Liputan singkat Majelis Ilmu Mocopat Syafaat Agustus 2020

Sinau Minadh Dhulumati Ilan Nur dan Posisi Akal Pikiran

Akal serupa memandang, sementara paradigma laksana kacamata. Masalah paradigma ini yang acap kali membatasi akal

Rombongan berkostum serba putih itu berderet kebelakang. Membentuk dua barisan dengan ujung pemimpin membawa kemenyan. Aromanya begitu menyengat seperti meninggalkan kesan mistis. Baunya semerbak, bahkan sampai Syini Kopi. Mereka berjalan pelan menuju Pendopo Rumah Maiyah Kadipiro. Arak-arakan dari Komunitas Lima Gunung ini mengawali helatan bulanan Mocopat Syafaat yang biasanya digelar tepat tanggal 17.

Mulai bulan ini jadwal perekaman video Mocopat Syafaat ditentukan secara tentatif. Walau titimangsa tayang praktis tanggal 17, namun pengambilan video bisa beberapa hari sebelumnya. Pada masa pageblug seperti sekarang, Maiyahan mesti menyesuaikan protokol yang berlaku. Semata-mata agar rantai penyebaran virus terpotong. Kesehatan tetap hal pertama dan paling utama.

Tema Mocopat Syafaat bulan ini cukup menarik. Membincangkan Jahiliyah di Era Islam dari pelbagai sudut pandang. Selain Cak Nun dan KiaiKanjeng, tema itu direspons kritis antara lain oleh Kiai Muzammil (Memahami Revolusi Kemanusiaan dari Kegelapan Jahiliyah ke Cahaya Islam), Mas Sabrang (Akal sebagai Prima-Algoritma Kemakhlukan), dan Pak Tanto Mendut (Yang Paling Tidak Nalar dalam Kehidupan Manusia Indonesia).

Masa Jahiliyah sering dikategorikan sebagai periode saat penduduk Makkah berada dalam situasi kebodohan (ketidaktahuan). Kiai Muzammil melacak akar kata kerja pertamanya, yakni jahala yang bermakna menjadi (bersikap) bodoh atau tak peduli. Pada gilirannya ia juga berarti sebuah kondisi ketika masyarakat setempat tak mengetahui akan petunjuk dari Yang Maha. 

Untuk merespons subtema yang diberikan kepadanya, Kiai Muzammil memberikan dua hal. Pertama, menarik mencermati redaksi al-Qur’an dalam menggambarkan risalah yang dibawa Nabi Muhammad yakni agar manusia itu berpindah minadh dhulumati ilan nuur.  Yaitu berpindah dari kegelapan-kegelapan menuju satu cahaya. Pada kegelapan, Allah menggunakan bentuk kata jamak (dhulumat adalah jamak dari dhulmatun), sebagai cahaya yang menjadi tujuan digunakan bentuk tunggal (nuur adalah bentuk tunggal dan jamaknya adalah anwar). Menurut Kiai Muzammil, ini adalah isyarat bahwa berbagai-bagai jenis kedhaliman atau kegelapan yang dilakukan manusia dalam banyak hal/bidang nanti diminta ‘hijrah’ ke satu cahaya, yakni agama Allah.

Kemudian untuk menggambarkan kejahiliyahan pada masa pra-Islam, Kiai Muzammil memberikan contoh bagaimana tradisi orang Arab Jahiliyah waktu itu misalnya begitu banyak model atau cara orang waktu itu dalam perkawinan dalam hal ini bagaimana cara menentukan atau mendapatkan suami bagi seorang perempuan. Selain itu, Kiai Muzammil juga menceritakan dialog antara Ja’far bin Abi Thalib dengan Raja Najasy. Waktu itu umat Islam, sebelum hijrah ke Madinah, pernah hijrah ke Habasyah yang merupakan wilayah Nasrani namun memiliki raja, yaitu Raja Najasy, yang terkenal baik. Ke sanalah umat Islam berhijrah untuk mencari perlindungan dari tentangan atau sikap permusuhan dari orang-orang kafir di Mekah. 

Raja Najasy penasaran tentang agamanya Ja’far bin Abi Thalib. Kepada Raja Najasy itu Ja’far menceritakan apa yang terjadi, “Kami adalah kaum yang jahiliyah. Kami menyembah berhala, kami memakan bangkai, kami mengerjakan perbuatan-perbuatan buruk, kami memutus silaturahmi, kami berbuat buruk kepada tetangga, dan orang-orang kuat dari kami menindas orang-orang lemah di antara kami, dan kami terus dalam keadaan seperti itu sampai kemudian Allah mengutus kepada kami seorang Rasul dari kami, yang kami tahu persis nasabnya, kejujurannya, sikap amanahnya, dan sikapnya meninggalkan hal-hal yang tidak baik. Lalu dia mengajak kami kepada Allah, agar kami bertauhid kepada-Nya, dan menyembah kepada-Nya….”

