Adiksi Bermaiyah

Datang ke Jogja menghadiri acara Mocopat Syafaat menjadi nostalgia dan sekaligus kemewahan tersendiri buat saya. Spot Mocopat Syafaat di TKIT Alhamdulillah ini, terakhir kali secara onsite saya sambangi 22 tahun silam.

Foto: Adin (Dok. Progress)

Jangan tanyakan bagaimana rasa kangen yang bergejolak untuk dapat hadir kembali di spot ini.

Coba tanyakan pada mereka yang pernah hadir menyimak dan menyelami rangkaian acara Maiyah, mungkin akan diperoleh substansi jawaban yang sama: Maiyah “bikin kecanduan”.

Dalam acara Mocopat Syafaat malam itu (17 September 2022), salah satu narasumber adalah Mas Ahmad Karim, yang tengah menyelesaikan disertasi S3-nya di Belanda. Malam itu Mas Karim bicara soal dimensi struktural dan fungsional.

Corak Maiyah mungkin cenderung lebih fungsional daripada struktural. Mbah Nun sering menyampaikan bahwa Maiyah tidak memadat, meski setiap kali acara mampu menghimpun massa hingga ribuan atau bahkan mungkin puluhan ribu orang yang loyal, tapi Maiyah tidak pernah bermetamorfosa menjadi ormas apalagi parpol.

Duapuluh dua tahun berlalu, menelisik kesan secara fisik, lokasi Mocopatan menurut saya tidak banyak perubahan. Tidak ada gedung bangunan yang menjulang bertingkat, atau panggung dengan aksesoris yang terkesan mewah di area Mocopat ini. Kecuali ruang yang semakin meluas demi menampung jamaah yang membludak. Perubahan lainnya adalah naungan kanopi yang lebar, mungkin sebagai antisipasi ikhtiar menaungi jamaah bila rahmat hujan suatu ketika turun.

Yang kontras berbeda lainnya adalah eskalasi jamaah yang hadir tumplek-plek meluber hingga ke lorong-lorong, menciptakan panorama barisan manusia duduk “mengular” sejauh mata memandang.

Maiyah teruji bertahan melewati ruang dan waktu selama lebih dari dua dekade. Ibarat organisma, Maiyah bertumbuh dan berkembang melahirkan 63 simpul dalam ataupun luar negeri.

Potret Maiyah mungkin akan lebih mudah bila dilihat secara fungsional. Maiyah menyajikan paket komplit prasmanan nilai-nilai. Ada kebersamaan, peseduluran, diskusi, saling berdialektika, critical thinking, workshop, kontemplasi perenungan, juga ada suasana edutaiment yang menghibur dipenuhi canda tawa menggembirakan. Yang pasti hadir rasa kebahagiaan dalam balutan keindahan setelah mengikuti Maiyahan.

Itulah mengapa di atas tadi saya menyebut ikut acara Maiyah itu berdampak akan membuatmu “adiksi”.

Berapa lama lazimnya di dunia konservatif orang sanggup menonton sebuah acara entertainment seperti konser, bioskop, atau pagelaran pentas drama? Rata-rata 2.5 jam paling lama. Maka tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa Maiyah dalam konteks durasi acara, daya tahan dan kesetiaan audiens menyimak rangkaian acara tidak tertandingi.

Audiens atau jamaah duduk hikmat selama lebih dari 5 jam tanpa ada yang beranjak pulang. Magnet daya tarik apa yang membuat mereka dapat bertahan sedemikian rupa?

Sebutlah Maiyah memberikan healing bagi jiwa yang jenuh, pikiran yang sumpek bahkan anehnya bisa menjadi relaksasi bagi raga yang lelah.

Selepas semalaman nyaris begadang, energimu tidak terkuras atau berkurang untuk melakukan aktivitas di esok paginya.

Maiyah tidak menjanjikan perbendaharaan yang sifatnya “tangible” atau kebendaan. Duapuluh dua tahun silam saat menghadiri Mocopat saya masih mendapati dalam rangkaian acaranya disediakan sajian makanan di atas talam besar.

Kini sajian kuliner itu sudah berganti dengan maraknya ekonomi kerakyatan dengan ditandai ramainya para penjual kopi, penjaja cemilan ringan yang berkeliling di sepanjang acara berlangsung.

Yang tetap istikamah tersaji dalam acara Maiyah adalah sejumlah nilai-nilai yang sublim dan lembut yang mengisi kekosongan rongga dadamu. Maiyah menyetel kembali niat hidupmu dengan meneguhkan khusnudldlan kepada Allah. Mereposisi pikiranmu yang mungkin overthinking. Pendek kata, Maiyah memfasilitasi dirimu untuk bertafakkur dan bertadzakkur dengan penuh kesungguh-sungguhan.

Meminjam banyak istilah dari jamaah sendiri, hadir di Maiyah seperti me-recharge keimanan dan semangat juang hidup.

Meski saya agak beruntung pernah diperjalankan ikut terseret nekat menuliskan buku Cinta, Kesehatan & Munajat Emha Ainun Nadjib, tapi sesungguhnya 22 tahun interaksi saya dengan acara Maiyah bisa dikatakan bagian terbesarnya berlangsung secara online via live streaming atau rekaman YouTube CakNun.com.

Hadir Sabtu malam itu terasa sangat-sangat berkesan dan mengobati rasa rindu saya dengan Maiyah. Ada nuansa-nuansa yang tercecer apabila kita mengikuti acara Maiyah hanya secara daring online saja.

Sangat jauh berbeda atmosfernya ketika berkesempatan mendengarkan suara apalagi dapat menyaksikan langsung wajah mbah Nun dengan segala ekspresi emosinya ketika menyampaikan piweling-piweling-nya. Terasa jero menusuk ketika Mbah Nun mengajak jamaah bermunajat mengemis kemurahan perlindungan Allah dalam tawashshulan. Terasa vibrasi getaran seolah kita tengah berada di universe lain, ketika mendengarkan irama musik gamelan KiaiKanjeng yang musikalitas auranya “magis” dan transendental.

Suatu ketika, bila angin sepoi-sepoi menyapa menyentuh lembut wajah, saya mengimajinasikan spot area Mocopatan ini seperti penuh dikelilingi oleh mahkluk-mahkluk ruhani bersayap yang bershaf-shaf rapi berbaris membumbung hingga ke langit ikut serta mendendangkan shalawat kepada kanjeng Nabi.

Sesi terakhir acara Maiyah yakni tawashshulan, memang ada ucapan salam kepada para malaikat. Dalam keseharian kita menjalani hidup, Allah mengutus malaikat-malikatnya untuk selalu membersamai kita, namun tak pernah hadir dalam ruang kesadaran kita untuk sekadar menyapa mereka.

***

Maiyah itu membius dan membuat rindu. Rindu yang sengaja ditumbuhkan untuk berharap dapat gondhelan pada jubah kanjeng Nabi. Berharap kelak di telaga alkautsar baginda Nabi tersenyum kepada kita semua sembari berkata “mari nikmati kesejukan air telaga abadi ini langsung dari cawukan tanganku”.

Maiyah menanamkan rasa rindu untuk diperjalankan ikut berkontribusi menjajakan cinta dan cahaya kepada lingkaran di sekitar kita.

Maiyah membuat adiksi; kecanduan untuk berpartisipasi menebar kemaslahatan dan ndandani keadaan atas kehidupan ini dengan kemampuan optimal yang masih bisa kita lakukan.

Maiyah itu ruang rindu, jangan sesali bila kamu candu padanya.

Jakarta – Banda Aceh, 20 September 2022