa Islam hanyalah, hitam, putih, dan kelabu, sesuai dengan batas penglihatan buta warna matanya.

Selama beberapa abad belakangan terdapat semacam kesalahan ilmu, kekhilafan cara pandang atau ketidaktepatan pengetahuan, yang menyebabkan Dunia Wayang mengalami kesulitan dalam mentransformasikan diri dan eksistensinya ke dalam perikehidupan Indonesia modern. Juga terjadi kebodohan, kedunguan dan kesempitan berpikir yang tidak kalah parahnya, entah bagaimana, sehingga akhirnya “Dunia Wayang” dibedakan, dipisahkan dan bahkan dibuang dari atau oleh “Dunia Islam”. Pakde diperjalankan oleh Allah untuk menghindarkan saya dari kebodohan itu.

Di era pasca Malioboro ada tokoh panutan dalam hal pengetahuan Wayang bernama Prof. Dr. Umar Kayam. Pakde yang membimbing saya untuk tidak hanya bisa lancar mengobrol dengan Pak Kayam soal Wayang, tapi juga memperluas pandangan, analisis, perangkaian dan ijtihad tentang segala liku-liku kisah tokoh-tokoh Wayang. Tidak berhenti pada close-up karakter Puntadewa hingga Durmogati, dari Kresna hingga Aswatama, bahkan dari Anoman hingga Semar Bodronoyo.

Tetapi menemukan rangkaian-rangkaian konteks di antara karakter-karakter, meniti kearifan di balik peristiwa dan lakon-lakon, yang secara keseluruhan bahkan saya coba pahami inter-relasinya dengan peta konsep dari wacana-wacana Islam.

وَلَوۡ شِئۡنَالَرَفَعۡنَٰهُ بِهَا وَلَٰكِنَّهُۥٓ أَخۡلَدَ إِلَى ٱلۡأَرۡضِ
وَٱتَّبَعَ هَوَىٰهُۚ فَمَثَلُهُۥ كَمَثَلِ ٱلۡكَلۡبِ إِن تَحۡمِلۡ عَلَيۡهِ يَلۡهَثۡ أَوۡ تَتۡرُكۡهُ يَلۡهَثۚ ذ
لِكَ مَثَلُ ٱلۡقَوۡمِ ٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ بِ‍َٔايَٰتِنَاۚ
فَٱقۡصُصِ ٱلۡقَصَصَ لَعَلَّهُمۡ يَتَفَكَّرُونَ

Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan derajatnya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya juga. Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah kepada mereka kisah-kisah agar mereka berfikir.

Memang sih para penafsir dan penggiat Islam tidak pernah mengeksplorasi bahwa kosakata Allah “matsal” atau jamaknya “amtsal”, yang salah satu kemungkinannya berwujud “qishshah” yang jamaknya “qashash”, dikalau dimuaikan secara konteks dan nuansa, akan bisa sampai pada karya sastra, cerita pendek, novel, kisah pewayangan, bahkan juga puisi. Sehingga Ummat Islam terpenjara di dalam eksklusivisme pemahaman fiqhiyah yang diasosiasikan seolah-olah mewakili keseluruhan nilai-nilai Islam. Sangat jauh orang Islam dari kemungkinan mengasosiasikan Al-Qur`an dengan kisah Wayang. Karena masing-masing dari keduanya diperlakukan sebagai “materi”, bukan sebagai semesta ilmu.

Lainnya