Tadabbur Teman-Teman Kita Untuk Quiz Ular Mbah Nun (4)

Ahmad Supandi

Bismillahirrahmanirrohim.

Sesuai dengan himbauan tadabbur Al-Qur’an surat Toha ayat ke 20.
Saya memilih membaca dari ayat pertama surat Toha dampai ayat ke 20.

Ayat pertama sampai ayat ke 9, saya mentadabburinya:

To ha: simbol yg bisa dimengerti orang Arab pada saat Rosulullah masih hidup, atau sebuah isyarat terjadinya sesuatu sebelum ayat tersebut diturunkan pada Rosulullah, dan semua orang yg mendengar ayat itu paham arti  to ha itu apa, bagaimana.

Ayat 2-8: Peneguhan hati kita yg pada saat ini diberikan kesusahan dengan media peringatan. Ingat bahwa Allahlah sang maha pencipta, maha pengasih, maha ilah, maha detail atas yg terdengar oleh diri atau yg belum terpikirkan, atau yg disembunyikan sekalipun dan nama2 terbaik yg meliputi seluruh alam semesta.

Ayat 8-10: Idiom yg ditunjukan Allah pada Nabi musa adalah api. Kenapa tidak cahaya?

Kemungkinan persepsi manusia yg cahaya yg hanya bisa dihasilkan oleh api padahal yg hanya bisa kita lihat apinya cahayanya tidak pernah kita bisa melihatnya…

Ayat 11-16: Tinggalkan hasrat keduniawian: kekuasaan,materialistik, kekayaan, martabat dll supaya kita berada bersama2 berada di lembah kesucian. Percayalah bahwa semua yg dianggap baik oleh manusia saat ini akan ada akhirnya sebagaimana berakhirnya yg dianggap buruk pula. Kemudian satu2nya yg hanya akan abadi adalah kebaikan dan kebenaran Allah Swt. Semoga kita terpelihara dari hasrat yg kita anggap baik tapi buruk menurut Allah, dan semoga kita selalu tegak mendirikan kebaikan dan kebenaran Allah meskipun saat ini kita merasakan belum baik bagi kita.

Ayat 17-20: Idiom tongkat merupakan pegangan untuk bertumpu manusia supaya tidak mudah jatuh. Mungkin bisa diartikan saat ini dunia punya tumpuan yg mereka anggap kebenaran sebagaimana tukang2 sihir Fir’aun kemudian mereka menjadikannya ular/wabah yg siap menerkam semua manusia di dunia. Tetapi janganlah kita ragu bahwa tumpuan/tongkat atau kebenaran Allah Swt lewat tongkat Musa As akan lebih besar dan akan memakan ular2/atau wabah2 /tukang2 sihir itu dan mereka semua akan ditenggelamkan di lautan sebagaimana Fir’aun dan pasukannya.

Sungguh hanya dialah Allah yg maha tahu hakikat kebenarannya.
Alhamdulillahi robbil alamin.

Terima kasih.


Bahru Ilmawan, Pekanbaru

Tadabbur atas QS 20:20

  1. Ayat 20: Sebagaimana diwedar andaikan yg bergerak cepat adalah virus Covid.
  2. Ayat 21: Peganglah ia. Kami mentadabburi bahwa kita memang harus tinggal bersama virus. Bahwa mungkin solusinya adalah memang virus tinggal dalam tubuh kita, sehingga memacu imunitas tubuh keluar sehingga menjadi pribadi yang jauh lebih sehat dan kuat dari sebelumnya.Kami akan mengembalikan dalam keadaan semula. Hanya tuhanlah yang punya kuasa, punya daya untuk melemahkan dan melenyapkan virus dan mengembalikan mungkin tatanan sosial, fitrah manusia kembali kepada awal seharusnya bagaimana dan untuk apa manusia diciptakan. Baik sebagai manusia sebagai makhluk, sebagai insan sosial, sebagai komunal. Agar manusia kembali tersadar.
  3. Kepitlah tanganmu ke ketiakmu. Menarik bahwa ketiak ini mempunyai dua hal ciri dasar : bau dan hangat. Kami mentadabburi bahwa virus akan lemah karena kehangatan dan sumber utamanya adalah sinar matahari. Inline dengan penyampaian seorang prof dr USA bahwa kematian akibat covid kebanyakan adalah kekurangan vitamin D.Niscaya keluar menjadi putih bercahya. Di sini kami mentadabburi bahwa mari kita sering berjemur bermandikan sinar matahari untuk melawan virus cov2. Dan apabila kita selamat insyaalloh kita akan menjadi insan yang lebih baik, lebih sehat dan lebih kuat dari sebelumnya

