Syaikh Kamba dan Tafsir Agama Out of Mainstream-nya

Milad ke-8 Maneges Qudroh Magelang, 5 Februari 2019.

Solusi Jitu Problem Intoleransi

Sejumlah kaum intelektual pro-toleransi hendak mengatasi masalah intoleransi dari hilirnya saja, dengan berupaya memberi penafsiran-penafsiran baru terhadap sejumlah ajaran-ajaran agama. Padahal, masalahnya ada di hulu, dalam hal ini pandangan ketuhanan yang eksklusif melahirkan tafsir, sikap, dan perilaku eksklusif pula. Masalah intoleransi tidak akan pernah selesai sebelum adanya perubahan pandangan ketuhanan yang benar-benar inklusif. Tuhan bukan untuk kelompok atau golongan A maupun golongan B, melainkan Tuhan bagi semua, terserah masing-masing memanggil dan menamakan-Nya. Nama bukan sesuatu yang esensial pada Tuhan. Dia sudah ada sebelum adanya nama. Nama hanya sebatas cara manusia berkomunikasi dan mengomunikasikan pandangannya, tidak merepresentasikan esensi-Nya.

Ironis, memang, bahwa orang-orang getol bicara tentang toleransi dan inklusivisme, tapi di hilirnya saja. Padahal, masalahnya ada di hulu. Masalahnya pada pandangan tentang Tuhan yang eksklusif. Dalam pengertian agama sebagai situasi keilahian yang menuntun kepada kebaikan, setiap orang melakukan kebaikan: Entah menyumbangkan hartanya, entah menemukan teori-teori ilmiah yang bermanfaat bagi kehidupan orang banyak, entah kebaikan apa saja, semua itu bernilai di sisi Tuhan dan pasti Tuhan mengapresiasinya.

Tapi, orang-orang dengan konsep teologi masing-masing justru cenderung mempertanyakan, bahkan mengingkari legitimasinya, lantaran tidak berkesesuaian dengan pandangannya yang eksklusif. Mereka lupa bahwa kebaikan adalah nilai universal yang bisa lahir di mana saja, kapan saja, dan oleh siapa saja, tanpa tergantung kepada identitas keagamaan formal. Seperti halnya udara yang kita hirup, tidak pernah kita perdebatkan siapakah yang paling benar menghirup udaranya. Atau udara hanya bisa terhirup benar jika melalui kelompok tertentu, atau menurut pandangan tertentu.

Narasi keagamaan yang menumpuk sedemikian banyaknya, manakala diteliti lebih saksama, justru lebih merepresentasikan kecenderungan para pemangku otoritas keagamaan ketimbang murni ucapan-ucapan utusan Tuhan. Boleh jadi faktor inilah yang membuat jarak antara realitas kehidupan pada masa kenabian dengan pasca-kenabian — atau antara idealisme ajaran agama dengan realitas umat beragama — jadi begitu jauh. Kala agama mengajarkan inklusivisme dan toleransi tinggi, rahmatan lil alamin sebagai kasih sayang bagi segenap alam semesta, umat beragama malah mempropagandakan eksklusivisme dan klaim kebenaran sepihak — sambil menegasikan golongan lain. Akibatnya, sungguh ironis, ceramah-ceramah agama saat mendengungkan pentingnya toleransi tetap membawa prinsip kebenaran sepihak: Bahwa, “kebaikan hanya diakui atau legitimated jika dilakukan oleh kita, atau kelompok kita”.

Kelompok-kelompok keagamaan tidak akan mampu membebaskan diri dari eksklusivisme, sepanjang masih menganut konsep-konsep teologi yang tidak memandang Tuhan sebagai Sang Mutlak dalam kemutlakan-Nya, tempat seluruh kita berpaling dan berpulang atau mulih ka jati mulang ka asal kalau menurut agama Sunda Wiwitan. Tuhan adalah Kebaikan Absolut, maka bertuhan adalah berlaku baik. Kebaikan bisa lahir dari apa saja, oleh siapa saja, kapan saja, dan di mana saja. Ini tidak bisa mengacu kepada konsep teologi, tapi merupakan output hati nurani.