Penuturan Ja’far bin Abi Thalib masih berlanjut dengan menggambarkan bahwa Rasul yang tak lain adalah Muhammad SAW mengajak kaum yang jahiliyah itu untuk melakukan hal-hal baik yang berkebalikan dengan gambaran kejahiliyahan yang dipaparkan Ja’far bin Abi Thalib kepada Raja Najasy tersebut. Kiai Muzammil menyitir dialog tersebut untuk menggambarkan seperti kejahiliyahan pada masa itu. Cak Nun juga sangat terkesan dengan cara Ja’far menggambarkan kejahiliyahan yang dialami kaummnya. Cara penggambaran yang cerdas karena sangat sosiologis antropologis. 

Dengan gambaran kejahiliyahan seperti itu sangat logis bila Kanjeng Nabi lahir dan diutus pertama kali di Makkah. Selain berlaku umum, berkah atas kehadiran Muhammad SAW juga spesifik. Keberadaan Kanjeng Nabi tepat di jantung lokasi kejahiliahan penduduk. Beliau membawa masyarakat Makkah dari zaman kegelapan ke masa terang-benderang.

Kejahiliahan selalu tersirat sebab-musababnya. Ia tak datang natural tapi ditentukan oleh prakondisi sebelumnya. Cak Nun meminta Mas Sabrang untuk mewedarkan lebih lanjut. Bagaimana gerangan duduk perkaranya. Akhirnya mengerucut kepada kategori akal, nalar, dan memori. Nalar bukan semata timbul dari akal, melainkan juga hati.

“Ciri akal adalah alat untuk bisa menembus waktu. Dia bisa ngomong masa lalu dan memprediksi masa depan,” ujarnya. Akal di sini hanya dimiliki oleh manusia. Pertama kali Nabi Adam diturunkan ke bumi langsung oleh Tuhan diajarkan nama atau konsep suatu hal. Memori lalu menyimpannya. Ini tak terjadi pada hewan. Ada perbedaan mencolok di antara keduanya. Mas Sabrang mengistilahkan: manusia berkomunikasi dengan simbol/bahasa, sedangkan hewan dengan sinyal.

“Otak adalah hardware-nya dan akal adalah emergence-nya. Setelah akal baru ada paradigma, setelah itu baru nalar,” jelas Mas Sabrang. Ia mengibaratkan akal serupa memandang, sementara paradigma laksana kacamata. Masalah paradigma ini yang acap kali membatasi akal. Kalau Mas Sabrang membahasakan sebagai “hijab” yang justru memagari keterjalinan dari akal menuju nalar.

Perkara paradigma ini selanjutnya bisa dibagi dua hal. Paradigma sebagai korban dan paradigma sebagai agen. Pertama, seseorang cenderung pasif dan membangun dunianya sebagai korban dan selalu menderita. Kedua, seseorang melihat dunia sebagai kesempatan dan aktif mencari peluang. “Saya bisa apa, mampu bermanfaat di mana. Bukan melihat dirinya sebagai korban.”

Dua paradigma tersebut akan sangat berbeda dalam membangun penalaran manusia. Terkesan paradigma ini seolah-olah sumber masalah, menyempitkan keluwesan dan keluasan akal. Namun, Mas Sabrang berpesan agar paradigma jangan dibuang. Ia harus terus dibuat berdaulat. “Lalu fungsi agama di mana? Fungsi agama adalah membuat pilar perilaku supaya masa depan lebih baik seribuan tahun ke depan. Karena kita tidak mampu selama itu. Kita mampunya lima tahun, sepuluh tahun. Kita tidak mampu melihat 25 tahun ke depan,” tegasnya.

Alur dikusi Mocopat Syafaat kali ini terasa kental nuansa historisnya. Cak Nun berpendapat memang di dalam proses kehidupan ini poros sejarah menjadi keniscayaan. Di situ akal didorong untuk menemukan komprehensi (keutuhan sekaligus kelengkapan).

Tak perlu memulai dari hal umum tapi kejadian kecil sehari-hari. Kendati banyak hal nirnalar di sekitar, sebagaimana paparan tentang kehidupan manusia Indonesia, Presiden Komunitas Lima Gunung, Pak Tanto Mendut (yang tadi malam disebut Ayatullah Tanto oleh Cak Nun), mengajak agar tak perlu ikut-ikutan melakoni seperti itu.

Yang terpenting adalah menemukan kebahagiaan dan mencurahkan manfaat bagi semua orang tanpa kecuali.

Buku dan Merchandise