Bahru Ilmawan
JM Pekanbaru


Umar Fauzi Ballah, Sampang

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh…

Mbah Nun dan para marja’ Maiyah, menjawab esai Mbah Nun sebagaimana tertulis dalam esai berjudul “Quiz Ular”, semalam, 5 Nov 2020 sekitar pukul 00.00 saya tahajud di Rumah Sakit sengaja membaca Al-Qur’an sebagaimana saya pelajari dari saran Mbah Nun. Tujuan mulanya memohon petunjuk karena siang ini istri saya akan dioperasi. Insyaallah ingin minta nama juga ke Mbah Nun.

Saya baru saja membaca esai Mbah Nun tersebut di atas. Semalam membuka Al-Qur’an tanpa pembukaan seperti dimaksud Mbah Nun walaupun istighfar 9x dan shalawat sudah saya amalkan. Saya bertemu surat Yusuf: 15-30. Saya menggarisbawahi ayat ini:

Mereka datang membawa baju gamisnya (yang berlumuran) dengan darah palsu. Ya’qub berkata: “Sebenarnya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu; maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan” (Yusuf:18)

Saya merasa dapat nasihat dengan ayat tersebut bahwa selama ini saya telah melakukan kekeliruan menganggap baik perbuatan buruk. Namun, setelah saya renungi dalam skala Indonesia, sepertinya kita sedang memasuki kepalsuan. Lalu, tersebarlah cerita palsu. Namun, kekasih-kekasih Allah tidak terpedaya. Mereka bersabar atas nama Allah dan memohon pertolongan-Nya.

Demikian sekelumit pandangan saya. Terima kasih.

Umar Fauzi Ballah
(Pegiat Damar Atè. Turut membidani berdirinya Maiyah Sampang, Jhembhâr Atè. Tinggal di Sampang)


Sony Andika, Tulungagung

Apakah mungkin Covid-19 lahir tanpa sebab. Dan mustahil kalau Nabi Musa mengawali melemparkan tongkat yang sedang ia pegang sebelum para penyihir sewaan Fir’aun memulai melempar, kalau menurut informasi dari Allah yang saya pahami. Jadi, kalau covid-19 itu keberangkatannya adalah hukum akibat dari suatu sebab, lantas tongkat siapakah yang sedang menjelma sebagai ular raksasa yang sedang kita saksikan bersama-sama ini? Bukankah covid-19 ini jumlahnya hanya satu, tetapi rahangya sangat-sangat lebar bak ular raksasa yang siap menelan apa dan siapa saja di muka bumi atas kehendak-Nya.

Kalau merujuk dari fakta sejarah, siapakah yang melempar tongkat sihir global selama ini, hingga nagkring parkir di beranda rumah khatulistiwa bahkan sowan ke kampung-kampung, desa-desa dan gang-gang sempit di depan rumah saya. Sampai-sampai loro gatel. Lha, ndilalah kerasane ngallah, kok sampai sekarang yang menduduki rangking pertama keterpaparan covid-19 adalah Amerika Serikat dengan jumlah 9.801.355 kasus. Yang dulu ledakan utamanya adalah Wuhan, Cina. Ada apa dengan mereka? Apakah itu kebetulan, ya?

Oleh sebab itu, saya sendiri tampaknya agak sukar membayangkan kalau tongkat yang menjelma sebagai ular raksasa yang bernama covid-19 itu bukan dari tongkatnya Nabi Musa. Yang sedang menelan ular-ular kecil dari para tukang sihir sewaan Fir’aun yang adigang adigung adiguna terhadap nilai-nilai.