Agama bisa ada tanpa ada yang ngomongin agama. Pemuda menyeberangkan nenek-nenek tanpa perlu ada yang ngomong bahwa itu agama. Kalau ada yang tanya, pemuda menyeberangkan nenek-nenek itu peristiwa apa, bisa dijawab itu peristiwa kehidupan. Tapi, kalau Ronaldo sedang bertanding dengan Messi, orang bertanya itu peristiwa apa, jawabnya adalah peristiwa sepakbola. Sepakbola tetap harus diomongkan. Hati nurani umat beragama akan hidup dan efektif saat berhenti bicara tentang agama.

“Padahal, segala sesuatu, jika sudah jelas dan dimengerti maksudnya, maka tidak perlu banyak dibicarakan lagi,” demikian pesan Mawlana Rumi dalam cerita tentang seorang raja Turki yang tidak bisa berbahasa Arab maupun Persia, tapi tetap khidmat mendengarkan pembacaan puisi dalam bahasa Arab yang dibuat serta dibacakan oleh penyair Arab. Sampai-sampai dewan menteri curiga, jangan-jangan Sang Raja menyembunyikan keahlian bahasa Arabnya. Raja hanya pura-pura tidak mengerti bahasa Arab selama ini. “Maka, celakalah kita yang pernah ngomongin jelek dalam bahasa Arab,” gumam mereka.

Supaya dewan menteri yakin apakah betul raja bisa bahasa Arab atau tidak, mereka menyogok pengawal terdekatnya untuk mendapatkan informasi yang benar-benar bisa dipercaya. Suatu hari, ketika Sang Raja sedang dalam suasana sangat senang karena sukses besar dalam perburuannya, pengawal menanyakan secara langsung, apakah paduka mengerti bahasa Arab sebagaimana yang terlihat saat mendengarkan pembacaan puisi? Sang Raja tertawa lebar dan mengatakan: “Tidak, aku tidak mengerti bahasa Arab. Tapi aku sudah tahu dan mengerti maksud sang penyair menuliskan dan membacakan puisi sebagai pujian kepada kerajaan,” tegasnya.

Doa

Ketulusan sesungguhnya tidak dibentuk berdasarkan restu terhadap kenyataan yang dihadapi, tapi melalui kepasrahan. Namun, kepasrahan bukan berarti menyerah begitu saja pada keadaan. Pasrah adalah upaya dan usaha maksimal, serta kerja keras, yang membuat Tuhan merasa berat untuk tidak mengabulkan atau tidak menganugerahkan restu- Nya.

Inilah esensi doa sesungguhnya; bertemunya harapan yang dibarengi usaha maksimal dengan restu Tuhan — yang tak kuasa menahan diri untuk tidak merestui lantaran kerja keras sang hamba. Doa bukanlah daftar keinginan yang dipanjatkan ke hadapan Tuhan setiap saat. Doa yang hanya berupa daftar permintaan tidak akan pernah efektif.  Upaya maksimal dan kerja keras yang memperoleh restu dan ijabah Tuhan, itulah doa yang secara representatif terekspresikan dalam susunan kalimat seperti berikut ini: “Tuhan, aku sadar, aku penuh dosa dan kekurangan, tapi jika bukan kepada-Mu, ke mana lagi aku mengadu”.

Persis seperti makna yang hendak ditanamkan Tuhan dari drama kehidupan Nabi Musa; mulai dari kelahirannya di tengah kebijakan penguasa Fir’aun membunuh semua bayi yang lahir dari bangsa Ibrani, karena khawatir akan ada generasi yang mengancam kekuasaannya.

