CakNun.com

Mengingat Sejarah Mocopat Syafaat dan Reformasi 1998

Genset sempat over heat di tengah berjalannya shalawatan di sesi awal Mocopat Syafaat. Menyisakan satu lampu kecil berwarna putih yang redup di tengah panggung. Set sound system tentu tak berfungsi. Mas Bekti dan beberapa stage crews gesit mengupayakan semua cara dari berbagai kemungkinan agar setidaknya ada satu dua piranti dapat lekas berfungsi.

Menyiasati keadaan, Mas Imam Fatawi berdiri dari posisi duduknya, memberi aba-aba ke hamparan jamaah untuk melantangkan suara. Jamaah bershalawat lebih lantang dan padu, melebihi situasi normal sebelum insiden genset. Beberapa nomor shalawat diiringi terbangan berlangsung syahdu dalam keremangan hingga nanti satu per satu instrumen elektronik di panggung on kembali.

Ini maiyahan. Berkumpulnya orang-orang yang berbahagia, datang untuk belajar bersama. Tidak sempat terdengar ada senggak kecewa, tidak ada jeda untuk bingung. Baik yang di panggung maupun yang di area latar sama-sama siap dan sigap. Kedewasaan bersikap seperti malam itu bukan sesuatu yang langsung ada. Namun tumbuh setelah ditempa beragam pengalaman.

Hujan lebat, angin kencang, listrik padam — yang tentu “dudu barang anyar” — telah hadir sebagai katalis kolektif di gelaran-gelaran sinau bareng. Berulang kali Mbah Nun memberi contoh langsung. Kala hujan, Mbah Nun pernah turun dari panggung, menggulung celana hingga setengah betis dan berbasahan bersama para jamaah melantunkan shalawat. Sementara para lansia dan anak-anak diteduhkan di panggung.

Tidak sampai 20 menit, mic berfungsi lagi. Lampu dan sound system gamelan masih diotak-atik. Mas Imam memanggil para pemandu diskusi dari LKMS untuk ke panggung dan memulai sesi berikutnya. Lampu panggung menyala menyambut Pak Mustofa W Hasyim — yang tepat pada hari itu berulang tahun ke-69 — naik ke panggung. Momentum yang puitis bukan? Para lampu tahu betul harus bagaimana untuk menyambut beliau.

“Mocopat Syafaat dan Reformasi ‘98” adalah tema sinau bareng bulan ini. Cak Zakki yang mengusulkan tema ini agar kita semua mengerti larah-larahé ana (bagaimana kemudian ada) “sinau bareng” dan betapa situasi politik hari ini sepertinya hendak menjadi akhir apa yang dimulai di 1998: Reformasi.

Mocopat Syafaat memang tidak langsung lahir setelah Reformasi ‘98, kisah bermulanya Mocopat Syafaat sudah sering diulas, terakhir pada 17 Januari 2023 silam. Sebagaimana penuturan Cak Zakki, garis bawah relasi antara Reformasi dan sinau bareng ada di sepenggal fakta bahwa Reformasi ‘98 dinyatakan gagal, para tokoh yang memperjuangkan Reformasi nyatanya mencari untung sendiri, ada pamrih dan niat terselubung, inilah yang membuat Mbah Nun kecewa kemudian memutuskan untuk berkeliling shalawatan.

Ide shalawat keliling dicetuskan oleh Cak Dil. Kemudian dibentuk HAMAS, yakni Himpunan Masyarakat Sholawat atas inisiatif Cak Yus, beranggotakan Cak Yus, dan dikelola sendiri oleh Cak Yus pada mulanya. Hingga kemudian seperti cerita yang pernah dituturkan: pelibatan Mini Kanjeng dan KiaiKanjeng.

Mas Helmi dan Cak Zakki bergantian mengulas muatan “Stop Press Hamas”. Selebaran Hamas masa itu masih disimpan dengan baik. Galih nilai yang dikandung di tulisan Mbah Nun tersebut sangat relevan dengan keadaan hari ini. Dapat kita simak di paragraf penutup:

Jadi, kalau memilih presiden, pertimbangan wong cilik bukan siapa yang paling hebat, melainkan siapa yang paling kecil potensi konfliknya. Kita bukan sedang masuk showroom untuk memilih mobil terbaik, melainkan berada di gudang untuk menentukan mana mobil bekas yang paling tidak membahayakan untuk dikendarai. Sebagaimana selebaran yang kita kutipkan di selebaran ini: pertimbangan setiap tahap pikiran kita adalah meminimalisir benturan, supaya bangsa Indonesia jangan lebih berdarah-darah lagi dan memperpanjang mati konyol.”

Lainnya

Berkubang Kebencian di Rimba Medsos

Berkubang Kebencian di Rimba Medsos

Media sosial punya dua mata pisau. Di satu sisi berguna sebagai medium komunikasi, sedangkan sisi lain berpotensi membuat perpecahan.