Meskipun “Musa-Musa” ketakutan pengen lari sipat kuping atas peristiwa itu, lalu Dia menegaskan dalam firmannya: “Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula”.

“dan kepitkanlah tanganmu ke ketiakmu, niscaya ia ke luar menjadi putih cemerlang tanpa cacad, sebagai mukjizat yang lain (pula)”.

Pengalaman dan tadabbur saya mengepitkan dua tangan ke ketiak merupakan sikap gerak semedi atau semacam i’tikaf. Dengan i’tikaf orang akan tenteram, mengingat yang harus diingat, bahkan akan memperoleh tetesan hikmah dan ilmu yang sangat luar biasa.

Menurut saya keadaan yang sedang kita alami ini merupakan momentum untuk melahirkan kebangkitan kreativitas baru dari gua sunyi. Sebab, ketika mata terbuka dari i’tikaf, yang biasanya dilihat pertama adalah bukan permukaan luar tangan yang warnanya coklat, melainkan permukaan yang putih. Tanda bahwa harus ada yang dikerjakan untuk tonggak perubahan baik yang sifatnya genggaman ataupun memainkan jari-jari.

Sony Andika
Bandung, Kabupaten Tulungagung


Faisal Abda’u, Indramayu

Sebelumnya ngapunten refleksi pemahaman pada opsi A, menurut tadabbur saya adalah ular-ular yang dimaksud pada konteks Covid-19 ini yakni ular-ular disinformasi atau hoaks atau berita palsu yang di besar-besarkan oleh gerombolan Penyihir sewaan Fir’aun.

Kalau pada opsi B, yakni menurut tadabbur saya pada surat Thaha sebagaimana ayat 20 bahwasannya ular yang menjelma dari tongkat Nabi Musa adalah ular informasi sejati mengenai Covid ini, yang tabir misterinya sedikit demi sedikit mulai terbuka.

Dalam era perang informasi ini, antara keyakinan Covid yang A atau B atau C tak pernah dirumuskan dan dimusyawarahkan menjadi keyakinan bersama untuk segera dapat menuntaskan perang informasi Covid ini. Maka gerombolan Penyihir sewaan Fir’aun memanfaatkannya dan menjadikan orang-orang terpuruk akibat informasi Covid yang di sebarkan gerombolan Penyihir.

Kalau solusi terakhirnya memang mengarah ke herd immunity baik lewat sistem imun maupun anti virus yang baru saja selesai dibuat. Mengapa tidak sejak dulu diputuskan dengan tegas, bukankah dengan cara itu setidaknya kita sudah menang dalam hal informasi sebagaimana negara Taiwan?

Dan tidak kejadian orang putus asa/hopeless karena informasi (berita), karena zona daerahnya merah, atau orang lagi demam tiba-tiba dituduh Covid, orang pakai masker kain langsung dituduh tidak steril harus SNI, orang yang biasa berjualan di pinggir jalan tiba-tiba di tuduh pembawa Covid, imam masjid di desa pun dituduh pembawa Covid, bahkan kakek nenek yang tidak tahu-menahu berita pun dituduh Covid karena sering batuk-batuk dst.

Yang kedua Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula. Di sini Allah mencoba meyakinkan kalau kita bersama dengan-Nya maka janganlah takut, keadaan sesulit apapun pasti akan berubah ke keadaan normal kembali.

Yang ketiga dan kepitkanlah tanganmu ke ketiakmu, niscaya ia ke luar menjadi putih cemerlang tanpa cacat, sebagai mukjizat yang lain (pula). Allah seolah memberitahukan dalam ayat ini bahwa dalam keadaan sesusah apapun jangan mengeluh, harus tegak dan jangan berputus asa dan menyerah. Seburuk-buruknya keadaan selalu ada hikmah dikandungnya, buah manis di hadapan kita.

Ya itu lah hidup, hidup bukan soal senang-senangnya saja, travel ke berbagai objek wisata menarik, menikmati Spa di Bali, berfoto di depan menara Eiffel, naik jabatan, dapat rumah di kelapa gading, punya mobil sport keluaran terbaru, berpenghasilan besar, anak-anak lancar sekolah, istri makin molek dan hidup bak di Kayangan. Tuhan seperti memberi teguran ke kita bahwa keadaan susah pun merupakan bagian dari hidup dan itu harus dinikmati dan disyukuri.