Tuhan mendidik Musa melalui flashback atas awal hidupnya yang sunggguh malang. Saat baru saja lahir dihanyutkan menggunakan peti ke sungai Nil, sebagai upaya sang ibunda menyelamatkan bayinya. Tiba-tiba peti tidak menenggelamkan Musa ke dasar sungai, tapi terbawa arus, kemudian kandas di depan Istana Fir’aun. Demikianlah. Selanjutnya Musa dikisahkan tumbuh dewasa dalam suasana diskriminatif di istana, untuk menanamkan semacam ‘dendam’ kepada Fir’aun. Hingga kemudian perjuangan dan kemenangannya, serta pertemuannya dengan Tuhan di Bukit Sinai.

Pada akhirnya terlihat, betapa keseluruhan perjalanan hidup Musa telah diskenariokan oleh Tuhan, dari semenjak kelahiran hingga akhir hayatnya. Apa yang terlihat oleh Musa dalam hidupnya adalah “rekayasa” Tuhan semata. Segala sesuatu sudah direncanakan Tuhan. Kita tinggal berusaha keras meraihnya. Karena itu benarlah pernyataan yang mengatakan “setiap kali manusia membuat rencana Tuhan terpingkal-pingkal.”

Yang menarik dari kisah Musa adalah peran Asiyah, istri Fir’aun. Setiap kali Fir’aun hendak membunuh Musa, Asiyah selalu menghalangi dan Fir’aun patuh. Makna peran yang dimainkan Asiyah dalam konteks hidup Musa bahwa setiap jalan untuk menghindari takdir adalah jalan menuju takdir. Dalam salah satu penafsiran simbolik sufisme dikatakan bahwa Fir’aun adalah lambang nafsu amarah, Asiyah adalah lambang hati nurani, dan Musa lambang keilahian. Tuhan mengampuni sang nafsu gara-gara patuh kepada hati nurani.

Makna Syirik

Semua dosa umat manusia akan diampuni kecuali syirik. Syirik bukanlah menyembah pohon, keris, dan mengenakan azimat dan rajah. Syirik adalah menganggap Tuhan tetap menyukaimu meski kau berbuat jahat kepada saudaramu. Tuhan tidak berkenan mengampuni dosa syirik karena urusannya pada orang yang bersangkutan, bukan pada Tuhan. Dia tidak bisa menghapuskan utangmu kepada saudaramu dan berbagai sangkutan lainnya, seperti menyakiti hati saudaramu itu, dan semacamnya. Yang boleh memaafkanmu hanyalah yang bersangkutan sendiri. Allah tidak memperjuangkan hak-hak-Nya sendiri tapi Dia memperjuangkan hak-hak saudaramu itu.

Tapi, kita kemudian membacanya terbalik: Peribadatan bersifat primer dan komitmen akhlak bersifat sekunder. Orang-orang kemudian merasa sah-sah saja korupsi, dan berniat menggunakan hasil korupsinya buat menunaikan haji atau umrah, atau membangun rumah-rumah ibadah serta memberikan bantuan-bantuan sosial. Dia melakukan itu karena menganggap jika peribadatan kepada Tuhan bisa menghapuskan komitmen akhlak.

Para da’i dan ustad sangat bersemangat mengajarkan agar begitu adzan berkumandang seluruh aktivitas apa pun, termasuk pelayanan umum, harus segera dihentikan dan ramai-ramai menunaikan shalat berjamaah. Mereka lupa bahwa dalam rentang waktu 30 menit sampai satu jam yang digunakan untuk shalat tersebut ada sekian banyak urusan saudaramu yang terhalang, atau bahkan dirugikan. Ini termasuk syirik yang tidak diampuni oleh Tuhan, karena engkau beranggapan Tuhan menyukaimu, padahal engkau sedang merugikan saudaramu. Ini seperti anggapan orang-orang Jahiliyah yang merasa tuhan mereka, Lata dan ‘Uzza, meridhai perbuatan mereka dalam menindas orang-orang tak berdaya di Makkah, atau saat mereka melakukan kecurangan-kecurangan dalam perdagangan, dan sebagainya.