Faisal Abda’u
Indramayu


Moh Abdul Rohman

(B) adalah ular yang menjelma dari tongkat Nabi Musa. Saya rasa Allah berkenan atas covid 19 yg saat ini mewabah di seluruh dunia. Covid ini menyebar (merayap) dgn cepat sampai2 orang yang paling pinter di dunia, pemimpin yg cerdas, akademisi dll tergagap-gagap dan tidak dapat berfikir bahkan mungkin tidak membayangkan begitu dahsyatnya covid ini, dan bingung berbuat apa atau bagaimana mengambil kebijakan untuk mengatasi covid ini. Bahkan sampai saat ini ilmu model apapun yang dimiliki oleh manusia belum bisa membuat vaksin atau penawar dari (“bisa” ular covid 19) ini.

Apa menurut Jamaah maksud  Allah: “Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula”.

Kata “peganglah” Saya rasa di saat ini hampir seluruh manusia sudah kehilangan “pegangan”, atau salah “berpegangan” pada hal-hal yg tanpa dia sadari menomorduakan Allah (baik itu teknologi, kepintaran, kebebasan dst).

Kenapa kok “Kami” akan mengembalikannya kepada keadaannya semula. Kok Tuhan tidak ngendikan/dawuh “Aku” akan mengembalikannya kepada keadaannya semula?”

Menurut saya “kami” itu adalah kita manusia yang harus mengembalikannya kepada keadaannya semula menata, menyusun urutan-urutan dalam hidup kita bahwa kita berpegangan kepada Allah menjadi no 1 dalam tujuan kita mampir di dunia ini.

“Dan kepitkanlah tanganmu ke ketiakmu, niscaya ia ke luar menjadi putih cemerlang tanpa cacat, sebagai mukjizat yang lain (pula)”.

Kenapa Allah memberi perumpamaan “ketiak” saya berfikir bahwa ketiak adalah bagian tubuh dari manusia yg mengeluarkan “bau” tidak sedap. Baik itu ulama, kyai, presiden, raja tidak ada yang bisa menghindar dari baunya ketiak mereka. Makanya manusia menciptakan “deodoran” untuk menutupi bau tersebut.

Menurut saya harusnya manusia mestinya rumongso kalau ketiaknya itu “bau” jadi gak gumede, gak sombong, takabur, sok suci, sok alim, kalau sudah bisa rumongso “niscaya ia keluar menjadi putih cemerlang/bercahaya tanpa cacat nanti di hadapan Allah Swt”, ketiak juga saya artikan sebagai mukjizat yang lain untuk setiap manusia.

Sepurone Mbah Nun itu hasil tadabbur kulo, kalau ada kata-kata yg kurang berkenan mohon maaf Mbah nun. Buat mas mbak redaksi boleh diringkas dipotong diedit Monggo silahkan.


Eryani Widyastuti

Assalamu’alaikum wr. wb.

Dalam setiap zaman, fragmen-fragmen dalam Al Quran selalu terulang dalam bentuk yang berbeda-beda, termasuk kisah Nabi Musa. Ada fir’aun-fir’aun dan Musa-Musa di setiap zaman. Penguasa yang “menuhankan” dirinya dan orang-orang yang mencoba “melawan” dengan segala keterbatasannya dengan disertai rasa takut/kekhawatiran dalam hati. Tak terkecuali pada zaman ini, firaun dan Musa pun lahir kembali.

Demikian refleksi saya tentang kisah Nabi Musa dan tongkat ularnya:

  1. Ular-ular para penyihir adalah sistem-sistem ciptaan manusia, seperti kapitalisme, sosialisme, dll. Mereka seolah-olah ada hingga menakuti manusia, padahal sesungguhnya mereka hanyalah sihir/permainan ilusi segelintir orang untuk meluluskan kepentingannya.Begitu tongkat Nabi Musa menjelma menjadi ular besar, ia melahap semua ilusi sistem tersebut. Semenjak kedatangan Covid-19, kita saksikan bahwa tatanan dunia berubah dalam sekejap. Banyak perusahaan yang sebelumnya menangguk untung besar kelimpungan/merosot drastis labanya. Yang lebih punya kans bertahan pada zaman ini adalah kemandirian dan usaha-usaha skala kecil.Setelah ular-ular ilusi penyihir lenyap dimakan ular Covid-19, dan terjadi lockdown dengan skala berbeda-beda, kita semua ditunjukkan tentang hal-hal esensial yang selama ini terlupakan: keluarga, tetangga, dan keseimbangan hidup. Kita tidak punya pilihan selain membangun kebahagiaan dalam keluarga kita dan tidak mencarinya di luar.Pendidikan paling esensial ternyata bukan sekolah, tetapi pendidikan keluarga. Bekerja di kantor apalagi hingga malam ternyata bukan saru-satunya model mencari nafkah. WHF bisa menjadi alternatif. Tetangga terdekat adalah orang luar yang ternyata paling kita butuhkan dalam situasi genting.

    Terbatasnya pemasukan mengajari kita bahwa daya produksi ternyata jauh lebih menghidupi kita daripada daya konsumsi. Kemandirian pangan di lingkup keluarga menjadi kunci. Keterampilan bersosialisi dengan diri sendiri (dan keluarga) ternyata adalah titik tekan yang lebih utama daripada keterampilan bersosialisasi dengan orang lain.

    Kesehatan, bukan uang, ternyata adalah modal yang terpenting untuk melanjutkan hidup. Mencari keuntungan perdagangan ternyata tak perlu rakus-rakus. Ambil keuntungan secukupnya, yang terpenting pasar harus senantiasa seimbang agar perdagangan bisa terus berjalan. Begitu daya beli anjlok, toh, ekonomi juga akan terhenti, yang berarti bisa mematikan para kapitalis.

    Hal terpenting, kita jadi sadar bahwa tak ada lagi yang bisa diandalkan selain pertolongan Allah pada masa-masa ini. Karena meskipun sudah hidup sesuai protokol kesehatan, faktanya, kita masih bisa terkena Covid-19.

  2. Peganglah dan jangan takut, artinya kita harus meneguhkan hati, tatag untuk hidup bersama Covid-19 dengan segala risikonya yang simpang siur itu. Karena dengan jalan tersebut, pelan-pelan, dunia akan dibimbing Allah untuk mencari keseimbangan baru lagi.
  3. Kepitkan tangan di ketiak saya refleksikan sebagai tindakan untuk menahan perbuatan/mempuasai dengan lebih ketat daripada yang biasa kita lakukan. Misalnya, jika kita berdagang, ambillah untung, tetapi jangan dimaksimalkan. Sisihkan laba tersebut agar bisa dinikmati orang lain yang menjualkan kembali barang kita.
    Pembeli juga lebih mungkin mendapatkan harga yang lebih terjangkau. Pada akhirnya, laba tersebut tidak kita makan sendiri, tetapi dimakan bersama-sama. Sithik edheng, kata orang Jawa. Bisa juga, kita melakukan sesuatu yang tidak populer, tidak menghasilkan secara ekonomi, dan mungkin dipandang rendah oleh orang lain (di ketiak). Tetapi sesungguhnya perbuatan itu besar manfaatnya di masa mendatang dan orang tidak menyadari hal tersebut. Itulah tirakat kita.Pada saatnya, ketika Allah menghendaki dunia menyaksikan perbuatan kita yang tersembunyi tersebut, dunia akan menyadari manfaat dari hal yang sudah kita lakukan untuk mereka. Insya Allah, melalui tirakat mengepitkan tangan tersebut, berkah, ampunan, dan kasih sayang Allah menyertai kita semua.

Amin ya Rabbal ‘alamin.
Matur nuwun.

Lainnya

Pengertian Asbabun Nuzul

Tidak Boleh Melaknat

Kebijaksanaan dalam Berbahasa

Hikmah Persepsi dan Penafsiran

Asbâbun Nuzûl

Buku dan Merchandise